Raihan Ariatama, Dari Ketua Partai Mahasiswa Menjadi Ketua Umum PB HMI: Sebuah Kisah Kebersamaan

Raihan Ariatama, Dari Ketua Partai Mahasiswa Menjadi Ketua Umum PB HMI: Sebuah Kisah Kebersamaan
Ketua Umum PB HMI Periode 2021-2023, Raihan Ariatama.

MUDANEWS.COM – Di sekitar Oktober 2013, saya dihubungi oleh seseorang yang sebelumnya telah saya kenal sebagai sesama ketua organisasi mahasiswa daerah. Dia adalah Raihan Ariatama.

Pada saat itu, ia menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Minang UGM (Forkommi UGM) dan saya menjabat sebagai Ketua Keluarga Mahasiswa Riau Gadjah Mada (Kemarigama). Ia menghubungi saya untuk mengajak berbincang ringan, saya pun dengan sigap mengiyakan untuk segera berjumpa dengan orang yang juga menjadi senior saya di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM tersebut.

Selepas jam kuliah, kami pun berjumpa di selasar barat Fisipol UGM. Perjumpaan ini diawali dengan bertanya mengenai kinerja organisasi mahasiswa daerah yang kami pimpin. Kemudian cerita berlanjut kepada kontestasi Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa) UGM yang tidak lama lagi akan dilaksanakan pada tingkat universitas.

Singkat cerita, saya diajak untuk berkontestasi di Pemilwa tersebut untuk menjadi salah satu calon senat yang diusung oleh partai mahasiswa yang juga dipimpinnya, yakni Partai Boulevard UGM. Saya tanpa pikir panjang mengiyakan ajakan tersebut karena pada saat itu gairah untuk masuk ke dalam arena politik kampus sedang tinggi-tingginya.

Sebagai mahasiswa semester 3 (tiga) pada saat itu, saya merasa sudah saatnya mencoba merasakan menjadi aktivis mahasiswa yang sebenarnya. Salah satunya dimulai dengan mencalonkan diri menjadi senat mahasiswa di level universitas. Sejak saat itulah, pertemanan kami semakin terjalin dengan baik.

Akhir Desember 2013, di bawah bimbingan seorang Raihan Ariatama dan beberapa kawan lainnya, saya dinyatakan terpilih menjadi senat mahasiswa, yang kemudian terpilih menjadi pimpinan senat mahasiwa UGM. Untuk ukuran saya yang masih bau kencur di arena politik kampus pada saat itu, memimpin sebuah lembaga legislatif mahasiswa adalah sebuah pengalaman yang luar biasa.

Raihan adalah salah satu orang yang mengajarkan banyak strategi politik yang lembut, santai, namun terukur. Pada saat itu, Raihan masuk dalam jajaran Menteri BEM KM UGM, tepatnya pada posisi Menteri Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) BEM KM UGM di Kabinet Melodi Perubahan yang dipimpin oleh Presma Adithya Herwin. Saya di legislatif, Raihan di eksekutif.

Sebagai catatan, pada saat sebelum Pemilwa, Raihan sebagai Ketua Partai Boulevard mampu berperan besar dalam keberhasilan konsolidasi dan koalisi dengan berbagai partai mahasiswa lain untuk memenangkan panggung politik kampus UGM. Saat itu sudah mulai tampak bahwa Raihan adalah salah satu pelobi handal, yang dengan ketenangannya menjadi ciri khas utama seorang Raihan.

Dari peristiwa tersebut, akhirnya saya mengenal HMI Fisipol UGM yang pada saat itu Raihan telah duluan bergabung. Saya baru sadar, ternyata ada sebuah organisasi eksternal kemahasiswaan yang diisi oleh orang-orang yang luar biasa yang menomorsatukan intelektualitas dan kesantunan dalam berperilaku, baik di dalam maupun di luar organisasi.

Sebuah organisasi yang mengajarkan bagaimana Islam yang moderat dipadukan dengan pemahaman yang mendalam terhadap persoalan persoalan kehidupan sosial yang ada di masyarakat. Semenjak saat itu, saya memutuskan bergabung dengan HMI Fisipol UGM.

Pada saat itu, di level Partai Mahasiswa Boulevard UGM, saya diangkat menjadi Sekretaris Jenderal mendampingi Raihan. Di Komisariat HMI Fisipol UGM, Raihan juga sebagai Kabid PTKP (Perguruan Tinggi Kepemudaan dan Kemahasiswaan) dan saya masuk menjadi anggota di bidang yang sama.

Disana saya kembali belajar dengan Raihan mengenai bagaimana cara menjalin komunikasi dengan lembaga luar, bagaimana bernegosiasi dan berdiplomasi. Saya sering diajak untuk mendampingi untuk bertemu dengan teman-teman dari organisasi eksternal lain dari berbagai fakultas di UGM, bahkan dengan teman-teman dari kampus lain. Dengan sosok yang kalem, banyak mendengar dan tidak ‘grasa-grusu’, saya kembali mendapat pelajaran-pelajaran berharga yang sampai saat ini tetap saya pertahankan.

