Solusi Indonesia (Part-3) Al-Quran Pedoman Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Solusi Indonesia (Part-3) Al-Quran Pedoman Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Hasanuddin, MSi

Solusi Indonesia (Part-3)
Al-Quran Pedoman Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Kita mesti mulai dari mana?

Oleh : Hasanuddin, MSi
Pengamat Sosial Politik

MUDANEWS.COM – Pada tulisan terdahulu (part-2) kami sudah menyampaikan beberapa ayat dalam Al-Quran tentang kebenaran firman Allah, dan ancaman bagi mereka yang mengingkarinya. Pada kesempatan ini, kami mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana, namun memiliki signifikansi makna yang teramat penting.

Dengan asumsi bahwa kita terutama umat Islam telah meyakini sepenuhnya kebenaran risalah yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW, serta memiliki pandangan yang sama, bahwa sudah seharusnya Al-Quran menjadi pedoman hidup kaum muslimin dalam menata prikehidupan kebangsaan dan kenegaraannya. Berdasarkan asumsi ini, kita memunculkan satu pertanyaan, “kita mesti mulai dari mana”?.

Sesungguhnya pertanyaan ini telah dijawab oleh para pendahulu kita, para founding fathers kita, bahwa dalam rangka menata sistem sosial, diperlukan kehadiran negara. Dan negara yang kita maksud tentu adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negara ini telah terwujud sebagaimana yang kita saksikan bersama.

Hanya saja, nampakya di negara yang kita cintai ini, nilai-nilai Al-Quran belum nampak hadir dalam nafas dan gerak pembangunan. Sebaliknya teramat nampak paham materialisme (yang telah kami bahas pada part-2) sedemikian kuat menguasai negara yang berdasarkan Pancasila ini.

Dialektika materialisme yang power full itu, hampir-hampir telah membutakan hati para petinggi negeri. Menyilaukan mata para agamawan. Menumpulkan nurani para politisi, merusak mentalitas aparat negara, dan para penyelenggara pemerintahan. Korupsi terjadi di semua lini kehidupan, dari pusat hingga ke desa-desa, akibat mengemukanya paham materialisme ini.

Sebab itu, paham materialisme ini mesti disadari, telah melumpuhkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan, kini saatnya paham materialisme ini berhadapan dengan ajaran Islam, adz-dzikril Al-Hakim, Al-Quranul Kariim.

Kenapa mesti Alquran sebagai solusi untuk mengatasi berbagai dampak buruk dari meterialisme ini? Karena Pancasila sudah berhasil mereka lumpuhkan. Program empat pilar yang digadang-gadang DPR/MPR tidak memiliki pengaruh sama sekali.

Kehadiran BPIP sebagai alternatif baru melengkapi program empat pilar yang digelar MPR, belum apa-apa sudah kehilangan kepercayaan, semuanya dilumpuhkan oleh nalar materialisme.

Maka tidak ada pilihan lain, Al-Quran mesti “diturunkan kembali” ke tengah-tengah manusia dan boleh jadi inilah jalan yang Allah tunjukkan, sebagaimana firman-Nya:

“Dan jika kalian ragu terhadap bagian manapun dari apa yang kami turunkan (Alquran) secara bertahap kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah sebuah surah yang setara nilainya dan panggillah siapa saja selain Allah sebagai saksi bagi kalian; jika yang kalian katakan itu benar. Dan, jika kalian tidak dapat melakukannya–dan pasti tidak akan dapat melakukannya–sadarlah akan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang menanti semua orang yang mengingkari kebenaran (QS. Al-Baqarah (2) ayat 23-24).

Mari kita menyadari kelemahan dari berbagai program yang telah dicanangkan, konsep yang telah dijalankan dengan menghabiskan anggaran negara yang tidak kecil. Lalu kita menerima risalah yang telah Allah turunkan melalui hamba-Nya Muhammad SAW, untuk kita implementasikan dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita.

Apakah itu berarti kita akan merombak sistem ketatanegaraan yang telah ada? Tidak seperti itu. Al-Quran itu landasan etis, prinsip-prinsip moral dalam bermasyarakat. Sementara itu norma dan perundang-undangan tetap diselenggarakan melalui prinsip musyawarah dan mufakat berdasarkan sistem ketatanegaraan yang telah ada.

Bedanya apa jika demikian? Bedanya pada jiwa, watak dan karakter individu warga negara yang berbasis pada nilai-nilai Alquran. Warga negara yang pada dirinya terpatri dengan kuat “Tauhid Islam” atau Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana yang dikemukakan pada sila pertama Pancasila.

Hanya saja, nilai atau landasan etik ini diajarkan sejak diri melalui sekolah-sekolah. Yang tentu saja memerlukan ilmu alat untuk memahami Al-Quran itu. Demikian halnya dengan bagaimana individu-individu Indonesia dalam bersikap dan berperilaku terhadap sesama. Atau dalam “berperikemanusiaan yang adil dan beradab”. Dan seterusnya.

