Munarman Ditangkap, Berkah Ramadhan yang Banyak Disyukuri

Munarman Ditangkap
Munarman ditangkap Densus 88 (Foto : Net)

MUDANEWS.COM – Sungguh berita yang mengagetkan di tengah umat muslim melepas rasa dahaga setelah seharian berpuasa. Kaget? Mungkin lebih tepatnya surprise kali ya? Sesuatu yang sudah ditunggu lama namun baru sekarang terlaksana. Terlambat? Ya, nggak juga. Jika tiba waktunya, maka terjadilah. Menangkap seseorang di era keterbukaan ini sudah jauh berbeda ketimbang masa Orba.

Dulu, tidak lebih dari 24 jam, orang yang dianggap sebagai musuh negara, langsung diciduk, kadang tanpa berita. Kadang pula tidak diketahui keberadaan, bahkan publik tahu setelah orang tersebut mati secara misterius, tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Sadis. Meski demikian, banyak warga masyarakat yang menghendaki cara-cara tangan besi seperti itu dipraktikkan lagi era pemerintahan Jokowi. Jebakan betmen?

Ya, bisa jadi jebakan Betmen atau sekadar rasa resah dan gelisah warga saja yang merasa geram dengan lagak koboi jalanan. Cara dan sistem otoriter sudah tidak pas di masa sekarang yang menjunjung tinggi demokratisasi. Gaya seperti itu hanya akan mengarah kepada huru-hara dan pada ujungnya impeachment presiden. Hal ini tentu dipahami betul oleh presiden Jokowi (meski kadang pendukungnya gak mau paham).

Kembali ke topik. Tepat di penghujung hari ke 15 bulan Ramadhan, Munarman, tokoh FPI, digelandang Densus 88 dari sebuah rumah di Tangerang Selatan. Munarman yang selama ini terus bergaya galak, namun saat dicokok aparat ke dalam mobil tahanan, dia hanya pasrah. Bahkan ia tidak diberi kesempatan mengenakan sendal kesayangannya (mau pra-peradilan gara-gara sendal?).

Ia benar-benar tidak melawan dan hanya mengoceh saja. Netizen melihat video penangkapan Munarman malah mengatakan bahwa lebih berani laskar khusus pengawal Rizieq yang mati tertembak di Tol karena melawan petugas, ketimbang dirinya. “Munarman tak lebih pemimpin laskar ayam sayur,” ujar seorang warganet.

Mungkin jadi pertimbangan baginya, bahwa mati syahid dan surga sebagai imbalan, ditemani 72 bidadari yang ia sampaikan selama ini hanya omong kosong belaka. Ia masih ingin hidup, makanya ia tidak melakukan perlawanan bersenjata ke aparat. Benar kan? Mari berlogika, jika benar mati saat melawan pemerintah yang thogut itu adalah syahid dan surga imbalannya, mengapa Munarman memilih pasrah ditangkap?

Penangkapan Munarman tepat sekali di akhir hari 15 Ramadhan dan masuk hari 16. Inilah yang disebut sebagai berkah Ramadhan bagi seluruh umat. Seperti sudah menjadi petunjukNya, doa di hari 16 Ramadhan pun mengatakan sesuatu yang berkaitan: Allâhumma waffiqnî fîhi limuwâfaqatil abrâr wa jannibnî fîhi murafaqatal asyrâr wa âwinî fîhi birahmatika ilâ dâril qarâri bîlâhiyyatika yâ ilâhal ‘âlamîn.

Artinya : Ya Allah, anugrahilah kepadaku di bulan ini agar supaya bisa bergaul dengan orang-orang baik, dan jauhkanlah aku dari bergaul dengan orang-orang jahat. Berilah aku perlindungan di bulan ini dengan rahmat-Mu sampai ke alam Akhirat. Demi keesaan-Mu wahai Tuhan semesta Alam. Doa ini sangat tepat agar kita terhindar dari orang-orang jahat dan termasuk dalam golongan orang-orang mukmin.

Terakhir, sudah sering saya ungkapkan. Jika ingin menjadi pengikut Jokowi, maka syarat utama harus sabar dan tenang. Hal ini karena orang yang kita ikuti berwatak demikian. Jika berbeda, ya sebaiknya jangan menjadi pengikutnya. Sering sekali relawan merasa tidak sabar dan tidak tenang atas semua kebijakan dan sikap Jokowi.

Meski kerap terlihat lamban dan tidak ada respon, namun Jokowi sesungguhnya selalu penuh perhitungan. Dulu banyak pendukung yang menyangsikan bahkan menuduh Jokowi lemah dan penakut. Lihat apa yang sudah terjadi sekarang? HTI, FPI, Rizieq dan kini Munarman, semua diselesaikan satu persatu. Ini juga menjadi “pesan” kepada yang lain agar jangan main-main sama Jokowi. Demikian.

Oleh : Agung Wibawanto