Saat Matahari Tak Terbit Lagi dari Timur

Saat Matahari Tak Terbit Lagi dari Timur
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Kita dapat mengetahui dalam posisi saat ini bahwa matahari setiap paginya terbit dari arah timur, kemudian kita memastikan akan tenggelam di arah barat. Pengetahuan ini disebabkan oleh dua hal; pertama, sudah begitu dari dahulu yang kita saksikan, maksudnya mengetahui karena kita sendiri mengalaminya. Kedua, saat kita memiliki pengetahuan tentang perputaran matahari yang kita pelajari dari buku-buku dan ataupun yang diajarkan oleh seorang yang kita sebut guru, atau seorang ilmuwan. Adakah faktor ketiga, karena memikirkannya?

Nah, dua pengetahuan itu adalah pengetahuan yang sangat mendasar dan mungkin sangat sulit kita sanggah, seperti kita sangat sulit sekali menyanggah bahwa matahari memang benar-benar terbit dari arah timur dan tenggelam di arah barat. Maksud pembicaraan ini tidak terlalu masuk ke dalamnya, ini hanya sekedar obrolan saja, ya mungkin ini asyik.
Tapi mari kita coba berpikiran atau berpengetahuan terbalik. Alangkah lebih seru jika kita ungkapkan dengan beberapa pertanyaan. Maksud saya begini, kita coba sedikit membangunkan pengetahuan kita yang sudah masuk ke zona nyaman itu, sehingga kita kadang tidak pernah lagi untuk memikirkannya. Akhhh, apa guna memikirkan itu? Sebuah pertanyaan dari orang yang tak mau melatih akalnya.

Pertanyaannya begini, mungkinkah matahari saat ini akan terbit dari barat? atau sama sekali tidak terbit lagi, dia padam kemudian diganti oleh benda langit lagi yang seperti dia, tapi tidak matahari lagi. Hanya persis saja, ya mungkin jaraknya lebih dekat dengan planet yang kita tempati ini atau lebih jauh. Jika benar-benar terjadi, tentunya apabila lebih jauh maka planet kita ini akan selalu redup. Akhh, ini semakin menambah penghasilan perusahaan listrik. Dan apabila jaraknya lebih dekat dengan bumi ini, maka tentunya kita akan mengalami kegerahan yang amat sangat karena panas. Akhhh, ini pun sangat menguntungkan penghasilan perusahaan kipas angin, AC, jual es batu, dan alat-alat pendingin lainnya untuk menyamankan suhu udara.

Saya juga tidak tahu ke mana arah pembahasan ini. Apakah ini tentang astronomi atau sebuah ramalan amatir, saya tidak tahu. Entah kenapa saya ingin sekali memikirkan ini dan menuliskannya. Anggaplah ini pikiranku ini sedang berpetualang. Ya…, memang kita sebagai manusia salah satu tugasnya itu, memikirkan segala apa yang ada di langit dan di bumi. Seorang teman yang usianya sangat tua dari usia saya pernah mengatakan bahwa kita ini adalah makhluk bumi dan sekaligus makhluk langit.

Bukti kita sebagai makhluk bumi yaitu adalah secara fisikli tubuh kita sendiri beserta kebutuhan dan kebergantungan kita pada apa yang dari bumi. Kedua, kita sebagai makhluk langit, maksudnya adalah ruh kita yang ditiupkan dari langit. Bukti yang kedua ini mungkin saat kita dapat menyatu dengan ruh kita maka kita bisa terbang, lebih ringan dari awan, udara atau apalah itu, sebagaimana orang bisa berjalan di atas air, keseimbangan tubuh saat berjalan di atas kayu yang kecil tapi kuat, atau di atas tali, dan macam-macamnya.

Yaps, kembali lagi pada matahari tadi. Saat matahari tak lagi terbit dari timur, apakah dunia ini akan berakhir? Dan kalau tidak berakhir dari manakah matahari akan terbit? Dan juga bagaimana kalau matahari hancur lebur? Pertanyaan terakhir ini, jika tak kiamat, saya yakin sekali akan ada planet lain.

Saya sedikit ingin membocorkan mimpi saya beberapa bulan yang lalu yang masih mengganjal di pikiran dan di hati saya. Mimpinya begini, saat itu saya di sebuah tempat melihat matahari dan beberapa planet bertabrakan dengan bumi yang kita tinggali ini.

Tentunya pasti terjadi bencana, bukan. Nah, anehnya bumi kita tidak hancur. Yaa….hanya mendapatkan gumpalan-gumpalan cairan seperti lumpur dingin yang membalut beberapa wilayah bumi ini. Tapi pastinya tidak hancur, dan manusia beserta makhluk hidup lainnya tetap bisa hidup. Inilah sedikit dari cerita mimpi saya waktu itu. Lebih lengkapnya saya tidak dapat menuliskannya panjang kali lebar, takut dikatakan melebar.

Oke, kita balik lagi. Saat matahari – entah kapan itu, tidak lagi terbit dari timur maka tentunya bumi ini akan gelap, kalau pun terang lagi itu pasti terlambat. Dan saat itulah jam mahal yang ada di tangan kita tak ada gunanya lagi, jam dinding mahal yang menghiasi rumah-rumah istana tak ada gunanya lagi. Uang tak lagi membuat senang, kuasa tak lagi berguna, dan masihkah ada cinta? Lantas bagaimana jadwal beribadah kita?

Nah, ini yang paling menggugah hati dan pikiran saya. Bagaimana jadwal beribadah kita? Bagaimana kita menentukan hari, tanggal dan durasi waktu untuk beribadah? Bagaimana? Silahkan dipikirkan sendiri.

Saat matahari tak lagi tenggelam dari timur, apakah yang harus kita lakukan? Tetap di dalam rumah, atau kita terus menghidupkan lampu rumah kita? Jika terus menghidupkannya, maka biaya listrik rumah dan perusahaan akan bengkak. Jika tidak, kita akan mengurangi jam kerja, tentunya mengurangi komoditas atau kebutuhan yang dibutuhkan manusia. Atau kita kembali ke zaman dahulu kala sebelum listrik ditemukan? Akhkk…tak terbayangkan betapa nikmatnya begitu.

Apakah kita harus selalu membuat api? Mungkin hanya satu tahun semua kayu akan habis di dunia ini menjadi kayu bakar, yang setiap hari saja ada cahaya, hutan terus ditebangi. Satu-satunya cara hanya pasti dengan api, karena hanya api yang bercahaya, semuanya gelap.

Saat matahari tak lagi terbit dari timur, ‘kan ada yang mengatakan bahwa dunia ini akan kiamat. Ya, ini hanya kepercayaan saja, bukan pengetahuan, bukan pula sains. Saat matahari tak lagi terbit dari timur, apa yang harus kita lakukan? Saya pikir kita perlu menggeser bumi atau setidaknya mempercepat putaran bumi pada porosnya. Tapi bagaimana caranya memutar bumi ini seperti seorang anak sekolah memutar globe di kantor kepala sekolah?

Saat inilah kita akan baru menyadari semua kehidupan dari cahaya. Tanpa cahaya kita tak akan bisa hidup. Tidak ada gunanya mata saat cahaya tak ada. Bunga mawar tidak akan indah tanpa cahaya, tidak ada yang indah dan berguna tanpa cahaya. Pertanyaan terakhir saya dalam kesempatan ini; siapakah yang memiliki cahaya itu selain api?[]

Penulis: Ibnu Arsib (Bukan siapa-siapa, hanya manusia biasa)