Surat Imajiner Affan Kurniawan

Breaking News
- Advertisement -

 

Oleh : Gus Hafidh SKP Muchtar

Mudanews.com OPINI – Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Saya, Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online.
Tubuh saya kini terbujur kaku, sudah kembali kepada Sang Pencipta.

Namun izinkan suara hati saya masih berbicara,
sebelum benar-benar hilang ditelan tanah.

Pada malam Kamis, 28 Agustus 2025, pukul 19.25 WIB, di kawasan Pejompongan – Bendungan Hilir, Jakarta, saya sedang di jalan, di atas motor tua saya.

Saya tidak datang untuk melawan, saya hanya mencari rezeki halal.
Tapi malam itu, roda besi besar yang seharusnya melindungi, justru melindas nyawa saya.

Saya ingin bertanya:

Andai sopir rantis itu sejenak berimajinasi bahwa yang di depannya adalah anaknya sendiri, akankah gas itu tetap diinjak?

Andai aparat di sekitarnya membayangkan bahwa di balik jaket hijau saya ada seorang ibu yang menunggu doa, ada seorang istri yang berharap kepulangan, akankah mereka tega membiarkan roda itu terus menghantam tubuh saya?

Saya bukan siapa-siapa. Tapi darah saya, yang tumpah di jalan itu, kini menjadi cermin.

Cermin bahwa betapa rapuhnya nyawa rakyat kecil di negeri yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan.

Wahai para pemimpin,

jangan biarkan kematian saya hanya jadi trending sesaat. Jangan biarkan tubuh saya hanya jadi angka statistik. Jadikanlah tragedi ini sebagai titik balik: bahwa rakyat kecil pun berharga, bahwa setiap nyawa adalah suci, sebagaimana Allah berfirman:

“Barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.”
(QS Al-Maidah: 32)

Wahai saudara-saudaraku sesama ojol,

jangan biarkan amarah menenggelamkan iman. Jangan biarkan dendam menggantikan doa. Teruslah bekerja dengan jujur, berpegang pada iman, karena dunia ini hanyalah persinggahan. Ingatlah:

“Nang ndonyo mung mampir ngombe, bakal bali nang klanggengan.”
(Di dunia ini kita hanya singgah sebentar, minum sebentar, lalu pulang ke keabadian).

Wahai rakyat Indonesia,

jangan biarkan imajinasi kalian lumpuh. Bayangkan negeri ini berdiri dengan adil, aparat hadir sebagai pelindung, bukan bayangan yang menakutkan. Bayangkan anak-anak kita bisa melihat polisi dengan senyum, bukan trauma. Bayangkan pemimpin menundukkan kepala, sadar bahwa kekuasaan hanyalah amanah, bukan keistimewaan.

Musuh kita bukan sesama manusia. Musuh itu ada di dalam dada: nafsu, keserakahan, dan setan yang menutup hati hingga tega menginjak tubuh saudara sendiri. Jika manusia kembali pada fitrah asalinya—sebagai hamba Allah, sesama makhluk yang saling menolong, dan calon penghuni akhirat—maka tragedi seperti ini tak akan pernah ada.

Saya memang sudah pergi. Tapi biarlah kematian saya menjadi pesan.
Pesan agar bangsa ini segera kembali pada jalan kemanusiaan, jalan kasih sayang, jalan Allah.

Salam perpisahan,

dari Affan Kurniawan, seorang ojol yang kini telah tiada,
namun berharap suaranya tetap hidup dalam imajinasi bangsa.
Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
———————————————————
Refleksi dari Tenaga Penyayang Ummat di Pulau Kecil, Pulau Galang | SPMAA Batam | Jum’at, 29 Agustus 2025
Turut Berduka Cita Untuk Pahlawan Revolusi sejati Ojol Mas Affan Kurniawan surga balasannya, Aaamiin,.
Diam Ditindas Bersuara Dilindas, Manusia Baik Dicabik Cabik, Tikus Dilindungi, Dipaksa Sehat dinegara Yang sedang Sakit***

 

Berita Terkini