Jokowi Berani Lawan Munarman yang Hadiri Baiat ISIS

Jokowi Lawan Munarman
Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (dok istimewa)

MUDANEWS.COM – Di Republik ini ada tiga orang yang bebas ngomong, ngompori, provokasi. Tapi Negara justru takut. Mereka adalah Munarman, Anies Baswedan, dan Jusuf Kalla. Mereka memiliki kesamaan, yakni menggunakan agama sebagai alat politik, dan trio the unrouchables terkait ormas teroris FPI.

Munarman adalah master, otak, selain pentolannya, Muhammad Rizieq Shihab (MRS). Dia tak punya latar belakang ilmu agama. MRS pun hanya penjual bibit parfum Arab, memimpin ormas berkedok agama. Pantas pengajiannya hanya hasutan dan kebencian.

Publik yang bahlul, dengan menjual agama, seperti kata Buni Yani, mendukung FPI. Lima bulan lalu di Republik masih bergema para bahlul siap berjihad membela MRS. Padahal MRS cuma penjual parfum di emperan musholla di Tanah Abang. MRS saat memimpin FPI mengendalikan peredaran minuman keras di bawah kolong jembatan Tenabang.

Munarman memilih MRS yang mau melakukan perintah Munarman, berbicara ngawur, memmfitnah, dan melakukan framing membenci pemerintahan. MRS yang ingin kaya raya tanpa bekerja keras, dipasang oleh Munarman menjadi corong FPI.

Sementara Munarman mengendalikan seluruh strategi agar duit mengalir. MRS tetap mendapat bagian besar duit dari para bohir, cukong dari mulai Cendana, Cikeas, dan Chaplin – serta sembilan Naga.

Saking kuatnya Munarman sanggup menghambat perintah Presiden Jokowi. Negara gagal mengambil alih tanah Megamendung yang menjadi Markaz Syariah. Meski Pesantren Megamendung adalah tempat latihan para teroris FPI. Simbol Kerajaan FPI. Sampai saat ini, PTPN VIII sebagai pemilik lahan ketakutan. Tidak berani mengambil haknya.

Tak satu pun pejabat di Republik ini berani mengeksekusi lahan milik negara yang diserobot organisasi teroris FPI. Lobby Munarman sampai ke level Menteri. Edan benar Republik ini.

Terkait ISIS pun Munarman tetap bebas. Dia menghadiri baiat ISIS di markas FPI di Makassar pun tidak tersentuh hukum.

Selain Munarman, the untouchable adalah pendukung ormas teroris FPI Anies Baswedan.Dia menggelontorkan duit untuk balapan bodong Formula E. Lebih dari setengah triliun rupiah uang rakyat DKI Jakarta dibuang. Tentang korupsi lahan Rumah DP 0 Persen pun Anies tidak tersentuh hukum. Karena DPRD DKI Jakarta dan Anies saling berpelukan erat, satu kesatuan.

The untouchable lainnya: Jusuf Kalla. Dia mengompori pendukung FPI untuk melawan Jokowi. JK melontarkan tentang kekosongan kepemimpinan saat MRS berada di puncak kekuatan. Padahal Indonesia memiliki pemimpin Presiden Jokowi. Di 2017 saat Pilkada DKI, JK melakukan pembiaran ketika masjid digunakan sebagai ajang kampanye ayat dan mayat.

Kembali ke Munarman. Munarman membuat berita hoaks terkait tewasnya 6 laskar teroris FPI di KM 50. Dia mem-framing, fitnah menyudutkan polisi. Berbeda dengan Ustadz Maheer yang langsung dicokok, Munarman sampai detik ini tetap bebas.

Karena sepak terjang Munarman bukan sembarangan. Di 2011 dia mengancam SBY untuk dilengserkan jika SBY membubarkan FPI. SBY ketakutan. Justru akhirnya SBY membesarkan FPI dan HTI. Atas apapun pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Munarman, Republik ini justru yang ketakutan.

Dan, yang menarik adalah JK, Anies Baswedan, dan Munarman sama-sama pencinta pentolan ormas teroris FPI, MRS. Chaplin yang mendatangkan kembali MRS dari Mekah. Anies Baswedan menyambut dengan suka cita. Bahkan dia mendatangi rumah MRS di Petamburan yang ketika itu bak Negara dalam Negara – dijaga oleh laskar teroris FPI yang dua di antaranya tewas dalam peristiwa KM 50. Itulah kisah trio the untouchables di Republik ini.

Penulis: Ninoy Karundeng