Romansa Rezim dan Terorisme, Representasi Islam dan Tuduhan Teror

Romansa Rezim dan Terorisme
Januari Riki Efendi

MUDANEWS.COM – Dimulai dari peledakan di salah satu Gereja di Makassar, yang katanya Bom Bunuh diri. Lalu ada lagi, tiba-tiba seorang gadis polos masuk ke Mabes Polri dan menembaki secara acak orang-orang yang ada disekitarnya, terutama petugas polisi. Dengan gampangnya gadis itu masuk tanpa pengamanan yang ketat. Dan dorrr, matilah wanita itu ditembak oleh aparat, tanpa satupun yang tahu apa motifnya.

Lalu spekulasi-spekulasi muncul, semua pernyataan terorisme muncul dari pernyataan aparat, tak satupun dari pelaku tadi. Tiba-tiba ditangkaplah beberapa orang yang “terduga” teroris, yang katanya anggota FPI. Lagi-lagi pernyataan itu bukan muncul dari mereka yang ditangkap, tapi dari polisi, dari bukti-bukti dilapangan.

Lain cerita kalau pelaku pemerkosa, pencuri, jambret, bahkan koruptor. Mereka akan diberi ruang di media untuk berbicara dan memberikan argumentasinya. Beda jika itu terduga teroris, ada juru bicaranya, yaitu pak polisi. Salut dengan pak Polisi, yang mengistimewakan pelaku yang katanya “teroris” itu dalam memberika pernyataan di media. Tapi, sebenarnya rakyat ingin juga mendengar pernyataan langsung dari para pelaku, tanpa juru bicara, agar terang.

Aparat dan Terorisme ada dua jodoh yang sulit berpisah. Aparat seperti merindukan momen-momen heroik dalam memberantas terorisme, lebih Cool mungkin. Daripada menangkap pelaku Koruptor dan Begal.

Ketika isu terorisme mulai senyap, akhir-akhir ini dimulai lagi, mungkin pemerintah dan aparat benar-benar serius menangkap teroris sambil juga menambal isu lainnya.

Isu Terorisme kali ini mulai disematkan pada Ormas Islam yang sudah dilarang oleh hampir seluruh petinggi negeri ini. Untuk membubarkan Ormas dibutuhkan hampir seluruh kementerian. Begitu hebatnya ormas ini. Sebut saja FPI. Kini tiba-tiba saja Ormas ini dituduh-tuduh ikut menjadi bagian terorisme.

Setelah puluhan tahun FPI berdiri, baru kali ini mereka dituduh Terorisme, biasanya FPI hanya dituduh main hakim sendiri, bertindak diluar hukum dan terlalu radikal. Kini disematkan lagi identitas baru, yaitu Teroris.

Hanya karena Habib Rizieq dianggap musuh negara nomor satu, tidaklah harus juga menghadapinya dengan isu teroris ini. Isu teroris ini tidak hanya merugikan FPI, tapi juga merugikan umat Islam. Umat Islam sebenarnya mulai bosan dengan isu ini. Umat Islam menjadi bulan-bulanan jika isu ini sudah dimainkan.

Walaupun negara mengatakan tidak menyatakan umat Islam adalah teroris secara Umum, tapi secara khusus pastilah umat Islam yang dituduh. Tidak pernah dalam sejarah negeri ini (Bahkan sejarah dunia modern saat ini) menganggap ada agama lain selain Islam sebagai teroris.

Teroris selalu disematkan kepada jaringan-jaringan organisasi Islam, jaringan A, jaringan B, jaringan C, semuanya pasti berafiliasi pada agama Islam. Bukankah tindakan teror adalah tindakan individu yang mengikuti aliran beragama yang salah? Bukankah kita harus mengkaji ulang defenisi terorisme ini?

Bisakah hanya Islam pelaku teror? Umat Islam juga terbuang waktunya menjelaskan agamanya kepada sesama penganutnya sendiri, saling tuduh dan saling mencurigai. Bisakah negara tidak mengambil kesimpulan sepihak ketika menangani kasus teror? Bisakah ada ruang transparansi argumentasi dan para pelaku yang diduga Teroris itu diberikan ruang berbicara di media, atau dalam melawan pelaku teror, bisakah tidak membunuhnya ditempat agar diberi kesempatan berbicara?

Isu terorisme ini lebih sarat kepentingan daripada keseriusan, bukankah aparat negara itu juga seorang muslim? Kenapa mau ikut menuduh-nudubh saudaranya sesama muslim sebagai pelaku teror tanpa penelitian yang jelas?

Lalu, apakah benar mereka yang ditangkap atau diduga pelaku terorisme itu benar-benar pelakunya? Kenapa hanya polisi yang berhak berbicara dan menuduh? Dimana ruang keadilan.

Saya teringat Film Hollywood yang berjudul The Mauritanian, yang dibintangi oleh Jodie Foster dan Benedich Cumberbath. Di dalam film itu ada seorang Mauritanian (Orang Afrika yang tinggal di Negara Mauritani) yang beragama Islam, ia dituduh sebagai teroris suatu hal yang tak pernah dilakukannya. Hingga ia dijebloskan dipenjara Guantanamo.

Guantanamo adalah penjara bagi para terduga teroris, biasanya mereka dipenjara tanpa persidangan hingga bertahun-tahun. Seorang Mauritanian ini tak pernah mengakui perbuatannya, karena memang ia tak pernah terlibat. Hingga dia disiksa, dilecehkan dengan cara tidak manusiawi, hingga dia diancam bahwa mereka akan memenjarakan ibunya. Maka disaat itulah dia menyerah, dan mengakui tindakan yang sama sekali tak pernah dilakukannya.

Mudah-mudahan film itu bukanlah Representasi penanganan para pelaku terduga teroris di negeri ini. Wallahu alam.

Oleh : Januari Riki Efendi
Penulis adalah Founder Ruang Literasi