Mengamati Bramacorah Rizieq Shihab Lewat Media Pendukung dan Penentangnya

humas Polri
Dok Istimewa

MUDANEWS.COM – Ada hal yang menarik ketika menonton kehancuran bramacorah Muhammad Rizieq Shihab (MRS) lewat media massa. Dari press conference Polda Metro Jaya dan Mabes Polri jelas tidak pernah menggunakan kata habib. Namun kenapa Detik selalu menyematkan kata habib meski mendengarkan konferensi pers yang sama?

Dalam psikologi kata, kecenderungan pikiran wartawan dan idelogi media massa bisa dikenali. Dalam kasus MRS, pembedanya cuma satu kata: habib.

Di media sosial FB, Instagram, Twitter pun kecenderungan ini sama, malah lebih tampak. Orang yang menggunakan kata habib pasti pendukung MRS. Orang yang hanya menyebut Rizieq pasti penentang MRS.

Jelas dan faktual karena media sosial tidak memiliki aturan ideologis yang dikendalikan oleh pemiliknya. Medsos sangat berbeda dengan media massa online resmi, yang di belakangnya ada kepentingan politik.

Berita tentang bekas pentolan organisasi teroris FPI yang sudah menjadi ormas terlarang seperti PKI dan HTI, sungguh menarik. Bisa dilihat benang merah kecenderungan media massa mendukung atau menentang dengan pilihan kata ketika menyebut MRS, dengan kata kunci habib. MRS atau HRS), Rizieq atau Habib Rizieq.

Sangat mudah menentukan, dengan cara simplifikasi tentu, Detikdotcom miliki SBY pasti akan menyebut Habib Rizieq. Republika, Harian Terbit, TV One, PKS Piyungan, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Fajar, Pos Kota, Panjimas, Jawa Pos pasti menggunakan kata habib. Termasuk dalam kelompok ini adalah Kumparan. Media ini pendukung Rizieq Shihab.

CNN Indonesia? Meskipun milik SBY juga namun untuk memberi pembeda menggunakan kata Rizieq tanpa habib. Untuk menunjukkan perbedaan dengan Detik tentu. Biar kelihatan bau Amerika, padahal milik SBY.

Media penentang MRS dengan senang hati menghilangkan kata habib. MetroTV, Kompas, Suara Pembaruan, Tribun, Manado Pos, Bali Pos tentu alergi menggunakan kata Habib.

Kenapa ada dua perbedaan dalam penyebutan MRS atau HRS? MRS adalah simbol gerakan, meskipun dia seorang bramacorah. Karena penggunaan kata habib disalahgunakan oleh MRS untuk kejahatan, premanisme, penyerobotan tanah, bahkan terorisme. Tak layak gelar terhormat habib disematkan ke bramacorah cabul MRS.

Publik sering tak paham. Bahwa media massa, televisi, media online dan off line, memiliki kecenderungan mendukung atau menentang pemerintah. Untuk memahaminya sebenarnya sangat mudah. Bahkan kecenderungan politik suatu media massa, ideologinya, pemiliknya, akan terlihat nyata. Tidak bisa bersembunyi.

Salah satu contoh adalah media televisi Aljazeera, media ini memiliki kecenderungan mendukung terorisme yakni Ikhwanul Muslimin, dan terorisme lainnya. Untuk itu wartawan Aljazeera Mahmood Hussein pun dipenjara sampai sekarang karena terlibat terorisme di Mesir.

Pilihan kata-kata yang digunakan oleh Al Jazeera jelas menunjukkan Mahmood Hussein bukan sekedar wartawan, namun ahli propaganda yang menyamar sebagai wartawan, bahkan setelah diselidiki oleh Intelijen Mesir, dia terlibat dalam terorisme dan anggota Ihwanul Muslimin.

Karena media adalah peracik kata-kata, maka lewat kata-kata pula media akan terlihat kecenderungan keberpihakannya. Bahkan kecenderungan politik, ideologi, pemiliknya, akan terlihat.

Media massa online dan bukan online memiliki pendana dan pemilik. Wartawan adalah ibarat kuda, redaksi adalah pencari rumput, pemilik adalah kusir. Ke mana pun arah kuda, tergantung kusir, namun dalam menjalankan kuda, pencari rumput ujung tombak harian.

Kuda tidak memiliki hak apa pun. Namanya juga kuda. Maka yang terjadi adalah apapun yang diinginkan oleh pencari rumput (redaksi) dan kusir (pemilik) harus dilaksanakan. Tidak ada ruang untuk berdebat.

Oleh sebab itu, rilis media yang waras, termasuk Kepolisian tidak menggunakan kata Habib Rizieq, HRS. Kata MRS dan Muhammad Rizieq Shihab (MRS) yang dipilih.

Tujuannya agar tidak ada glorifikasi salah terkait kata habib yang terhormat, jangan sampai disalahgunakan dan disematkan ke bramacorah penjahat pentolan organisasi yang 37 anggotanya adalah para teroris.

Maka dengan meng-klik sebuah media online, jika menemukan kata HRS atau Habib Rizieq dipastikan wartawan atau media tersebut pendukung si cabul Rizieq Shihab. Begitu sebaliknya, jika yang ditemukan cuma MRS, atau Rizieq, media tersebut penentang bramacorah Rizieq Shihab. Mari kita jaga marwah Habib dengan tidak menyematkan Habib di depan MRS alias Rizieq Shihab.

Oleh : Ninoy Karundeng