Istri Nabi Masuk Neraka, Istri Fir’aun Masuk Sorga

Ketika Nabi Nuh Menyampaikan Laporannya
Hasanuddin

Oleh : Hasanuddin

Allah sudah tetapkan bahwa sama sekali tidak boleh ada paksaan dalam urusan keyakinan. (QS. Al-Baqarah (2) ayat 256). Sebab itu, wahai kalian yang telah meraih iman, bertaubatlah dengan sebenar-benarnya, berdasarkan kesadaran mu sendiri, dengan setulus-tulusnya. (QS. al-Tahrim (66) ayat 8).

Kebanyakan manusia memperturutkan egonya, demi meraih sesuatu yang diluar batas kemampuannya. Untuk ambisinya itu, tidak jarang manusia memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Hal seperti itu dicontohkan oleh Allah di dalam Alquran dengan mengisahkan kisah para penguasa Mesir, yang bergelar Firaun. Kenapa Firaun yang dijadikan contoh, karena pada masa itu, bahkan mungkin hingga dewasa ini, tidak ada penguasa yang keangkuhan dan kesombongannya seperti Firaun, disebabkan karena prestasi yang dicapai oleh Dinasty ini selama ratusan tahun berkuasa. Kediktatoran rezim Firaun ini mencapai puncaknya pada masa Nabi Musa, yang memperbudak Bani Israel (keturunan keluarga Yakob, yang menetap di Mesir pada masa Nabi Yusuf). Namun seberapa besar pun pengaruh politik dari Firaun ini, dia tidak memiliki kemampuan menghadapi istrinya, yang bermaksud mengangkat Musa sebagai putra angkatnya (QS. Al-Qashash ayat 8-9). Pun juga tidak mampu mengubah keimanan istrinya yang masih berpegang teguh pada ajaran Nabi Yusuf Alaihissalam, yang pernah menjadi agama mayoritas di Mesir di era Kenabian Nabi Yusuf. Ketidakmampuan Firaun memaksakan hkehendaknya kepada istrinya, berkat perlindungan Allah kepadanya. Hal ini dikisahkan dalam surah al-Tahrim ayat 11; Allah SWT berfirman:

Dan, bagi orang-orang yang telah meraih iman, Allah telah mengemukakan suatu perumpamaan dalam (kisah tentang) istri Fir’aun ketika dia berdoa, “wahai, Tuhanku! Bangunkanlah untuk sebuah rumah di dalam sorga (yang berada) disisi-Mu, dan selamatkan lah aku dari Fir’aun dan perbuatan-perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim”

Demikianlah istri Fir’aun memperoleh jaminan dari Allah masuk sorga atas keimanannya, yang dilakukannya tanpa paksaan, dimana Fir’aun suaminya sendiri yang sangat ditakuti seluruh negeri Mesir itu, tidak mampu memaksakan kehendak kepadanya.

Namun sebaliknya, jika pada kisah diatas, istri Fir’aun diktator, tiran, pembangkang paling angkuh itu dijamin oleh Allah masuk sorga, tidak demikian halnya dengan istri Nabi Nuh dan Istri Nabi Luth. Istri kedua Nabi ini, tidak mau menuruti ajakan suaminya agar beriman dan bertakwa kepada Allah, padahal suaminya adalah seorang Nabi. Dan kedua Nabi ini, sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengarahkan istri-istri mereka. Akhirnya Allah tetapkan bagi mereka masuk neraka. Kisah tentang kedua istri Nabi yang masuk neraka ini, disampaikan dalam Alquran surah al-Tahrim ayat 10 sebagai berikut, Allah SWT berfirman:

“Bagi mereka yang bersikeras mengingkari kebenaran, Allah telah mengemukakan suatu perumpamaan dalam (kisah tentang) istri Nuh dan istri Luth:mereka menikah dengan dua orang diantara hamba-hamba Kami yang saleh, dan masing-masing mereka itu hianat kepada suaminya, maka kedua (suami) itu sama sekali tidak akan dapat membantu kedua perempuan ini ketika mereka dikatakan “masuklah ke dalam api bersama seluruh orang (berdosa lainnya) yang masuk ke dalamnya!

