Ketika Kepercayaan Tergilas di Jalanan

Breaking News
- Advertisement -

Oleh: Alvian Khomeini, S.Pd., M.Si.
Sekjen PC TIDAR Batu Bara

Mudanews.com – OPINI | Ada satu hal yang tidak bisa dibeli oleh lembaga mana pun: kepercayaan. Sekali rusak, ia tak mudah kembali. Dan hari-hari ini, kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum—khususnya polisi—tengah berada di titik yang mengkhawatirkan.

Berbagai peristiwa yang mencoreng seragam cokelat bukan lagi cerita baru. Dari kasus besar yang menghantam institusi hingga perilaku oknum di lapangan yang merendahkan nilai kemanusiaan, semuanya ibarat karat yang perlahan melapukkan besi kepercayaan. Namun, satu kejadian baru-baru ini membuat luka itu terasa semakin dalam: insiden pendemo ojek online yang dilindas kendaraan taktis Baracuda Brimob milik Polri di Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis malam (28/8/2025).

Bayangkan. Orang-orang yang turun ke jalan menyuarakan aspirasi kini harus pulang tidak hanya dengan rasa kecewa, tetapi juga trauma—bahkan ada yang tak pulang sama sekali. Kita boleh berdebat soal siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi satu hal yang tak bisa diperdebatkan adalah: nyawa manusia jauh lebih berharga daripada ego kekuasaan.

Di tengah derasnya arus informasi, publik tak lagi diam. Video, foto, dan cerita berseliweran di media sosial. Dan yang paling menyesakkan, narasi yang muncul bukan tentang ketegasan aparat melindungi rakyat, melainkan tentang kekerasan yang menginjak harga diri demokrasi.

Bukankah polisi adalah pengayom? Bukankah tugas utamanya melindungi, bukan melukai? Pertanyaan-pertanyaan ini kini menggantung di udara, menunggu jawaban yang sering kali tak kunjung datang.

Jika benar ada kesalahan prosedur, harus ada kejujuran untuk mengakui. Jika benar ada arogansi kekuasaan, harus ada keberanian untuk menindaknya. Karena diam dan membela diri hanya akan menambah api yang membakar habis sisa kepercayaan yang ada.

Kepercayaan publik bukan soal jargon atau slogan. Ia soal tindakan. Ia soal rasa aman yang seharusnya dirasakan setiap warga negara saat melihat polisi, bukan rasa takut. Jika hari ini kepercayaan itu tergilas di jalanan, maka siapa yang akan memulihkannya?

Jawabannya hanya satu: polisi itu sendiri. Dengan introspeksi, dengan keberanian berubah, dan dengan kesadaran bahwa seragam cokelat bukan simbol kekuasaan, melainkan amanah untuk menjaga martabat manusia.

Dan kita, masyarakat, hanya bisa berharap—semoga tragedi ini menjadi alarm keras bahwa kekerasan bukan solusi, bahwa keberpihakan pada rakyat bukan sekadar kata-kata, dan bahwa demokrasi tidak boleh mati di bawah roda Baracuda.

Berita Terkini