Pesan Esensial

Pesan Esensial
Wahyu Triono KS.

MUDANEWS.COM – Kembali menghirup udara segar, sebentar mengumpulkan energi. Dibalik backgroud taman dipenuhi bunga.

Sedikit mumbuat lebih fresh, sesekali ganti suasana zoom meeting atau PJJ di taman bunga mini.

Sering sekali background untuk tayang, cover kalau sebuah buku, bungkus atau kemasan untuk suatu produk sangat diperlukan.

Begitu juga dengan award, reward, pesona, citra bagi seseorang yang ingin menjadi sesuatu, menjadi kandidat, juara dan menjadi apa saja sangat berguna.

Tetapi sering pula background, cover, bungkus, kemasan, pesona dan pencitraan lebih utama dibandingkan konten, isi, substansi dan esensi.

Guru saya, sekaligus atasan saya dulu, Alm Yon Infantri Hotman Limbong yang mendirikan perusahaan konsultan kampanye dan politik pertama sekali di Indonesia dan mendampingi Pak SBY Runing Presiden RI 2004, berulangkali mengingatkan bahwa, background, cover, bungkus, kemasan, pesona dan citra itu penting tetapi konten, isi, substansi dan esensi itu lebih penting.

Almarhum Nurcholish Madjid menyebut background, cover, bungkus, kemasan, award, reward, pesona dan citra itu ibarat “gincu”.

sedangkan konten, isi, substansi dan esensi itu seperti “garam”, sebagaimana ia menggambarkan sosok Bung Hatta yang menangkap ajaran agamanya sebagai “garam” bukan “gincu”.

Dalam pidato kebudayaan, 7 Juni 2012, Nurcholish Madjid, dengan amat sempurna menggambarkan sosok Bung Hatta sebagai salah satu pemimpin yang dapat diteladani.

Katanya, Hatta lebih menekankan kesalehan esensial dari pada kesalehan simbolik-formal. Hatta menangkap ajaran agama sebagai “garam” bukan “gincu”.

Garam yang larut dalam air memberikan rasa asin namun tidak nampak nyata. Kesalehan esensial larut sempurna dalam jiwa raga seseorang, mungkin juga sukmanya, dan langsung membentuk keperibadian yang diliputi fitrah kemanusiaan.

Sebaliknya, “gincu” memberi warna menarik pada air, namun tidak ada hakikat cita rasanya, kesalehan formal mewarnai perilaku lahiriah dan ucapan seseorang.

Kendati demikian, hal itu tidak menembus kalbu dalam rongga dadanya dan tidak secara sejati membentuk budi pekertinya.

Keputusan untuk mengumpulkan energi yang dibutuhkan dalam menangkap pesan esensial, menjadi garam kehidupan maupun pesan artifisial menjadi gincu hiasan kehidupan menjadi hak otoritatif siapa saja dan setiap orang.

Tetapi jangan pernah ingkari sunatullah. Kalau gincu ya gincu saja tidak perlu ingin seperti garam dan kalau garam ya garam saja tidak usah memaksa diri menjadi gincu.

Bersenyawanya gincu dan garam memberi warna keindahan dan memberi cita rasa itulah yang diperlukan.

Dalam konteks persenyawaan semacam itulah hari-hari kita dipenuhi oleh berbagai kesulitan, lantaran ketidak sediaan dan kesiapan untuk bersinergi dan berkolaborasi di semua lini dan tingkatan yang menjadi faktor seluruh warga bangsa tetap selalu dalam situasi sulit dan memprihatinkan.

Adakah jalan untuk Kembali Bersama bersinergi dan berkolaborasi mengatasi, mengantisipasi dan menjalani seluruh TOWS (Treats, Opportunities, Weaknesses, Strengths) yang kita miliki. Rabu (24/03/2021).

Oleh : Wahyu Triono KS – Dosen Administrasi Publik FISIP Universitas Nasional, Tutor Universitas Terbuka, Universitas Siber Asia dan CIA Indonesia