Rindu Sang Mutiara

Dr. H. Hasbi Indra, MA - Dosen Pascasarjana UIKA Bogor

MUDANEWS.COM – Bangsa sangat merindukan kapan sang mutiara hadir. Akankah datang sang mutiara itu? Dapatkah mengantarkan anak bangsa hidup bermakna dan bangsa meraih kemajuan? Tapi kapankah itu terjadi?

Suatu bangsa perlu merdeka karena mengenal adat martabat yang harus dijaga. Bangsa ada martabat, umat pun ada martabat, demikian pula manusianya. Maka untuk itu manusia perlu menjalani pendidikan hingga tingkat tinggi guna mempertahankan martabat itu.

Apakah bermartabat melihat bangsa ini sangat bergantung pada hutang untuk eksistensinya, dan melihat ada jutaan pengangguran serta melihat ada jutaan yang masih miskin? Inikah potret bangsa yang sudah merdeka, terdidik dan teradabkan? Kondisi saat ini ada ratusan juta manusia yang tidak menginginkan, kecuali segelintir manusia serakah dan tidak memiliki hati nurani.

Tegak Meraih Martabat

Bila masih percaya pada sistem demokrasi ala bebas ini, maka seriuslah menata penyakit-penyakitnya, misalnya mengapa demokrasi ini hanya sebagai jembatan untuk memberi keuntungan pada oligarki, money politik yang semakin menggurita, wasit jadi pemain, dan penyakit lainnya. Jangan lagi ada ratusan jiwa manusia mati yang tidak jelas penyebabnya. Semoga jutaan mulut terus berdoa dan berharap serta ikhtiar agar bangsa ini benar-benar tegak meraih martabat.

Di bangsa ini sudah banyak yang terdidik tinggi, saatnya meraih martabat yang seharusnya yang nantinya diantarkan oleh sang mutiara seperti negara-negara lain. Dia manusia biasa tapi relatif tingkat keberpihakannya pada rakyat kecil sangat menggembirakan, dan mungkin derajad bangsa akan terangkat dan dihormati oleh bangsa lain ke depan karena dirinya.

Erdogan misalnya relatif bagaikan permata bangsanya sungguh jalan terjal dihadapi di bangsanya yang sekuler akut, agak berbeda dengan negeri +62, ia muncul melalui proses yang panjang dan ia menunjukkan pembeda dari penguasa-penguasa sebelumnya.

Di bangsa ini eranya sudah ada yang disebut era reformasi, sayangnya baru era, baru masa, baru kulit belum isi, isi itu sebuah harapan. Ternyata masih memerlukan sosok yang di dalam tulisan ini disebut sang mutiara semoga tidaklah berlebihan, hanyalah kata sebagai asa atau doa yang selanjutnya perlu ikhtiar dari potensi-potensi anak bangsa.

Setelah reformasi 98 seolah akan terbit titik terang bagi bangsa Indonesia. Diyakini akan ditemukan sang mutiara melalui proses seleksi demokrasi melalui pemilu. Puluhan trilyun untuk itu setiap 5 tahun digunakan, dana sebanyak itu dana milik ratusan juta rakyat, bukan dana sekelompok kecil orang yang selalui menuai keuntungan dari era dulu hingga ke era kini, rakyat hingga kini selalu kalah padahal mereka yang memberi kebanggaan sebagai bangsa yang demokratis.

Puluhan trilyun dana itu seharusnya dan selayaknya memunculkan sang mutiara melalui demokrasi ala bebas ini, malah sebaliknya demokrasi hanya seperti pesta berbiaya mahal yang lebih banyak disesali.

Andai sang mutiara itu ada, ia layak dihadirkan yang tak membiarkan nasib bangsa yang rakyatnya kini banyak berduka. Mutiara diyakini akan selalu ada, ia penerus sang nabi, penerus manusia amanah dan fathonah agar kembali ke keseimbangan, hidup ada hitam dan ada putih, ada buruk dan ada baik, maka yang putih dan baik diperlukan dan akan hadir.

Semoga saatnya tak lama di tahun-tahun mendatang sang mutiara hadir di tengah bangsa ini. Semoga dari gelap terbitlah terang dengan doa dan ikhtiar ulama, pendeta dan rakyat Indonesia.

Ratusan juta manusia Indonesia tetap optimis dengan doa dan ikhtiar akan lahir sang mutiara itu dengan izin-Nya. Dia tak membiarkan bangsa ini terus dalam dekapan dan kendali manusia-manusia yang tak perduli dengan nasib rakyat dan dengan kehormatan bangsa yang semestinya.

