Bela Teroris Munarman Kegilaan Antek Barat Usman Hamid

Bela Teroris Munarman
Dok istimewa

MUDANEWS.COM – Usman Hamid menyebut Polisi sewenang-wenang menangkap teroris Munarman. Dia menuduh Polisi tidak menghargai nilai-nilai HAM. Tuduhan ini sama dengan Komnas HAM yang menuduh Polisi melakukan tindakan berlebihan melanggar hukum. Demokrat SBY pun sama, yakni nyinyir terhadap Polisi.

Usman juga menentang teroris OPM dilabeli teroris oleh Presiden Jokowi. Juga dia pembela Veronica Koman yang membakar kebencian di Papua. Kacau otak antek Barat ini.

Publik, apalagi orang nyinyir seperti Usman Hamid, tidak tahu. Bahwa Polisi memiliki bukan hanya dua alat bukti, untuk mencokok teroris Munarman. Segudang bukti telah dipegang oleh polisi. Bahwa Munarman ini adalah gembong teroris ISIS di Indonesia. Yang menggunakan FPI sebagai kedok gerakan terorisme.

Usman Hamid harus tahu. Munarman juga menjadikan FPI sebagai rumah teroris di Asia Tenggara. Dia tersangkut Bom Makassar, karena ada perintahnya sebagai Panglima Laskar Khusus FPI – yang dilatih secara militer untuk melakukan teror.

Enam orang teroris FPI yang tewas didor petugas di KM 50 Karawang adalah anak buah teroris Munarman. Belum lagi masalah serbuk bahan peledak dari markas teroris Petamburan. Juga kesaksian baiat ISIS oleh Munarman yang disampaikan oleh para teroris yang tertangkap terkait Bom Makassar.

Bagi orang waras, tindakan Usman Hamid, Komnas HAM, dan Demokrat SBY, adalah hal penuh kegilaan. Mereka dibutakan oleh kepentingan mereka sendiri. Usman Hamid hanyalah kacung bagi pemberi duit: Amnesty International.

Hanya orang bahlul bin sengkleh otak yang menyebut teroris Munarman tidak membahayakan. Teroris FPI ini adalah orang yang sangat memiliki kemampuan mengenali orang. Teroris Munarman kalau tidak dihukum mati, dia akan melakukan balas dendam terhadap aparat yang dia lihat: Densus 88.

Usman Hamid jangan mengajari polisi. Maka mata teroris Munarman harus ditutup, kecuali pas sama pelacur Lily Sofia. Usman Hamid tak perlu memertontonkan kedunguan hanya demi duit dari Barat.

Usman Hamid tidak usah bicara masalah HAM. Usman Hamid buta soal HAM karena selain bukan pembela HAM, dia hanyalah kacung Barat. Dia ditugaskan Barat untuk menjelek-jelekkan Indonesia. Maka tidak heran dia membela teroris Munarman.

Usman Hamid tidak pernah sekali pun mengecam pembunuhan Cikeusik yang dilakukan oleh Munarman. Dia tidak pernah mengecam pembunuhan oleh teroris di Mako Brimob. Dia tidak pernah sekali pun mengecam aksi teroris di Indonesia. Dia beda tipis dengan Din Syamsuddin, Amien Rais, Hidayat Nur Wahid, Fadli Zon, dan teroris Munarman.

Usman Hamid juga buta hati, tertutup oleh dollar dari Barat. Jangankan teroris Munarman tidak memakai sandal. Bahkan ketika Densus 88 langsung menembak mati teroris Munarman pun sangat sahih. Sah.

Terkait penangkapan Munarman, didor sampai tewas di rumahnya pun tidak menjadi masalah sama sekali. Pun tidak melanggar HAM. Apalagi kalau cuma gegara kaki teroris Munarman yang biasa dipakai melangkah ke hotel-hotel bersama Lily Sofia terluka kena paku. Tidak masalah sama sekali.

Mid, Polisi akan tetap tegak lurus. Polisi akan menindak tegas teroris. Publik sangat mendukung Polisi membunuh 6 teroris FPI karena aparat terancam. Usman juga harus paham. Teroris Munarman punya riwayat memiliki senjata api.

Dan, Munarman adalah orang yang mengatur dan memerintahkan tindakan terorisme bagi para anggota teroris FPI – melalui pelatihan dan baiat ISIS. Hingga Munarman sangat layak ditutup matanya, diborgol, dan digelandang tanpa sandal.

Bahkan kalau melawan teroris Munarman bisa dibunuh. Itulah gunanya senjata lengkap yang dibawa oleh pasukan Densus 88. Bukan alat untuk mengemis uang Barat dan alat teror. Tapi alat untuk melindungi diri pasukan Densus 88, sekaligus melindungi NKRI dan Pancasila.

Teroris tidak mengenal HAM, dan melanggar hukum, wahai Usman Hamid! Jadi, jangan nyinyir terhadap pemberantasan terorisme di Indonesia. Termasuk Papua. Apalagi ngomong HAM yang Usman Hamid juga tidak tahu.

Mending urusin Amnesty International di Amerika sono, sama Tuan-tuan Barat. Daripada mengajari Polisi soal HAM yang menyesatkan publik. Dan, Indonesia tidak butuh provokator nyinyir seperti Usman Hamid.

Penulis: Ninoy Karundeng