Bukan Nadiem Makarim, Dokter Hewan yang Selamatkan Siswi SMA Bengkulu

Nadiem Makarim
dok istimewa

MUDANEWS.COM – Mantap. Bukan Nadiem Makarim yang menyelamatkan nasib MS. Siswi SMA N 1 Bengkulu Tengah yang dianggap menghina Palestina diperhatikan masa depannya oleh Dokter Hewan. Justru dokter hewan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang meminta sekolah tidak memecatnya.

Dokter Hewan ini memiliki perikemanusiaan yang melebihi Nadiem Makarim. Dia ngumpet melihat kelakuan para guru, para kadal gurun di lingkungan sekolah, Dinas Pendidikan Bengkulu Tengah, Provinsi, dan Kementerian Pendidikan di Jakarta.

Betapa kejam perlakuan para pendidik. Coba perhatikan foto yang beredar luas. MS didampingi oleh kedua orang tuanya, perwakilan Polisi, dan Kepala Sekolah dan Guru. MS disuruh memampangkan Pernyataan Bermaterei. Isinya sukarela mundur dari Sekolah.

Tindakan kejam para pendidik yang tidak memahami sisi psikologis siswi MS. Lebih gila lagi, Kepala Sekolah SMAN 1 memaksa Ibu MS untuk memegang kertas bergambar Bendera Palestina dan Bendera Indonesia.

Ini pasti tindakan yang dilakukan oleh kelompok kadrun. SMAN 1 Bengkulu Tengah sudah menjadi seperti agen kekuatan proxy kalangan kaum radikal. Hobinya melakukan persekusi, main surat pernyataan, MS dan keuarganya difoto. Dia dan kedua orang tuanya dipermalukan.

Ini semata cara kaum radikal penyembah kencing unta menunjukkan kekuatan mereka, kepada kelompok yang selama ini menjadi panutan mereka: ada HTI, teroris FPI, ISIS, atau pun Hamas dan kelompok ideolog Ikhwanul Muslimin, dan Wahabi.

Di tengah kekuatan kaum radikal yang melakukan tindakan semena-mena tersebut, Dokter Hewan di Bengkulu ini melakan perlawanan. Dia meminta MS tetap bersekolah di SMA N 1 Bengkulu. Tidak dikeluarkan. Tindakan dokter hewan ini patut diacungi jempol.

Dapat dipastikan karena dokter hewan ini tidak memiliki otoritas di dunia pendidikan, maka yang dia lakukan pun semata adalah himbauan kemanusiaan – dari dokter hewan. Padahal di Bengkulu, dan dunia pendidikan, banyak dokter, bahkan doktor dari berbagai bidang.

Namun, hanya dokter hewan yang justru kecerdasan kemanusiaannya muncul. Para dokter untuk manusia tidak tergerak.

Maka, dokter hewan ini bersikap atas keputusan SMA N 1 Bengkulu Tengah yang memecat MS, mengeluarkannya dari sekolah. Dalihnya jelas dalih pendusta dan pembohong: dikembalikan ke orang tuanya, secara suka-rela, mengundurkan diri.

Tentu para pendidik, guru, kepala sekolah di SMA N 1 Bengkulu Tengah, Dinas Pendidikan Kabupaten, Provinsi, dan Kemendikbud pasti paham teori pendidikan. Namun sayangnya mereka tidak punya penalaran lurus.

Keputusan memecat MS didasari gelapnya dan kekuatan ideologi yang membelenggu mereka. Kekuatan kuasa kegelapan yang menutup nurani dan nalar waras mereka.

Alhasil, MS dikeluarkan dengan dipermalukan beserta orang tuanya. Betapa beban yang dialami oleh keluarga sederhana ini. Meskipun dalam hati dan nurani mereka berontak. Hanya yang menghina Palestina yang ditangkap, dipersekusi, dan dia dikeluarkan dari sekolah.

Sementara penghina Israel, tidak ditangkap. MS dan kedua orang tuanya tidak punya hak jawab. Karena tidak memiliki kekuatan. Orang lemah. Bukan penganut paham khilafah, HTI, ISIS, atau pun IM. Muncullah sang pahlawan Dokter Hewan.

Maka, sikap Dokter Hewan di Bengkulu itu bagaikan oase di padang gurun penuh kadal gurun. Baginya, sekolah tidak seharusnya serta-merta menghilangkan hak MS sebagai warga negara untuk melanjutkan pendidikan.

Kita layak dukung keputusan Rohidin Mersyah. Keberaniannya untuk bersikap layak mendapat penghargan. Publik musti mengawal perintah dan keprihatinan Gubernur Bengkulu itu.

Kepala Sekolah dan SMA N 1 Bengkulu hamper pasti akan melakukan perlawanan dengan berbagai dalih (baca: mudah-mudahan saya salah). Karena pemecatan siswi MS ini simbol kekuatan kalangan kadal gurun, yang bengkok nalar nasionalismenya.

Sementara, jika siswi MS tidak bersekolah, yang akan terjadi adalah noktah besar bagi Bos Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

Sekali lagi kita layak dukung dokter hewan Rohidin Mersyah yang masih memiliki jiwa nasionalisme di tengah padang gurun kekuasaan dan kekuatan kaum radikal. Semoga bukan hanya isapan jempol Rohidin Mersyah, dan akhirnya SMA N 1 tetap menolak menerima kembali MS bersekolah di sana. Kita lihat dan amati kelakuan mereka!

Oleh: Ninoy Karundeng