Oleh: [Muhammad Ubaidillah Abdi], Presiden Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan
Mudanews.com OPINI = Malam ini, saya berdiri di tengah keramaian, di antara gema zikir dan selawat yang dilantunkan oleh Majelis Maulidurrasul SAW Al-Fitrah Surabaya. Kampus kami merayakan Hari Lahir (Harlah) yang ke-2. Sebagai Presiden Mahasiswa, tentu ada rasa syukur dan bangga yang membuncah di dalam dada. Saya bersyukur atas eksistensi almamater ini, sebuah rumah harapan bagi banyak anak muda di Pasuruan.
Namun, di balik senyum dan ucapan selamat, ada pergulatan batin yang harus saya sampaikan dengan jujur. Syukur saya tidaklah utuh, ia bercampur dengan keprihatinan yang mendalam—sebuah duka yang lahir dari rasa cinta dan tanggung jawab yang saya emban.
Selama hampir satu tahun saya memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa, saya menjadi saksi langsung atas luka-luka demokrasi dan transparansi yang belum kunjung sembuh di rumah kita ini. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana janji-janji birokrasi menjadi sesuatu yang begitu sulit untuk ditagih. Maka, ijinkan saya bertanya pada diri saya sendiri dan kita semua: perayaan macam apa yang bisa kita nikmati dengan sepenuh hati, jika pada saat yang sama, hak-hak fundamental organisasi mahasiswa masih menggantung tanpa kepastian, menyisakan hanya janji yang terasa basi?
Bagi saya pribadi, ini bukan sekadar masalah administrasi. Ini adalah soal marwah komitmen dan kepercayaan. Ini adalah ironi yang menyakitkan, dan nurani saya tidak sampai hati untuk merayakannya tanpa menyuarakan kegelisahan ini.
Sebagian orang mungkin menganggap ini tidak pantas diutarakan di hari bahagia. Tapi saya percaya sebaliknya. Duka dan kritik ini lahir bukan dari kebencian, melainkan dari rasa cinta yang begitu besar pada almamater ini. Saya tidak ingin UNU Pasuruan tumbuh menjadi menara gading yang megah di luar, namun rapuh di dalam.
Saya memegang teguh sebuah prinsip: berkabung atas sebuah kondisi bukanlah tanda bahwa kita telah menyerah, dan turut merayakan kemeriahan bukanlah alasan untuk menutup mata terhadap masalah.
Maka, sebagai Presiden Mahasiswa, saya memaknai perayaan Harlah ini secara berbeda. Perayaan bagi saya adalah sebuah mimbar untuk memanjatkan doa paling tulus: semoga para pemangku kebijakan di universitas ini dibukakan hatinya untuk segera berbenah. Semoga setiap sistem yang berbelit dan tidak adil segera diperbaiki.
Dan yang terpenting, perayaan ini adalah peneguhan kembali janji saya. Janji untuk terus berada di garda terdepan, mengawal setiap kebijakan, dan memperjuangkan hak-hak mahasiswa. Perayaan saya adalah komitmen tanpa henti untuk memastikan UNU Pasuruan tumbuh menjadi kampus yang benar-benar sehat, demokratis, dan menjadi kebanggaan kita semua, bukan hanya dalam seremoni, tetapi juga dalam substansi.
Selamat Hari Lahir ke-2, Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan. Perjuangan kami adalah kado kami untukmu.***