Kim Jong Un Beri Hukuman Berat Bila Warga Tertangkap Nonton Drakor

Kim Jong Un Beri Hukuman Berat Bila Warga Tertangkap Nonton Drakor
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. (Net/Foto)

MUDANEWS.COM, Medan – Belakangan beredar kabar pemimpin Korea Utara Kim Jong Un beri hukuman berat bagi warganya. Bukan tanpa alasan, hukuman itu diberikan pada mereka yang tertangkap meniru dan menonton Drakor (Drama Korea Selatan).

Menurut sebuah laporan, Kim Jong Un sedang melakukan perang atas kata-kata terhadap bangsanya yang berbicara seperti tetangga mereka yakni Korea Selatan. Beredar juga video yang menunjukkan warga Korea Utara dihukum akibat perbuatan tersebut.

Melansir dari Radio Free Asia, Selasa (28/7/2020), berikut ulasan informasinya untuk Anda.

Kampanye Hilangkan Budaya Pop Korea Selatan

Korea Utara telah meningkatkan kampanye untuk menghilangkan pengaruh budaya pop Korea Selatan. Hal ini lantaran menurut sumber pejabat senior dari Korea Utara, sekitar 70% dari 25 juta warga di negara itu secara aktif menonton siaran televisi dan film dari Korea Selatan.

“Seorang pejabat senior mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen dari 25 juta orang di negara itu secara aktif menonton acara TV dan film dari Korea Selatan,” menurut sumber dari Korea Utara.

Meniru Ekspresi dan Ucapan Korea Selatan

Garis keras Pyongyang atas kekuatan lunak Seoul juga telah mengambil ceramah video oleh para pejabat. Video tersebut menunjukkan orang-orang dihukum akibat meniru ekspresi, tulisan serta ucapan populer dari Korea Selatan.

“Menurut pembicara dalam video itu, 70 persen penduduk di seluruh negeri menonton film dan drama Korea Selatan,” kata seorang penduduk Chongjin, ibukota provinsi Hamgyong Utara, di mana video itu ditayangkan di semua lembaga pada 3 dan 4 Juli.

Budaya Korea Utara Memudar

Sang pembicara juga memperlihatkan kecemasannya. Sebab, menurutnya budaya nasional negaranya telah memudar. Tak hanya itu, mereka juga membahas mengenai hukuman bagi siapa saja yang nekat menggunakan budaya Korea Selatan.

“Dalam video itu, seorang pejabat dari Komite Sentral [Partai Pekerja Korea] membahas upaya untuk menghilangkan kata-kata Korea Selatan, dan contoh-contoh bagaimana mereka yang menggunakannya dihukum,” kata sumber itu.

Hukuman Bagi Pelanggar

Tidak tanggung-tanggung, video tersebut juga memiliki rekaman proses penangkapannya. Mereka yang nekat menggunakan bahasa dan tulisan dari Korea Selatan ditangkap serta diinterogasi oleh pihak kepolisian.

“Lusinan pria dan wanita dicukur kepalanya dan mereka dibelenggu ketika penyelidik menginterogasi mereka,” kata sumber itu.

Konsumsi Film dan Drakor Meluas

Sebenarnya, aspek-aspek bahasa Utara dan Selatan telah menyimpang selama tujuh dekade sejak pemisahan keduanya. Akan tetapi, Korea Utara terus mencoba meningkatkan status dialek Pyongyang kepada warganya. Namun, konsumsi yang meluas dari film dan drama Korea Selatan membuat Seoul menjadi populer di kalangan anak muda.

“Sudah terlambat untuk mencegah orang tergoda oleh budaya Korea Selatan, karena daya tariknya sudah sangat mengakar,” kata sumber Chongjin.

Hukuman Bisa Lebih Parah

Sumber tersebut mengatakan, ada kemungkinan hukuman bisa menjadi lebih parah dari apa yang ditunjukkan melalui video yang beredar.

“Mulai bulan ini, pihak berwenang akan menggunakan berbagai teknik, termasuk hukuman hukum yang lebih berat, bersama dengan proyek-proyek pendidikan ideologis, untuk mencegah infiltrasi lebih lanjut dari budaya Korea Selatan,” terang sumber itu.

Mulai Dilaksanakan Minggu Ini

Seorang pejabat dari Badan Peradilan Kota Pyongyang memaparkan hukuman yang lebih keras sedang dilaksanakan minggu ini.

Pihak berwenang sekali lagi memerintahkan Pyongyang dan daerah perkotaan lainnya di seluruh negeri untuk menghukum mereka yang meniru bahasa Korea Selatan,” ungkap pejabat itu yang menolak disebutkan namanya, kepada RFA.

Perintah Datang dari Kim Jong Un

Lebih lanjut, dia mengatakan perintah tersebut datang menyusul tindakan keras di ibu kota yang berlangsung dari pertengahan bulan Mei hingga awal bulan Juli.

“Mereka mendapati bahwa banyak remaja yang meniru gaya dan ekspresi bahasa Korea Selatan,” kata pejabat itu.

“Pada bulan Mei, total 70 orang muda ditangkap setelah penumpasan dua bulan oleh polisi Pyongyang, yang terjadi ketika Tertinggi Martabat (istilah kehormatan untuk Kim Jong Un) mengeluarkan perintah untuk ‘sangat mengobarkan perjuangan melawan budaya pemikiran yang tidak biasa’,” sambungnya.

“Para pemuda yang ditangkap diduga gagal melindungi identitas dan etnis mereka dengan meniru dan menyebarkan kata-kata dan pengucapan Korea Selatan,” lanjutnya.

Direkam dan Dijadikan Tampilan Kuliah Wajib

Penangkapan dan interogasi tersebut nantinya akan direkam. Hal ini bertujuan agar dapat digunakan dan ditampilan pada kuliah wajib.

“Dari beberapa waktu lalu di Pyongyang, tren menonton film dan drama Korea Selatan dan meniru kata-kata dan tulisan Korea Selatan masih berlaku di kalangan anak muda, tetapi itu tidak menjadi masalah sampai sekarang, karena [polisi] menerima suap ketika menangkap mereka saat beraksi, ”kata pejabat itu.

“Namun, posisi pihak berwenang adalah bahwa tahap pendidikan untuk remaja sudah berakhir, sehingga hukuman hukum dan administrasi partai karena membiarkan invasi budaya Korea Selatan akan jauh lebih parah di masa depan,” kata sumber itu.

Invasi Budaya Kapitalis

Pihak otoritas Korea Utara merevisi Hukum Pidana pada thun 2015. Pihaknya ingin menaikkan hukuman maksimum menjadi 10 tahun penjara karena adanya invasi budaya kapitalis. Ini merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menonton atau mendengarkan media dari luar Korea Utara.

Sementara itu, Kim Jong Un pada tahun 2017 secara pribadi memerintahkan ‘penghancuran fenomena non-sosialis’. Bahkan, The Rodong Shinmun, surat kabar resmi Korea Utara, telah memperingatkan para pemuda untuk tidak lagi melihat media asing pada tanggal 26 Mei.

“Jika Anda tidak bisa tetap waspada terhadap satu film atau lagu, dan meniru itu, budaya nasional secara bertahap akan berubah warna, dan busuk gaya hidup materialisme akan menang,” tulisnya.

Sumber : Merdeka.com