Kekristenan di Indonesia

Kekristenan di Indonesia
Hasanuddin, MSi

MUDANEWS.COM – Sementara di dunia Barat, kekristenan mengalami kebangkrutan, disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan modern memporak-porandakan doktrin katholikisme maupun protestantianisme, mendorong tumbuhnya jumlah kaum skeptisisme-agnotisisme atas agama, dan sedikit mendorong terjadinya perpindahan (convert) ke Islam.

Kejadian demikian dapat kita saksikan terjadi di Jerman (tempat kelahiran protestan), Italia dan Prancis basis tradisional katolokhisme dan bahkan di seluruh Eropa, hanya tersisa Polandia dan Hongaria saja, dimana Katholikhisme masih mayoritas mutlak. Namun di kedua negara ini, ketaatan umat katolik terhadap Gereja pun semakin menyusut, disebabkan perbedaan atas dua isu utama, aborsi dan LGBT.

Kebangkrutan katholikisme bukan hanya di eropa, hal yang sama terjadi di benua Amerika, termasuk di Kanada, dan masih lumayan baik di sejumlah negara amerika latin yang secara ilmu pengetahuan dan ekonomi masih jauh tertinggal dari negara-negara Amerika Utara. Di Rusia, kekeristenan yang besar adalah ortodoksi, dan bukan katholik atau protestan.

Situasi memburuknya kepercayaan umat kristiani kepada gereja yang menyebabkan mereka berhenti jadi pemeluk kepercayaan agama yang telah berusia 2000 tahun lebih ini, di samping karena kemajuan sains yang memporak-porandakan keakuratan informasi kitab suci mereka, juga karena nassifnya pemberitaan terhadap pelecehan seksual, LGBT, dan korupsi di lingkungan Gereja.

Tidak terkecuali di Indonesia, pemberitaan tentang adanya pedofilia di gereja juga kita pernah baca di media massa. Kebiasaan meminum minuman memabukkan, dan penggunaan narkoba juga diduga kuat berimplikasi terhadap rusaknya moralitas umat kristiani diberbagai belahan dunia.

Di Indonesia, sesungguhnya baik kristen maupun katholik memperoleh perlakuan oleh negara yang sangat baik. Kedua sekte ini bahkan diakui sebagai agama tersendiri oleh negara. Berbeda dengan sekte ortodoks misalnya yang hingga saat ini belum memperoleh pengakuan sebagai agama oleh pemerintah Indonesia. Demikian pula Sekte Jehova, yang memiliki klaim sebagai sekte yang masih meneruskan tradisi ajaran Musa (taurat) sebagaimana Yesus mengajarkan kepada mereka.

Dalam gubungan antar umat beragama, pemeluk katolik khususnya sangat memperoleh tempat khusus dikalangan sebagian umat islam. Misalnya pada hari natal, gereja-gereja mereka di jaga oleh pemuda-pemuda Banser (salah satu organisasi otonom dari PBNU). Bahkan dalam perayaan misa natal, akhir-akhir ini banyak beredar video kader NU ikut acara natal sambil membacakan ayat-ayat Alquran di gereja. Juga kita bisa baca sejumlah warga NU membantu mereka mensyiarkan natal di jawa timur, dengan bersama-sama menghiasi pohon natal. Kegiatan-kegiatan itu, kita tahu karena diberitakan luas.

Dapat dikatakan bahwa kekristenan di Indonesia, tidak mengalami apa yang terjadi di eropa, amerika maupun belahan dunia lainnya. Bahkan jika di eropa, kanada, amerika ribuan gereja di bongkar, karena sepi pengunjung, di Indonesia kita masih sering dapatkan keluhan dari umat kristiani untuk membangun gereja. Tuduhan intoleransi kepada umat islam, masih sering mereka tuduhkan terkait urusan membangun Gereja ini.

Tidak ada data pasti tentang jumlah populasi umat kristen di Indonesia, tapi tentu bisa dipastikan telah banyak mengalami pertumbuhan.

Kita tentu berharap bahwa seiring dengan kemajuan Ilmu pengetahuan, hubungan antar umat beragama makin membaik, rasionalitas beragama semakin dikedepankan, sehingga membawa dampak positif bagi bangsa dan negara.

Oleh : Hasanuddin, MSi
Pengamat Sosial Politik

Penulis : Ketua Umum PB HMI 2003-2005
Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia

Depok, Minggu 3 Januari 2021