Revitalisasi Peran Gender dalam Menata Kehidupan

Revitalisasi Peran Gender dalam Menata Kehidupan
Evi Fitriyani

MUDANEWS.COM, Medan – Sulit dipahami kehidupan ini, karena semakin banyak mahasiswa yang membicarakan tentang peran seorang perempuan dengan laki-laki. Terutama bagi seorang laki-laki yang tidak setuju dengan adanya gender atau gerakan feminisme lainnya. Memang tidak semua laki-laki berperspektif seperti itu, namun mayoritas para laki-laki tidak mau disaingi oleh seorang perempuan.

Revitalisasi itu sendiri adalah proses, cara dan perbuatan menghidupkan atau mengingatkan kembali tentang sesuatu. Sesuatu seperti apa sih? Sesuatu tentang peran dan kedudukan seorang perempuan dalam kehidupan ini. Tentunya peran yang sesuai dan tidak menyalahi aturan Allah dan Rasulnya yaitu tidak melanggar kode etik dari Allah dan Rasulnya. Tidak kalah pentingnya juga aturan-aturan dari pandangan masyarakat, karena mau tidak mau kita pasti hidup bermasyarakat atau bersosial. Artinya peran yang menurut orang lain atau masyarakat itu dipandang baik dan sesuai dengan etika dan tidak bertentangan dengan apa yang kita harapkan.

Kita sebagai insan di bumi harus mampu mengubah sesuatu yang tabu menjadi sesuatu yang pantas untuk dilakukan oleh semua insan di bumi ini, terutama soal Gender. Setidaknya kita bisa dalam mengubah dan mengingatkan akan pentingnya peran seorang perempuan dalam tatanan kehidupan ini, baik kehidupan sosial, politik, agama, tatanan pemerintahan dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, seorang perempuan harus bisa membuktikan eksistensinya di dunia ini. Buktikan kalau kita bisa dan mampu merekonstruksi suatu peran yang berhak dan sesuai untuk dimiliki atau digenggam oleh seorang perempuan.

Membaca, menulis dan mengaplikasikan dan merealisasikan merupakan cara yang ampuh dan menjadi patokan bagi kita sendiri dalam merevitalisasi suatu perubahan. Sehingga apa yang sudah kita pahami menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dengan begitu, seorang laki-laki tidak akan pernah menganggap rendah diri seorang perempuan dalam kancah atau perannya, baik dalam dunia pendidikan maupun di dunia kerja.

Gender adalah suatu gerakan, wadah, atau organisasi yang didirikan oleh seorang perempuan untuk menunjukkan eksistensinya dalam peran sosial, politik, agama, kepemerintahan dan lain sebagainya.

Dan gender ini dibentuk karena perempuan merasa diimaginalkan dan dianggap tidak mampu dalam semua hal, maka seorang perempuan merasakan ketidakadilan dalam hidup ini. Gender itu sendiri berbeda dengan seks. Jika gender lebih mengarah pada peran dari seorang perempuan dan laki-laki dan sifat gender tersebut dapat dirubah atau bisa dipertukarkan.

Berbeda dengan seks, seks adalah sebuah sifat yang dimiliki oleh seorang perempuan dan laki-laki, yang tentunya itu berbeda dan tidak bisa dipertukarkan karena itu sudah dari pemberian dari Allah yang bersifat kodrati. Di sini saya membahas peran seorang perempuan dikancah sosial dan lain sebagainya.

Berbeda pula jika mau membahas seorang perempuan didalam sebuah keluarga, yang tugasnya atau kewajibannya adalah sebagai ibu rumah tangga. Didalam keluarga saja peran seorang perempuan sangat penting untuk mengatur semua kehidupan keluarga.

Maka seorang istri itu harus mampu mentaati dan mematuhi semua perintah suaminya dalam hal atau ke arah yang benar. Jika seorang istri juga merasa ingin juga berperan di dunia sosial, maka setidaknya dia harus membicarakannya sebaik mungkin dengan suaminya, dan bagi seorang suami supaya bisa memahami dan mengerti akan kemampuan yang dimiliki oleh seorang istri.

Memang, menurut saya yang lebih pantas bekerja dan memimpin itu harus laki-laki, tapi jangan salah kalau seorang perempuan juga berhak berperan sama seperti seorang laki-laki. Jadi, revitalisasi peran gender sangat dibutuhkan untuk menyeimbangi dan membantu dari peran seorang laki-laki.

Didalam Islam pun sendiri tidak melarang seorang perempuan untuk ikut berperan aktif dalam dunia sosial, dengan syarat tidak keluar dari koredornya sebagai perempuan, dan seorang perempuan wajib mematuhi perintah dari Orang Tuanya dan Suaminya. Itulah prinsip yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Prinsip yang mampu membuat kita seorang perempuan sukses dalam segala hal dan tidak lupa pula dengan kehidupan keluarganya.

Penulis : Evi Fitriyani (Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) IAIN Madura)