Dari Petani, Belajar Mengabdi untuk Indonesia

Dari Petani, Belajar Mengabdi untuk Indonesia
Ibu Ciyem Petani Majalengka & Sahabat Rahmat Nuriyansah Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Eksplorasi Tekhnologi PKC PMII Jawa Barat (Dokumentasi 2016)

MUDANEWS.COM – Sekitar beberapa tahun silam lamanya saya ditugaskan untuk advokasi petani, di kawasan hutan Majalengka. Rangkaian peristiwa kerap selalu menjadi ancaman para petani, yakni semakin maraknya tingkat kriminalisasi petani dikawasan hutan oleh pihak perhutani.

Perkenalkan ini namanya adalah Ibu ciyem sosok wanita hebat yang menggarap lahan yang puluhan tahun untuk menghidupi keluarga dan anak nya. Beliau juga sosok yang menjaga saya & selalu menyiapkan sarapan pagi sebelum beliau beraktifitas, selama saya dihutan bersama sahabat saya. Hari datang silih berganti, sampai tidak berasa berganti tahun rambutku hampir gondrong, celana saya juga masih robek-robek hehe hari pertama disambut hangat oleh keluarga besar beliau di tengah-tengah hutan.

Pertanyaan beliau muncul “kenapa aa mau tinggal disini, gubuk kotor beralaskan tanah ketika hujan datang juga tidak bisa tidur karena kehujanan, tanah pun basah” aku jawab; saya mendapatkan tugas dari sahabat saya untuk menjaga Petani dikawasan hutan Ibu. Supaya semua petani bisa menggarap lahan tenang. Awalnya memang demikian, seiring berjalan-Nya waktu semuanya berubah.

Beliau memperlakukan saya seperti anak sendiri kasih sayang nya sangat luar biasa, saya pun memeluk erat beliau. Dan selalu bilang Ibu tetap semangat. Rutinitas saya pun dimulai di tengah-tengah hutan. Saya menyapa seluruh petani kawasan hutan yang sedang beraktifitas, ada yang mencangkul, menanam, menyiram, memupuk bahkan mandi di air kubangan. Dan saya pun ikut mandi di air kubangan selama dikawasan hutan. Banyak orang kaya diluar sana dan selalu membusungkan dada. Hari itu saya belajar banyak dari cara mereka hidup & cara mereka berjuang ditengah-tengah hutan.

Saya merasa malu, ketika melihat ratusan petani hidup penuh dengan semangat juang yang tinggi. Lantaran banyak anak muda yang sering berkeluh kesah tanpa semangat juang. Saya pun sampai masuk pada fase perkenalan yang mendalam dengan seluruh petani melalui kegiatan tadarus bersama di kawasan makam serta memakan nasi tumpeng dan masakan hutan. Ternyata saya lahap & bahkan sangat lahap memakannya. Karena masakannya baru saya temukan dan rasanya sangat lezat sekali. Saya pun mencoba bertanya-tanya kepada ibu-ibu yang membuat masakan super lezat itu. ”Ibu bolehkan saya tau resep masakan super lezat yang sering Ibu buat? Boleh Aa, aa mau belajar masak? Ujar beliau” boleh Ibu. Memang semuanya dihutan serba tradisional dan sangat asri.

Sayapun tidak mau membuang waktu, saya belajar berkebun & memasak juga dengan beliau. Kebetulan dulu sedikit dibekali Ilmu pertanian juga jadi tidak gagap dalam berkebun. Minimal tau fungsi mulsa, cangkul, traktor, tempat pembenihan (green house), jarak bedengan, jarak tanam, cara menanam, cara menyiram, cara memupuk, cara menyemprot, sanitasi lahan bahkan sampai memanen. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik & hasilnya pun bisa sesuai dengan apa yang diharapkan.

Rutinitas dihutan pun berjalan dengan baik, berdiskusi, yasinan, & bercerita soal kehidupan. Semuanya tersenyum dan tertawa terbahak-bahak dibalik semangat juang seluruh petani. Sontak, masuk pada saat saya pamit & undur diri dari hutan. Ibu ciyem tiba-tiba menangis dan berlari memeluk saya. Beliau bilang “terimakasih Aa selama ini sudah menjaga Ibu, keluarga dan seluruh petani ditengah hutan” saya pun menjawab; saya yang berterimakasih kepada Ibu & seluruh Petani Majalengka.

Saya dapat pelajaran banyak dari Ibu Ciyem, keluarga, dan seluruh Petani yang berada dihutan. Tentang semangat juang yang tinggi & kemanusiaan. Saya tidak pernah lupa dengan Ibu, keluarga & seluruh petani. Dan suatu saat saya akan datang kembali berjumpa dengan Ibu, keluarga dan seluruh Petani dihutan.

Selamat Hari Pahlawan Ibu Ciyem, sosok yang sudah menjaga & merawat saya selama Advokasi Petani dikawasan hutan.

Jakarta, 10 November 2019
Penulis: Sahabat Rahmat Nuriyansah Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Eksplorasi Tekhnologi PKC PMII Jawa Barat