Hina rasanya melihat bangsa yang konon kaya SDA namun rakyatnya banyak ditimpa kesulitan hidup. Hina rasanya sudah jutaan orang terpelajar di negei ini tak berdaya melihat kondisi bangsanya, bangsa bukan tambah maju tapi malah tambah terpuruk dengan beban hutang 6000 trilyun lebih, entah menjadi berapa lagi di tahun-tahun mendatang, 7 atau 10.000 trilyunkah? Sinyal terang SOS agar hutang dihentikan, kecuali demi untuk perut rakyat bukan perut penguasa dan pengusaha.

Sedih rasanya telah banyak kaum terpelajar demi uang ada yang menjadi pengelola survey hanya untuk dirinya atau menjadi buzzer yang dibayar untuk menutupi kenyataan pahit yang ada. Darah yang mengalir di tubuhnya sudah kotor tak lagi bisa membedakan ini baik dan ini tidak baik. Hidup lebih mulia untuk mereka yang mengayuh becak dengan keringat yang membasahi tubuhnya dengan peluh daripada mempermainkan kondisi psikologis manusia dengan angka-angka yang membawa bangsa ini tak lebih baik, malah ke bibir jurang. Belum lagi media massa yang hidupnya dari rakyat, namun, hanya bermanfaat untuk pemiliknya.

Objektiflah wahai sang pemilik dan pengelolanya. Luruslah media massa hidupmu dari rakyat, tinggalkanlah lembaga survey mu tinggalkanlah profesi buzzermu, bangsa ini memanggill jiwa mu yang dulu putih bersih kini berubah kotor karena pengabdi dolar dan rupiah.

Ada pula manusia hidup di partai hanya untuk partainya begitu pula di ormas hanya untuk ormasnya selimut-selimut itu hanya menyelimuti untuk dirinya, sungguh egois diri mu membiarkan ironi demi ironi terjadi di negeri ini.

Nusantara 3,5 abad silam pernah menangis apakah tangisan itu akan diteruskan?

Berharap hadirnya sang mutiara hadir untuk Indonesia, jadilah. bagian yang menghadirkannya. Berdoa, ikhtiyar sebagai upaya untuk menyelamatkan bangsamu agar kembali bermartabat seperti saat dimerdekakan.

Sang mutiara itu dikata dan perbuatannya sama. Biarlah yang pernah dianggap sang mutiara semu berlalu agar menjadi catatan untuk pentingnya menghadirkan mutiara rakyat sesungguhnya. Temukan dia yang menyejukkan dan memberi harapan pada rakyat kebanyakan. Emosinya cerdas, intelegensia dan spiritualnya cerdas. Andai dia harus dibeli dengan sejumlah uang di saat bangsa yang sangat diwarnai oleh materialism, semoga tidak. Ini hanya membutuhkan kesadaran dari seluruh rakyat dari mereka yang didengar suaranya oleh rakyat.

Sang mutiara memimpin bukan seorang pencari legasi dengan gedung yang menjulang tinggi dan dengan jalan tanpa hambatan tapi sangat membebani rakyat. Sang mitiara itu bukan bagaikan orang suci dan penampilannya yang merakyat tapi hati dan fikirannya tidak demi dirakyat bahkan tidak untuk mereka yang di gubuk dan kolong jembatan.

Dia telah bekerja dan mendapatkan pengakuan atas kerjanya dari dunia internasional. Pengakuan mereka berbasis nilai-nilai akademik, objektif, bukan karena penampilan fisik yang telah disebut. Tapi berdasarkan apa yang dilakukannya pada rakyatnya. Indonesia dengan segudang orang-orang terdidik masihkah perlu belajar untuk hal itu?

Bagi anak bangsa yang terdidik dan tercerahkan apa yang dilakukannya tidak sulit diterima untuk kepentingan bangsa dan rakyat. Itulah mutiara yang telah dan akan hadir untuk terus dihadirkan.

Di negeri ini telah lama cukup banyak mutiara yang tidak dilirik oleh bangsa termasuk oleh kebanyakan umat, penyebabnya mungkin miskin informasi, mungkin masih ada pandangan primordialistik bisa pula karena nilai pragmatis ekonomi. Di bangsa ini banyak mutiara yang terpaksa meninggalkan negeri mereka berkhidmat di negeri orang, mereka ahli energi, IT dan lainnya. Visi asing mewarnai Indonesia yang tidak ingin bangsa ini bangkit dan menjadi maju.

Alkisah di negeri ini tanpa ungkit masa lalu hanya menjadi renungan, ada mutiara yang tak dilihat post reformasi, prestasinya sudah diukirnya rupiah yang sebelumnya di atas 15.000 atas karyanya berada dibawah 10.000. Puluhan tahun ia mengabdi di negerinya ia sudah tau apa yang harus dilakukan untuk bangsanya, ia tak pernah berkata kontroversial tentang apa pun, ia tak pernah melakukan korupsi di masa pengabdiannya. Rupanya sekelas dia seorang ilmuan dan teknolog, yang membayangkan bangsa ini sudah lepas landas dengan visinya mandiri di bidang dirgantara.

