Ramadan Saatnya Pantau ASN BUMN HTI Universitas dan Sarang Teroris

Ramadan
Flyers (dok istimewa)

MUDANEWS.COM – Flyers ceramah Ramadan tersebar di dunia maya. Isinya HTI dan FPI memanfaatkan momentum untuk gerakan mereka. Tiga hal yang mereka dapatkan. Duit sumbangan yang dialirkan ke teroris, propaganda khilafah, pamer kesetiaan ke pimpinan BUMN dan lembaga yang terindikasi pelawan Pancasila.

Maka, Ramadan adalah momen bagi pegiat anti radikalisme, intoleransi, terorisme dan aparat keamanan untuk memelototi kegiatan di BUMN dan instansi pemerintah. Sinyalemen tumbuh suburnya radikalisme, HTI, FPI dan teroris sudah terbukti. Teroris bekerja sebagai pimpinan di Krakatau Steel telah ditangkap.

Baru-baru ini PT Pelni yang terindikasi dikuasai oleh kaum Wahabi, pengikut HTI dan FPI menampilkan flyers yang isinya para penceramah gerakan radikal. Muncul nama-nama yang memang pengasong khilafah. Firanda Andirja, Rizal Yuliar Putrananda, Subhan Bawazier, Syafiq Riza Basalamah. Hanya Cholil Nafis yang mungkin normal sebagai pendakwah. Lainnya tak lain pengasong khilafah. Itu di PT Pelni.

BUMN memang terindikasi sebagai sumber gerakan. Hasil dari gerakan pengajian liqa, gerakan bawah tanah sejak awal 1990-an. Mulai SMP dan SMA, dengan target awal mereka mengharamkan, menyebut aktivitas ritual adat, budaya, dan tradisi asli Indonesia sebagai bid’ah, musyrik, syirik, dosa, tidak Islami.

Hasilnya, di Sumatera Utara kesenian tradisional Jaran Kepang, alias Kuda Lumping diludahi dan dibubarkan oleh gerombolan Forum Umat Islam. Kini, kesenian tradisional terpinggirkan. Kebudayaan Arab diagungkan.

Ketika kebudayaan Indonesia tersingkir. Di situlah tumbuh subur paham radikal, khilafah yang secara terang-terangan anti Pancasila. Pembubaran HTI dan FPI tidak menyentuh akar masalah. Selepas dibubarkan, para anggota eks HTI dan FPI masih bergerak bebas menyebarkan paham radikal dan bahkan melakukan perbuatan teror.

Munarman FPI dan Aziz Yanuar masih berkoar menyuarakan gerakan anti Pancasila. Anti Pemerintah. Mereka mengusung terorisme dan mendukung ISIS, dengan bukti adanya baiat di Makassar, selain lenbih dari 70 orang FPI terlibat aksi terorisme. Termasuk para imigran asal Yaman seperti teroris Zulaimi Agus, Husein Hasan, pentolan teroris Muhammad Rizieq Shihab yang didukung imigran Yaman lain seperti Anies Baswedan, Novel Baswedan, dan kalangan pengusung khilafah.

Meski TNI/Polri, BIN tetap memantau. Pun siber dan Polisi Virtual Mabes Polri tetap memantau secara ketat gerakan mereka di dunia maya. Aksi kampanye media sosial dan media khilafah HTI dan di musim Ramadan ini, atas nama Islam yang mereka pakai sebagai kedok, makin menjadi. Ruang udara mereka kuasai.

Kekuatan pergerakan uang di masjid-masjid HTI dan FPI, pengajian liar dan tertutup di BUMN, lembaga negara, kementerian dan lembaga negara termasuk TNI/Polri, menjadi sumber pendanaan abadi. PPATK tidak mampu membidik pendanaan oleh BUMN dan ASN model cash langsung. Salah satunya melalui pintu ceramah dan sumbangan dari direksi dan pimpinan BUMN.

Pasca organisasi teroris FPI dan HTI dibubarkan, kini tampak di berbagai masjid mulai tumbuh lagi keberanian seperti sebelum FPI dibubarkan. Penyebabnya adalah kendornya gerakan menghantam FPI dan terorisme, yang diwujudkan dalam persidangan Muhammad Rizieq Shihab (MRS).

Hakim Suparman Nyompa yang ketakutan menjadi momentum bangkitnya perlawanan FPI sehingga terjadi serangan di Makassar dan aksi teror lanjutan di Mabes Polri dan rencana membakar SPBU (pompa bensin) untuk menuntut pembebasan pentolan teroris MRS.

Berikut wilayah yang harus diwaspadai terkait radikalisme dan pengasong khilafah ASN, BUMN, dan perguruan tinggi yakni di Bogor, Bima, Sumut, Sumbar, Riau, Jabodetabek, Tasikmalaya, Karawang, Cianjur, Bandung Raya, Banten, Brebes, Cirebon, Kuningan, Temanggung, Magelang, Gunung Kidul, Solo, Pati, Semarang, Sragen, Lamongan, Jember, Makassar, Poso, Banjar, Bekasi, Singkil, Batam dan Bintan, Bolaang Mongondow, Gorontalo, Ternate, NTB, dan Papua (ekstrimis dan teroris yang menyusup dalam gerakan OPM.

Pemantauan terhadap gerakan kaum anti NKRI ini penting karena juga sudah ada peringatan dari Kedutaan Besar Amerika di Jakarta. Pemetaan terkait para penceramah bisa digunakan untuk memantau gerakan mereka secara ketat di kemudian hari. Ramadan harusnya masa damai dan indah, namun justru dimanfaatkan oleh para teroris dan kaum radikal untuk membangun kebencian terhadap NKRI. Waspada.

Penulis: Ninoy Karundeng