Pada Agustus 2014, situasi politik kampus di UGM mulai memanas kembali. Perhelatan Pemilwa akan dilaksanakan di bulan Desember 2014. HMI Komisariat Fisipol UGM yang memang pada saat itu sebagian besar kadernya juga tergabung di Partai Boulevard UGM merasa sangat layak untuk memajukan seorang calon presiden mahasiswa sendiri.

Ada beberapa kader yang digadang-gadang bakal maju. Ada Ekamara Ananami Putra (yang saat itu sebagai Sekjend BEM KM) dan Raihan Ariatama (Menteri PSDM) serta saya sendiri sebagai Wakil Ketua Senat Mahasiswa UGM.

Awalnya, saya tidak berniat untuk maju. Terlalu cepat bagi saya yang pada waktu itu masih semester 5 (lima). Namun, kembali, Raihan (dan juga beberapa teman lain) meminta saya untuk maju menjadi Calon Presiden Mahasiswa UGM.

Ia berkomitmen bakal mendampingi saya dari awal hingga proses pemilihan selesai. Ia menekankan bahwa kontestasi politik itu bukan hanya soal menang dan kalah, namun soal proses pembelajaran yang akan didapatkan dari proses tersebut.

Raihan membantu untuk mengkonsolidasikan semuanya, bahkan memikirkan strategi kampanye, pembentukan tim sukses hingga mobilisasi massa untuk memilih ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) di hari H pemilihan. Raihan adalah orang yang sangat sibuk pada waktu itu, demi menepati komitmennya untuk membantu saya. Ia rela mengeluarkan tenaga, fikiran bahkan materi sebagai wujud pemenuhan komitmen yang telah diucapkannya kepada saya.

Ia adalah salah satu orang yang paling semangat untuk memasang baliho kampanye berukuran jumbo di beberapa titik strategis di UGM pada tengah malam. Sejak saat itu, saya semakin yakin bahwa kelak ia akan menjadi seorang pemimpin yang memiliki komitmen yang kuat dan berintegritas tinggi untuk memegang ucapan yang telah ia katakan.

Singkat cerita, Raihan menjadi Ketua Umum HMI Cabang Bulaksumur. Saya juga masih setia berada dalam kabinet yang disusunnya. Kami sering berdiskusi mengenai berbagai hal, namun yang paling sering adalah merubah citra HMI kembali menjadi organisasi mahasiswa yang non-elitis, yang bertindak dan bergerak berdasarkan intelektualisme dan rasa keadilan.

Namun, kali ini perjumpaan saya dengan Raihan tidak se-intens dulu waktu masih di komisariat. Kami memiliki kesibukaan masing-masing; pada saat itu saya sedang melanjutkan studi S2 dan Raihan juga melakukan hal yang sama, tetapi berbeda jurusan. Terlepas dari kesibukan masing-masing, kami tetap saling memantau satu sama lain. Selepas dari Ketua HMI Cabang Bulaksumur, ia menjadi Pengurus PB HMI, dan saya sudah balik ke kampung halaman saya di Riau, untuk menjadi pengajar di salah satu universitas di sana.

Lama tak mendengar kabar mengenai Raihan, di bulan Januari 2020, saya melihat di salah satu grup WA bahwa Raihan sedang bersiap untuk berkontestasi di Kongres Ke-31 HMI di Surabaya untuk menjadi ketua umum.

Detik itu juga, memori mengenai seorang Raihan yang saya kenal kembali terbongkar. Cerita-cerita lama mengenai upaya untuk mengubah kembali HMI menjadi poros intelektual muda kembali membuncah di fikiran saya.

Namun, saya tidak tau mengapa, saya sangat yakin bahwa ia akan terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI dan akan berusaha mewujudkan cita-cita kami di kala diskusi santai di warung burjo atau angkringan-angkringan di Jogja beberapa tahun yang lalu.

Sekitar 1 (satu) bulan sebelum kongres dilaksanakan, kami sempat berbincang ringan di WA. Ia memberikan selamat kepada saya karena telah terpilih menjadi Ketua PPI Hongaria, dan di saat yang sama, saya membalas dengan do’a tulus agar jalannya dimudahkan untuk menjadi Ketua Umum PB HMI.

Doa dia, saya dan banyak teman-teman lainnya terkabul pada 25 Maret 2021 ketika ia resmi terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI Periode 2021-2023. Ia menang dengan membawa gagasan #empoweringhmi #berdayabersama, dan saya yakin ia akan membawa perubahan signifikan bagi HMI ke depannya.Kepada Raihan, semoga bisa memegang amanah. Jangan lupa perbincangan-perbincangan kita tentang HMI di sudut-sudut kota Jogja yang Istimewa itu.

Budapest, 26 Maret 2021

Oleh: Agung Wicaksono – Alumni HMI Fisipol UGM dan Ketua PPI Hongaria