Dewasa ini, bermunculan para penganjur syiar agama seiring dengan perkembangan media sosial yang makin banyak variannya. Tentu saja disatu sisi hal itu menggembirakan, namun disisi lain ada pula yang nampaknya motivasinya bukan untuk syiar agama, tapi semata untuk memperbanyak followers saja.

Mereka selama ini kurang dikenal latar belakang pendidikannya pernah mondok atau sekolah dimana, atau pernah belajar kepada Ulama yang mana dalam mempelajari dan mendalami ajaran Islam. Dalam perspektif pembelajaran sosial hal itu baik-baik saja. Hanya saja para nitizen perlu berhati-hati dalam memilah ulama mana yang sebaiknya dijadikan rujukan.

Saya sebut satu contoh misalnya Prof Quraish Shihab, (karena kebetulan ini yang sering saya simak ceramahnya) di channel YouTube beliau. Banyak ulama yang sealiran pemikiran dengan beliau yang juga patut untuk didengarkan pandangan keagamaannya.

Sementara itu, ada jenis penyampai syiar yang seolah hanya pendapatnya saja yang benar. Kurang wise dalam menghormati perbedaan-perbedaan pandangan. Jika menemukan yang seperti ini, kami anjurkan jangan dijadikan prioritas sebagai refrensi. Ada pepatah yang mengatakan “air beriak tanda tak dalam”. Hanya Kiyai dari ormasnya saja misalnya yang dipuja-puja, lalu mengajak memusuhi cara pandang yang berbeda.

Sebagaimana telah kami sampaikan diawal uraian diatas, bahwa Allah SWT telah menetapkan; Tidak boleh ada paksaan dalam hal keyakinan agama. Sebab itu, marilah kita menghindari cara-cara yang tidak sesuai ketetapan Allah tersebut. Sebaliknya dalam melaksanakan ajakan kepada kebenaran, lakukan dengan bilhikmah wal mauidzatil hasanah. Sikap seperti ini hanya dapat ditemukan pada mereka yang menyakini bahwa masalah keimanan atau ketidak-beriman-an seseorang, semuanya dalam genggaman kekuasaan Allah SWT, sebagaimana setiap jiwa kita dalam genggaman-Nya.

Demikian halnya dengan pemerintah. Ambil pelajaran dari Firaun, bahwa sehebat-hebatnya keangkuhan Firaun ini, tidak akan mampu mempengaruhi keimanan istrinya sekalipun. Sebab itu, pemerintah cukup berpedoman kepada UUD 1945 pasal 29 bahwa _negara menjamin kebebasan tiap-tiap pemeluk agama untuk menjalankan ajaran agama dan kepercayaannya masing-masing_. Cukup itu, tidak perlu berbuat melampaui batas, apalagi melontarkan tuduhan toleran-intoleran. Bukan tugas pemerintah itu, serahkan saja kepada para pemimpin umat di kalangan ormas untuk mengatasi hal-hal yang terjadi terhadap binaan mereka masing-masing. Tugas pemerintah adalah berdiri tegak diatas pondasi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Prinsip non-diskriminasi ini, sangat penting bagi pemerintahan siapapun, kapan pun dan di negara mana pun. Pada keseluruhan fungsi regulasi, fungsi eksekusi, fungsi anggaran, fungsi adminitrasi dan ketatanegaraan berpeganglah pada prinsip Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Demikianlah Islam mengajarkan kita untuk bersikap adil, karena adil itu prilaku yang sangat dekat dengan ketakwaan. Artinya ukuran keimanan dan ketakwaan para pemimpin itu terletak pada keadilan mereka dalam mengendalikan pemerintahan.

Pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) oleh aparat pemerintah, seringkali disebabkan sikap pemimpin tertinggi pada suatu pemerintahan. Kalau di negara kita pada Presiden.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua, (pemerintah dan masyarakat) dalam mencapai tujuan kita bernegara.

Depok, 27 Desember 2020

Penulis Ketua Umum PB HMI periode 2003-2005.