Akankah Ada FPI Berjilid-jilid

Akankah Ada FPI Berjilid-jilid
Net/Foto

MUDANEWS.COM – FPI dibentuk pada tgl 17 Agustus 1998 di Ciputat Jaksel, 4 bulan setelah Soeharto lengser. Siapa bohiernya dan apa tujuannya tidak terlalu terbuka pada awalnya. Tapi dalam perjalanannya bisa terbaca siapa di dalamnya dan untuk apa.

Dengan membabi buta FPI menyerang Gusdur, Pancasila, Ulama NU, dan seterusnya.

Rizieq sang orator memang ditugasi bermulut kotor, dan harus terus menyerang pemerintah yang bukan satu gen dengan para mafia.

Merekrut pengikut dari latar belakang preman dan anggota yang bisa dibodohkan. Peran Munarwan sangat sentral sebagai pengatur strategi dan ahli narasi menggiring opini, khususnya memframing Islam dimusuhi dan ulama di kriminalisasi.

Dari catatan buku George Junus AdiTjondro begitu lugas mengulas siapa saja yang bermain sebagai pendana dan duitnya dari mana. Termasuk Firza adalah talang penyalur uang dana operasional melalui MCR (master control room) atau pusat pengendali sekaligus pengumpul dana.

Adalah Riza Chalid MCR Cendana loncat ke Cikeas dengan sumber yang sama mengumpulkan fee migas yang konon besarnya $.0,50 per barel. Jadi jejak Cendana, Cikeas dan terakhir masuk Chaplin. Hal itu sangat mungkin karena DNA nya sama, mereka anak kandung orba.

Serangan massif FPI terasa sejak hadirnya Jokowi. Mulai Obor Rakyat, demo berjilid 411, 212. Lihat yang terlibat. FH, FZ, AR, SBY, Zulhas, para warga Arab keturunan yang liar. Targetnya adalah menurunkan Jokowi di tengah pemerintahan, agar lawannya melenggangkan badan menggantikan, Framming keributan untuk tujuan pemakzulan karena kekalahan pasangan PS dan HRJ. Begitu berutalnya pikiran liar mereka, kalah secara konstitusi maunya pakai cara melucuti.

Tapi Tuhan berkehendak lain, kezholiman tak dibiarkan, Jokowi tetap bertahan sampai periode pertama masa jabatan dia bekerja meratakan pembangunan.

Periode kedua yang di menangkan Jokowi lagi dengan pertaruhan perpecahan yang didesign. Jelas jualan agama, serta isu PKI dan antek China digaungkan, tapi sekali lagi semua dapat dikandaskan atas izin Tuhan. Sebuah kemenangan buah dari proses kebaikan melawan kezhaliman.

Cukup jelas FPI alat siapa, dana besar dari mana, ini yang terus dipelihara. Sanggahan boleh saja bahwa Cendana dan Cikeas tidak terlibat, tapi hadirnya para habib liar berpesta dengan Cendana dan PKS juga berfoto ria, dari semua fakta itu mengakumulasi pada gerakan serangan ke pemerintahan yang terus dilakukan secara berkelanjutan.

FPI secara legal standing sudah dibubarkan, tapi pasukannya tetap berkeliaran secara liar. Inilah yang akan dipunguti oleh para bohier yang masih terus melipir bagaimana agar terus bisa merebut kekuasaan agar kembali bisa melakukan kerusakan.

Kewaspadaan tingkat tinggi harus terus diberlakukan, jangan dikasi dengan alasan apapun keluar izin untuk ormas yang menamakan agama, yang kelak pasti disalahgunakan.

Harus diwaspadai FPI dengan baju seragam baru. Seperti halnya zaman orba ada Golkar kuning, merah dan hijau. Apa tidak mungkin nanti akan hadir misalnya PKS versi a,b dan c yang isinya DNA yang sekarang dilarang, disanalah mereka dibuatkan sarang.

Mengamati gejalanya lihat saja yang nyinyir saat FPI di bubarkan, mereka meracau bak kambing kurang minum. Begitu jelasnya perlakuan buruk yang di produksi bertahun oleh FPI, tapi karena memang itulah doktrin yang dipakai sebagai sebuah pasukan pengacau dan pemecah belah bangsa serta agama, mereka jelas bersama ada disana.

Kesimpulannya mereka adalah pelaku pembibitan keburukan itu. Mereka akrab dengan Cendana, dan bahkan mungkin saja mereka penerima aliran dana sekaligus sbg MCR. Lihat saja ucapan selamat dari mereka atas deklarasi Front Persatuan Islam.

Jadi kita harus tetap waspada agar Indonesia tetap terjaga. Karena mereka akan tetap hadir dengan balutan beragam, tapi koor suaranya sama.

INDONESIA HARUS BEBAS DARI SEMUA TINDAKAN KEKERASAN YANG MENGARAH KEPADA PERPECAHAN. INGAT MEREKA SUDAH MENERIMA SUSUPAN ASING YANG PUNYA KEPENTINGAN MENGHANCURKAN INDONESIA SECARA NYATA.

INDONESIA TETAP HARUS INDONESIA, KITA TIDAK MAU ADA INDONESIA KW 2.

Oleh : Iyyas Subiakto

Taman Dayu, 010121