Kebangkitan Ilahiyah, Solusi Sekaligus Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Kebangkitan Ilahiyah, Solusi Sekaligus Pencegahan Radikalisme dan Terorisme
Aba Farhan, Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia TQN Cermin Hati, Cimaung, Purwakarta.

MUDANEWS.COM – Berbagai pihak ramai-ramai melakukan penyangkalan terkait identitas agama yang dimiliki oleh para terduga kasus terorisme. Padahal, fakta menunjukan bahwa mereka memang penganut sebuah ajaran agama. Hanya saja, secara jelas mereka telah melakukan penyimpangan terhadap ajaran agama anutannya sendiri. Oleh sebab, tidak ada satupun ajaran agama yang mengajarkan tindakan kekerasan sebagai poros gerakan.

Agama tidak hanya melarang penganutnya melakukan kekerasan fisik. Akan tetapi agama juga melarang untuk melakukan kekerasan verbal bahkan kekerasan jiwa. Sehingga kebutuhan primer sesungguhnya dari seorang penganut agama adalah kelembutan jiwa. Oleh sebab, jiwa merupakan sumber dari setiap gerakan verbal melalui lisan, maupun gerakan fisik anggota tubuh manusia.

Karena itulah, jika ingin memperbaiki kata dan perbuatan, seorang penganut agama terlebih dahulu harus memperbaiki bagian terdalam dari dirinya sendiri yakni jiwa. Hal ini sejalan dengan tujuan beragama itu sendiri yakni penciptaan kemuliaan akhlak. Sebuah misi kenabian yang diemban oleh Rasulullah saw dan para ulama pewarisnya. Tanpa akhlak, mustahil perjuangan agama akan menemukan titik keberhasilan.

Berangkat dari premis ini maka tidaklah mungkin agama mampu menghiasi relung jiwa umat dan menjadi solusi kehidupan, jika penganut agama masih bertindak radikal bahkan melancarkan aksi teror. Seharusnya, jika seseorang mengakui bahwa dirinya adalah penganut agama, maka bagian pertama yang harus diurus adalah jiwa.

Sementara, promosi agama yang hari ini ditekankan kepada umat oleh para tokoh agama selalu menghadirkan agama dalam konteks simbolik. Seolah agama adalah pakaian, agama adalah gerakan ritual, agama adalah simbol bahasa. Padahal agama sesungguhnya adalah karakter dan poros untuk penciptaan karakter itu adalah jiwa. Maka beragama sebenarnya adalah merawat jiwa dari segenap anasir negatif kehidupan.

Jika manusia harus tersifati oleh sifat ilahiyah. Sebuah inti sifat yang tersebar dalam 99 asmaul husna atau nama-nama yang baik milik Allah swt. Sifat utama yang sangat Allah swt sukai adalah Kasih dan Sayang. Bahasa arab mengenal istilah itu dengan Rahman dan Rahim. Sehingga, menjadi mudah saja bagi kita sekalian untuk melakukan identifikasi.

Saat sifat ilahiyah itu bangkit dan menjadi pemimpin bagi jiwa umat, maka relung hati umat akan dihiasi kasih sayang. Ucapan umat akan dihiasi kasih sayang dan perbuatan umat akan dihiasi oleh kasih sayang. Secara tidak langsung, ucapan dan perbuatan yang menyakiti hati bahkan fisik orang lain akan sirna dengan sendirinya. Oleh sebab, umat tidak lagi bertindak atas nama kebencian akan tetapi sudah bertindak atas nama Kasih Sayang Allah swt.

Itulah makna terdalam dari Bismillahirrahmaanirrahiim. Itulah juga makna terdalam dari Laa Ilaaha Illallah. Dua kalimat itu sering ramai dilantunkan oleh umat Islam akan tetapi sangat sepi dalam pemaknaan dan pengamalan secara sosial kemasyarakatan. Padahal, agama bukanlah bentuk bacaan dan bukan pula bentuk tulisan. Akan tetapi, agama adalah akhlak yang mampu mengatur pergaulan sosial individu penganutnya bahkan mengatur pergaulan antar bangsa.

Jika sampai detik ini, aspek pemaknaan agama yang kita miliki masih belum sampai pada titik ini, maka besok lusa, peristiwa kekerasan yang mengatasnamakan agama akan terus terjadi. Hal ini semata karena ketidakmampuan para tokoh agama mengasuh umat secara keseluruhan. Tokoh agama bahkan seringkali pilih-pilih umat melalui latar belakang organisasi

Padahal, organisasi tidak akan mampu menyelamatkan kehidupan beragama umat. Agama umat hanya akan selamat jika diamalkan oleh umat itu sendiri dalam kehidupan keseharian.

Oleh : Aba Farhan – Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia TQN Cermin Hati, Cimaung, Purwakarta