Peradaban Media Sosial dalam Perkembangan Dakwah Islam

Peradaban Media Sosial dalam Perkembangan Dakwah Islam
Nina Febriani

MUDANEWS.COM, Medan – Media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata “medium“. Secara harfiah kata tersebut mempunyai arti sebagai “perantara” atau “pengantar“, yaitu perantara sumber pesan dengan penerima pesan. Jadi dapat disimpulkan bahwa media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan atau khalayak.

Perkembangan media secara ringkas terjadi pada empat era diantaranya : Era Lisan, Era Tulisan, Era Percetakan, dan Era Teknologi. Era lisan diperkirakan berjalan sekitar 200.000 th – 300.000 th SM. Era yang kedua yaitu era tulisan yang mana perkembangannya terjadi pada tahun 1041 SM. Bentuk hasil dari era tulisan adalah ketika ditemukannya cap-cap tangan di dalam goa dan lukisan tangan yang ada di archa-archa.

Era ketiga yaitu era percetakan yang mana perkembangannya terjadi pada tahun 1450 ketika Johann Gutenberg menemukan mesin cetak untuk pertama kalinya. Dan yang keempat yaitu era teknologi yang mana perkembangannya berawal dari seorang penemu telepon Alexander Graham Bell dan Samuel Morse sang penemu telegraf.

Seiring perkembangan teknologi yang gila-gilaan, mau gak mau kita kudu ngikutin arus zaman yang ada. Tidak terlepas dari life style nya para kaum Milenials yang saat ini tengah sibuk dengan gadget dan internet, maka banyak pula hal-hal yang masuk kedalam pikiran mereka sehingga dapat merubah sikap serta kebiasaan sehari-hari.

Semua tidak terlepas dari setiap postingan yang mereka lihat, maka dari itu media sosial harus lebih bermanfaat untuk kemaslahatan Ummat. Itulah yang mendorong peran para Pengemban Dakwah atau para Aktivis Dakwah untuk berkontribusi agar memberikan postingan-postingan yang lebih bermanfaat.

Dakwah merupakan bentuk masdar dari kata yud’u (fi’il mudhari’) dan da’a (fi’il madii) yang artinya adalah memanggil (to call), mengundang (to invite), mengajak (to summer) menyeru (to propo), mendorong (to urge), dan memohon (to pray), selain kata “dakwah”, Al-Qur’an juga menyebutkan kata yang memiliki pengertian yang hampir sama dengan “dakwah”, yakni kata “Tabligh” yang berarti penyampaian, dan “bayan” yang berarti penjelasan. (Pimay, 2006 : 2).

Dakwah telah dilakukan secara turun temurun. Ketika Rasulullah SAW., meninggal, maka dakwah diteruskan oleh para Sahabat, para Ulama, para Da’I, para Ustadz dan seterusnya sampai saat ini. Pada pentas sejarah, Dakwah Rasulullah dibagi menjadi dua periode yakni Mekah dan Madinah.

Kedua periode ini memiliki karakter dakwah yang berbeda-beda, hal ini dapat dilihat dari perjalanan dan hasil dakwah Rasulullah SAW., para Sejarawan memberikan kategorisasi bahwa dakwah Rasulullah di Mekah bercirikan dengan misi penanaman aqidah terhadap Ummat, sementara di Madinah cenderung terhadap pembangunan sosial kemasyarakatan dan hukum.

Dalam prinsipnya dakwah merupakan aktivitas untuk mengajak dan menyeru manusia agar mengikuti dan menjalankan ajaran Islam. Ajakan ini dilakukan dengan mendekati sasaran sesuai dengan karakteristik mereka dan kecenderungan mereka. Nah, ketika kita menggunakan suatu media, maka proses dari penyampaian dakwah tersebut menjadi lebih mudah.

Ketersediaan fasilitas memunculkan faktor kemudahan menggunakan dan faktor manfaat. Faktor manfaat (perceived usefulness) merujuk pada sejauh mana individu itu percaya bahwa menggunakan suatu perangkat sistem akan meningkatkan prestasi kerja orang tersebut. berdasarkan pemahaman, dimensi kemanfaatan dapat dilihat dari segi meningkatnya produktivitas dan menjadikan kerja lebih efektif (tentunya dalam subjek pengguna).

Maka dari itu, para pengemban dakwah lebih banyak memilih sarana dakwah di media sosial seperti Instagram, Youtube dan Twitter, karena pengguna internet saat ini lebih cenderung menyukai media sosial ketimbang membaca buku atau mengikuti kajian-kajian islami. Dan yang pastinya, postingan-postingan dakwah tersebut lebih ringan dan lebih menarik untuk di konsumsi.

Seperti yang dikutip dari akun Instagram Ustadz Felix Siaw yang mana postingannya berjudul “Allah Maha Baik Kenapa Ciptain Neraka ?“, mendapatkan like sebanyak 80 ribu lebih dari publik yang membaca dan meresapi makna dari caption tersebut. bukan hanya di instagram, banyak pula pendakwah melakukan dakwahnya di Youtube berupa video ataupun gambar animasi. Semua itu dilakukan hanya karena ingin memberikan hal-hal yang lebih bermanfaat untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita sebagai pengguna Media sosial seharusnya juga lebih cerdas untuk memilih postingan yang mana lebih mengarahkan dalam hal kebaikan dan dapat merubah mindset kita dalam bersikap. Karena saat ini adalah tahun-tahun mual yang kita yakini semakin dekat pada proses melahirkan. So cerdas dalam bermedia sosial ya. Wallahua’lam.

Penulis : Nina Febriani (Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Peserta KKN-DR 2020 UIN-SU)