Apa yang Dicari di Arena Kongres?

Arena Kongres
Radius 1 kolimeter dari Arena Kongres HMI ke-XXXI di Islamic Centre Surabaya dijaga polisi, Senin (22/3/2021)

MUDANEWS.COM – Kongres ke XXXI HMI sedang berlangsung. Keadaan kongres per kongres memang sangat unik, pasti ada kegaduhan. Seakan-akan kalau tidak gaduh bukan Kongres namanya. Saya hampir bingung dan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dicari di arena Kongres? Kenapa seluruh Rombongan Kader itu rela berduyun-duyun datang kesana. Bolehlah kita katakan Kongres adalah satu perhelatan rapat paling tinggi di HMI, hingga semua kader HMI ingin merasakan Euphoria berada di Arena.

Tapi yang menjadi pertanyaan masih sama, Apa yang di cari? Sekedar Euphoria kah? Atau demi memenuhi “nafsu” gerbong dari caketum yang akan menjabat. Saya termasuk yang paling bingung melihat dinamika yang terjadi setiap Kongres, kegaduhan dan selalu kegaduhan.

Dimana lagi esensi Substansial Kongres tersebut. Sebagai rapat tertinggi harusnya melahirkan gagasan-gagasan yang lebih baik untuk HMI kedepannya, tapi pasti ujung-ujungnya kontestasi politik, gerbong dan permusuhan antar cabang dan Badko demi memenuhi Nafsu syahwat calon kandidat.

Apalagi yang terjadi hari ini, ditengah-tengah pandemi. Kongres bukannya mampu tertib, tapi malah banyak yang menuntut ingin masuk kedalam ruang Arena. Tuntutan yang diteriakkan oleh kader-kader malah yang bukan substansial, tapi malah sekedar ingin masuk ke arena. Dengan lantang mengatakan, bahwa kongres ini milik kita kader HMI.

Kita merindukan teriakan-teriakan kritis kader itu, baik mengenai penyatuan (Rekonsiliasi, Islah) HMI, atau masalah substansial untuk melahirkan gagasan, bukan sekedar dinamika tiada arti yang dititip oleh calon kandidat.

Saya mengira Kongres itu adalah rapat suci HMI. Dimana Konstitusi dikaji di dalamnya. Jika Kongres selalu tidak kondusif, maka pastinya substansial pembahasan Konstitusi terganggu lagi. Belum lagi ada isu perpecahan atau dualisme di tubuh HMI. Satu berkongres di Surabaya, dan satu melakukan Pleno di Tapteng masih untuk menentukan Kongres. Kenapa bisa seperti ini?

Berdinamika di dalam Kongres tentu sah-sah saja, tapi jika terlalu menyentuh Political Force maka akan menghancurkan HMI itu sendiri. Bagaimana nasib kader-kader HMI yang masih idealis dan siap berjuang di HMI ini jika melihat para “abgda” nya memperlakukan HMI sesuka hatinya. Pasti ada kalimat ampuh yang akan di ucapkan senior itu pada adindanya ketika bertanya, “Ini Proses dinda”. Proses apanya? Proses yang menghancurkan sendi HMI? Atau proses menuju perdagangan Organisasi ini ke tangan Elit?

Tidak salah kiranya regenerasi HMI ini akan memunculkan kader-kader Apatis dan pragmatis, karena HMI pada tataran elit (PB, Badko, Cabang) mengajarkan tindakan-tindakan yang diluar idealisme keislaman dan kebangsaan itu. Tataran Elit HMI terlalu mementingkan politik daripada memikirkan kebaikan substansial HMI.

Kongres HMI ke XXXI di Surabaya, tidak terlihat sikap-sikap intelektualitas ke HMI an disana. Bahkan kalau bisa dikatakan memalukan. Kongres sampai di surati oleh Islamic Center dan juga Pemerintah setempat meminta Kongres dipercepat dikarenakan kondisi pandemi yang menuntut pemerintah mengambil langkah. Bukankah ini hal yang memalukan?

Kita semua memimpikan Kongres yang sehat, yang penuh gagasan, yang penuh ide-ide cemerlang untuk umat dan bangsa. Bukan kongres yang selalu mempertontonkan kericuhan dan kegaduhan yang tiada jelas alasannya. Sekali lagi saya ingin bertanya, apa yang dicari dari Kongres HMI kali ini? Entahlah…..

Oleh : Januari Riki Efendi, S.Sos
Penulis adalah Pegiat Literasi Dan Alumni HMI Cabang Medan