Mudanews.com Surabaya — Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat menuai kecaman dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat Madura. Salah satunya datang dari Firman Syah Ali, tokoh aktivis Nahdlatul Ulama (NU), yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk arogansi kekuasaan global yang semakin tak terkendali.
Firman menyebut peristiwa ini sebagai gambaran nyata memburuknya tatanan dunia internasional. Menurutnya, praktik penangkapan kepala negara secara sepihak menunjukkan bahwa hukum internasional telah bergeser menjadi hukum rimba, di mana kekuatan militer dan politik menjadi penentu utama.
“Ini kok main tangkap seenaknya. Semakin lama semakin barbar tatanan dunia. Ini hukum rimba. Penangkapan Maduro adalah sinyal keras bahwa siapa pun saat ini bisa ditangkap kapan saja oleh kaisar dunia, Amerika Serikat,” ujar Firman kepada mudanews.com, Senin (5/01/26)
Ia menegaskan, jika praktik semacam ini terus dibiarkan, maka kedaulatan negara-negara berkembang akan semakin rapuh. Firman menilai, tidak ada lagi jaminan keamanan politik bagi pemimpin negara yang berseberangan dengan kepentingan Amerika Serikat.
Lebih jauh, Firman juga menyoroti sikap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilainya pasif dan kehilangan wibawa. Ia menyebut lembaga dunia tersebut seolah memilih diam di tengah tindakan sepihak yang mencederai prinsip hukum internasional.
“Saya lihat PBB pasif dalam hal ini, sepertinya takut kepada Amerika Serikat. Bahkan terhadap ulah-ulah Amerika sebelumnya mereka juga diam saja. Wujuduhu ka’adamihi, adanya sama dengan tidak adanya,” tegasnya.
Menurut Firman, jika kondisi ini terus berlanjut, dunia akan semakin terang-terangan berada dalam era Pax Americana, di mana hukum dan keadilan global ditentukan sepenuhnya oleh kepentingan satu negara adidaya.
Ia juga mengingatkan bahwa Nicolas Maduro dikenal sebagai salah satu pemimpin dunia yang konsisten membela negara-negara tertindas, termasuk dukungannya terhadap perjuangan Palestina. Oleh karena itu, penangkapan tersebut tidak bisa dilepaskan dari sikap politik Maduro yang kerap berseberangan dengan Barat.
Firman menilai, membiarkan Maduro menghadapi tekanan global seorang diri merupakan bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas internasional. Ia mengajak negara-negara yang masih menjunjung peradaban untuk bersuara lantang.
“Saya meminta negara-negara beradab untuk tidak diam saja. Harus teriak. Diam terhadap sebuah kejahatan adalah bagian dari kejahatan itu sendiri. Orang seperti Maduro jangan dibiarkan sendirian. Harus dibela,” pungkasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan peringatan bahwa jika dunia terus memilih diam, maka penindasan global akan menjadi hal yang dinormalisasi, dan siapa pun bisa menjadi korban berikutnya.**(Red)