Sayangnya orang-orang yang dianggap terdidik di parlemen tidak berjiwa negarawan malah lebih menonjol jiwa petualang dan menutup mata tentang sosok itu. Karenanya prestasi yang diukirnya kalah oleh bayang-bayang citarasa asing yang tidak berpihak ke negeri ini, kini kondisi negeri menggambarkan ke takpastian.

Selayaknya di bangsa ini sang mutiara itu dihadirkan. Jangan sampai terulang di bangsa ini hanya melihat fantasi yang dibentuk oleh media massa dan media survey untuk nasib bangsa ini ke depan. Media massa dan lembaga survey cenderung pragmatis karena mereka butuh eksistensi diri untuk hidup, dan mereka mnikmati itu tapi rakyat mengalami nasib sebaliknya dan kehidupannya semakin apes.

Umat jangan terus menjadi apes, seharusnya beda bila disematkan ke mereka yang bersimbol islam apakah itu parpol atau ormas, jauh dari pertimbangan pragmatisme atau materialisme. Bila ini dapat dipahami saatnya melihat mutiara itu dan menyambilnya untuk bangsa.

Sang mutiara bisa dikukur. Sementara fantasi yang dibuat umumnya media massa dan lembaga survey yang kadang berbentuk angka-angka hanya fantasi. Sementara pengukuran objektif pengukuran dari pihak luar seperti pihak internasional, pengukurannya objektif dan valid yang dapat dipertimbangkan.

Bijak belajar dari masa lalu di dekade itu sang mutiara itu ada tapi tak lama menjadi kemudi utama di negeri ini, mungkin penyakit priomordialistik dan pragmatis penyebabnya. Ia tak kurang potensinya di dunia akademik mumpuni dia bagaikan telah terbang tinggi diakui dunia. Kebanggaan akan dirasakan Indonesia, bila dia diberi tempat, sayangnya moment itu dilewatkan. Ke depan jangan lagi ada momen dilewatkan.

Tidak Demokratis

Bangsa yang besar dan bangsa yang sudah terdididik, kerja profesional dan terukur yang diutamakan. Ada kecenderungan, pengukuran kinerja tidak kualified terkesan rasis, diskriminatif, dan tidak demokratis, ini tampaknya bukan kehendak rakyat tetapi kehendak “makhluk alien” yang diamini bahkan oleh orang-orang terpelajar.

Bagaimana mungkin makhluk alien bisa mewarnai negeri yang sudah merdeka puluhan tahun ini. Alien dalam suatu versi makhluk yang hanya pakar untuk menghitung untung rugi, dia tak punya nasionslisme, dan tak peduli dan tak memiliki urusan dengan arti kemerdekaan dan cita-cita konstitusi.

Bangsa ini harus dikembalikan pada ukuran rasional, kualitatif, objektif, dan profesional, kalau tidak semakin jauh bangsa ini dipandu oleh makhluk alien bukan dipandu oleh konstitusinya dan rakyatnya.

Mutiara itu sangat berharga bagi suatu bangsa, Jerman telah menemukannya, Rusia telah menemukannya, Turki dan juga yang lain telah menemukannya, bagaimana dengan Indonesia?

Buka mata dan hati mungkin telah ada mutiara di tengah bangsa ia yang harus dijaga ditempatkan untuk memandu bangsa ini keluar dari ketakpastian menuju Indonesia yang bangkit rakyatnya sejahtera dan bermartabat di mata dunia internasional.

Sebagai bangsa yang beragama asa atau doa oleh umat dengan jutaan zikirnya dan ikhtiarnya, begitu pula seluruh rakyat yang jumlahnya ratusan juta di negeri ini. Ini diperlukan di tengah pembawa amanah yang tampaknya asyik dengan dirinya, antara perkataan dan perbuatan berbeda. Semoga sang mutiara yang sesungguhnya dihadirkan yang memimpin dengan hati, dan fikirannya untuk rakyat, jayalah Indonesia dengan kehadirannya.

Untuk itu, diperlukan bukan saja mendoakan tapi juga mengikhtiarkannya. Hadirnya untuk memberi kecerahan bagi bangsa ini, agar bangkit demi harga dirinya, aamiin ya Allah. Semoga ini bagian dari asa dan ikhtiar untuk bangsa yang seharusnya bermartabat di mata dunia. Wallahua’lam.

Oleh : Dr. H. Hasbi Indra, MA – Dosen Pascasarjana UIKA Bogor