Hijrah: Berubah atau Punah

Hijrah: Berubah atau Punah
Wahyu Triono KS

MUDANEWS.COM, Medan – Salah satu kalimat paling ekstrim untuk mengungkapkan suatu perubahan adalah, “Kiamat selalu berada di depan mata bagi siapa saja yang tidak mau berubah”.

Hari ini 1 Muharam 1442 Hijriyah adalah penanda dan pertanda tentang suatu momentum agar setiap orang bergeser, bergerak menuju suatu perubahan untuk mendapatkan suatu suasana, situasi dan keadaan yang lebih baik. Itulah peristiwa paling monumental yang bisa diteladani dari Nabi Muhammad SAW oleh umat manusia.

Karenanya perubahan adalah suatu keniscayaan, tidak ada pilihan lain selain berubah, sehingga dapat dinyatakan hijrah adalah suatu perintah wajib untuk berubah atau bila tidak kita akan punah.

Hukum Besi Kehidupan

Karena perubahan itu adalah sunatullah, hukum besi kehidupan (setiap besi pasti berkarat), hukum alam kehidupan (setiap hidup pasti mati), maka setiap makhluk sudah pasti dan niscaya untuk berubah.

Secara kodrati dan fisik tak satu alam atau makhluk yang tidak berubah. Matahari, bumi, bulan semua benda langit bergerak dan berubah. Semua makhluk, hewan, tumbuhan bergeser, bergerak dan mengikuti siklus kehidupan yang menjadi sunatullahnya.

Begitu juga manusia, secara fisik dan kodrati tak satupun yang dapat melawan perubahan, dari lahir, bertumbuh remaja, dewasa, menua lalu tiada. Semua bergeser, bergerak mengikuti ikhtiar, nasib dan takdirnya.

Tetapi secara non fisik, sikap, kepribadian, perilaku dan karakter meski usia semakin menua tetap ada yang tak juga berubah menjadi lebih baik, justru tidak sedikit yang bertahan pada perilaku yang buruk dan jauh dari nilai dan tuntunan moral dan agama.

Ada dua faktor yang mendorong suatu perubahan pada diri setiap orang untuk berubah lebih baik, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Kedua faktor tersebut sesungguhnya merupakan suatu keniscayaan pula, lantaran setiap individu manusia yang dipandu akal, nafsu dan hati dan kalbu itu selalu cenderung pada kebaikan dan kesucian (Hanif).

Pendek kata, setiap orang yang menggunakan akal budinya, mengendalikan nafsunya, dan membersihkan hati nuraninya akan senantiasa dan selalu berhijrah atau melakukan perubahan diri untuk lebih baik.

Beradaptasi dengan Perubahan

Beberapa dekade belakangan ini, setiap orang secara eksternal dipaksa untuk berubah untuk beradaptasi dan mengikuti kemajuan teknologi yang semakin pesat, memasuki Era Revolusi Industri 4.0 dan Era Revolusi Smart Society 5.0.

Era Industri 4.0 dan era internet ini seperti gelombang Tsunami menerjang dan menghancurkan siapa saja dan banyak bisnis yang tidak mau dan tidak siap berubah akan segera punah karena ditinggalkan oleh pelanggan.

Dulu naik ojek pangkalan, sekarang naik ojek online, dulu belanja di warung, toko dan pasar sekarang belanja online, dulu beli tiket di travel agen sekarang dengan tiket online, dulu membaca berita di koran dan majalah sekarang baca berita online. Bahkan kuliah dan belajar di ruang-ruang kelas segera ditinggalkan berubah dengan model belajar online atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Bisnis telah berubah, facebook menjadi media terbesar yang tidak perlu menyediakan konten berita. Uber menjadi perusahaan jasa transportasi tanpa menyediakan mobil dan kendaraan, Alibaba perusahan penyedia barang terbesar di dunia tanpa memiliki stok barang sendiri dan banyak model perusahaan lainnya yang menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Sepuluh tahun yang akan datang dari sekarang, 80% seluruh pekerjaan akan diambil alih oleh robot. 800 juta orang akan kehilangan pekerjaan di seluruh dunia.

Wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) juga menjadi pemicu untuk setiap orang menguasai literasi teknologi untuk bekerja, belajar, beraktivitas dalam berbagai bidang dan profesi menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan berbagai aplikasi Sistem Informasi Manajemen (SIM).

Selain itu, hijrah kali ini adalah merupakan suatu perubahan paling fundamental pada perilaku kehidupan kita untuk lebih berpola hidup sehat, menjaga jarak sosial yang baik secara fisik dengan menjaga kebugaran, stamina dan kekebalan tubuh, mencuci tangan, memakai masker dan berupaya untuk tidak tertular dan menularkan virus Corona pada sesama dan keluarga.

Setidaknya, inilah momentum hijrah, perubahan paling mendasar dan monumental bagi siapa saja untuk semakin mengembangkan literasinya melalui pendidikan yang mencerahkan, beraktivitas dan berbuat kebajikan, berperilaku dan berakhlak yang mulia. Sehat secara fisik, psikis dan jiwa, sehat secara mental dan spritual.

Penutup

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), boleh jadi merupakan cara Tuhan memperbaiki setiap kita untuk lebih baik, lebih menguasai literasi teknologi, literasi mendengar, membaca dan menulis dengan pendidikan yang mencerahkan dan menguasai literasi keuangan dan ekonomi agar kehidupan keluarga bangsa dan negara kita selamat dari pandemi dan selamat pula dari krisis ekonomi dan resesi.

Oleh karenanya, ayo berubah dan merubah perilaku, sikap pribadi dan semua literasi kita. Hijrah berarti berubah lebih baik atau kita akan punah didestrupsi oleh teknologi dan pandemi. (WT, 20/8/2020).

Oleh: Wahyu Triono KS
Dosen Administrasi Publik FISIP Universitas Nasional