Negeri di Persimpangan: Pejabat dan Rakyat, Mau Mendayung Bersama atau Tenggelam Bersama?

Breaking News
- Advertisement -

Oleh: Alvian Khomeini, S.Pd.,M.Si
Sekjen TIDAR Batu Bara

Mudanews.com-Opini | Indonesia hari ini bukan sedang kekurangan sumber daya, melainkan kekurangan kesadaran. Kita memiliki segalanya: kekayaan alam yang melimpah, jumlah penduduk yang besar, bahkan potensi menjadi negara maju. Namun, realitas di lapangan sering membuat kita tertegun—porak-poranda oleh ulah kata-kata dan kebijakan yang gegabah, serta sikap masyarakat yang emosional tanpa arah.

Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita bersikap jika ingin negeri ini pulih? Mari kita berandai-andai.

Andai Saya Pejabat.

Jika saya berada di kursi kekuasaan, saya akan ingat bahwa jabatan bukan tahta untuk berkuasa, melainkan amanah untuk melayani. Satu kata pejabat bisa menumbuhkan harapan, atau justru memicu perpecahan. Karena itu, setiap kalimat harus melalui saringan nurani sebelum keluar dari lisan.

Saya tidak akan menjadikan kebijakan sebagai eksperimen kepentingan pribadi atau kelompok. Saya akan berani mendengar kritik tanpa alergi, karena kritik bukan peluru, melainkan cermin untuk memperbaiki.

Dan jika rakyat marah, saya tidak akan menanggapinya dengan kekerasan, tetapi dengan dialog dan empati. Sebab, sejatinya pejabat bukan penguasa rakyat, melainkan pelayan mereka.

Andai Saya Masyarakat.

Jika saya berdiri sebagai rakyat, saya akan sadar bahwa negara ini bukan hanya milik pejabat, tapi juga milik saya. Memaki pemerintah di media sosial tanpa solusi bukan bentuk cinta tanah air—itu hanya luapan emosi yang tak menghasilkan perubahan.

Saya tidak akan asal percaya berita yang memecah belah, saya akan cerdas memilah informasi. Saya tidak akan ikut arus kebencian, tapi ikut arus kebaikan. Dan jika kebijakan pemerintah keliru, saya akan bersuara dengan santun dan data, bukan dengan amarah yang membakar negeri sendiri.

Karena sejatinya, membangun negara tidak cukup dengan protes, tapi juga partisipasi.

Kesadaran Bersama.

Indonesia tidak akan hancur hanya karena krisis ekonomi, tapi ia bisa runtuh oleh krisis akhlak: pejabat yang serakah, masyarakat yang apatis, keduanya sama-sama berbahaya.

Jika pejabat belajar rendah hati dan rakyat belajar bijak, maka perbedaan akan menjadi kekuatan, bukan alasan perpecahan. Negara ini akan kuat bukan karena siapa presidennya, tetapi karena siapa warganya.

Akhir kata, Bernegara itu ibarat mendayung perahu. Jika pejabat dan rakyat mendayung ke arah yang sama, kita akan sampai ke tujuan. Tapi jika satu mendayung ke kiri, satu ke kanan, kita hanya akan berputar-putar dalam lingkaran masalah.

Sudah saatnya berhenti saling menyalahkan, dan mulai saling menguatkan.

Berita Terkini