Mungkin akan muncul pertanyaan, ajaran Islam versi yang mana yang mau diajarkan, di antara sekian banyak aliran dalam Islam. Ini pertanyaan bisa saja muncul dan sering muncul. Bukan versi yang mana yang diajarkan. Tapi yang diajarkan adalah ilmu alat dalam rangka memahami Al-Quran.

Ilmu alat untuk memahami Al-Quran ini, seperti bahasa adab, nahwu syarof, balaghah atau mantik. Dengan memiliki ilmu alat, siswa-siswa atau pelajar dengan demikian dapat mengakses langsung dalam memahami Al-Quran. Hal-hal seperti ini sesungguhnya telah berlangsung di pesanteren-pesanteren kita.

Sebab itulah, nasionalisme religius justru bagus di kalangan pesanteren. Semangat bela negara kuat di kalangan pesanteren. Terutama karena telah menjadi suatu keyakinan bahwa hizbul wathon itu bagian dari iman. Itulah hal pertama yang mesti dilakukan; membekali generasi muda Indonesia di sekolah-sekolah dengan ‘ilmu alat’ dalam rangka memahami Alquran.

Peran Ulama

Rusaknya penguasa di suatu negeri, itu karena rusaknya ulama di negeri itu. Demikian yang pernah disampaikan Imam Al-Ghazali. Sekalipun sebenarnya, tanpa kita mengutip pernyataan Al-Ghazali itu, kita juga melihat dan menyaksikan bagaimana ulama-ulama kita telah terperdaya oleh “Hubbuddunya”. Ini tantangan yang seharusnya kita harapkan menjadi perhatian Wakil Presiden kita pak Kiyai Ma’ruf Amin.

Bagaimanapun beliau itu dari kalangan ulama, besar di organisasi Islam, dan organisasi para ulama (MUI). Semestinya beliau-lah yang terdepan memiliki gagasan startegik ini dalam rangka menjawab aneka persoalan laten dalam kehidupan kebangsaan kita, yang disebabkan oleh menguatnya paham materialisme. Semoga Pak Kiyai yang saat ini sedang menjabat Wapres itu membaca tulisan ini.

Tentu beliau akan memberikan perhatian mengenai pentingnya “ilmu alat” dalam memahami Alquran diberikan bagi siswa-siswi kita di sekolah negeri. Agar dengan itu mereka bisa mengakses sendiri kepada Alquran. Lebih bagus lagi, dan tentu suatu suprise tersendiri jika beliau mau terdepan dalam melawan paham materialisme ini.

Kepada para ulama kami ingin mengutip salah satu firman Allah Swt di surah Fathir (35) ayat 32 sebagai berikut:

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka yang ada yang menganiaya diri mereka sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan”.

Yang kita harapkan, adalah ulama yang responsif, terdepan dalam melakulan kebaikan. Dan bukan ulama yang menganiaya diri mereka sendiri. Siapa itu? Mereka yang mengetahui kebenaran Alquran, namun menyembunyikannya demi memperoleh materi, kekuasaan atau kesenangan sesaat. Ulama Su’ seperti ini, tidak dibutuhkan dalam proses transformasi sosial.

Ulama yang diperlukan adalah ulama sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Ulama adalah pewaris para nabi lantara ilmu (yang mereka miliki). Mereka dicintai oleh penghuni langit dan senantiasa didoakan oleh ‘ikan-ikan’ yang berada di samudera hingga hari kiamat”.

Dan tentu saja, sekalipun harapan kami terhadap para politisi di senayan demikian kecil, tetap saja perlu menyampaikan dorongan dan himbauan agar memberikan perhatian terhadap perlunya penambahan jam pajaran bagi siswa-siswa sekolah negeri, terutama dalam rangka dibekali dengan ‘ilmu alat’ guna memahami Alquran.

Kami kira, jika para politisi di Senayan itu percaya kepada Allah Swt, percaya kepada kebenaran Alquran, mereka akan menyampaikan prihal ini kepada mitra kerja mereka di pemerintahan agar melakukan langkah-langkah yang diperlukan.

Kepada Presiden Jokowi, sekalipun cara baca Al-Quran nya belum begitu bagus, tapi saya kira, beliau tidak keberatan mendorong agar siswa-siswa, generasi muda Indonesia diberi bekal pendalaman ilmu Al-Quran. Karena beliau tentu percaya, hal itu besar manfaatnya dalam membangun karakter, integritas, akhlak yang baik, yang besar manfaatnya dalam mengantisipasi berbagai patologis sosial di kalangan milennial.

Akhirnya kepada Allah Swt kita kembalijan segalanya.
Segala puji bagi Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Mengetahui, Maha Melihat lagi Mahalembut, Rabb Yang Maha Pengasih, Yang menurunkan adz-Dzikr al-Hakim dan Alquran al-Azhim kapada utusan-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada pembawa risalah yang terakhir, pemberi petunjuk dalam kegelapan, dan penyampai kitabullah kepada seluruh umat manusia. Muhammad SAW nabi yang ummi yang bergelar al-Amin.