Tetap Produktif Versi #dirumahsaja Di Tengah Pandemi Covid-19

Tetap Produktif Versi #dirumahsaja Di Tengah Pandemi Covid-19
Siti Zaenab Fitriani.

MUDANEWS.COM – Kira-kira kegiatan apa saja yang bisa kita lakukan selama di rumah saja, mungkinkah ada kegiatan yang lebih bermanfaat selain rebahan?

Tentunya ada, bahkan sangat beragam. Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan selama pandemi ini misalkan seperti membaca buku, aktif mengikuti majelis ilmu, perbanyak ibadah sunah dan istiqamahkan, rutinkan membaca berita yang positif agar tidak mengganggu psikolog kita, jaga pola hidup sehat, selalu berfikir positif dan lakukan hal-hal terbaik bagi sekitar.

Memang tidak mudah untuk melakukan kegiatan tersebut, apalagi kita dihadapkan dengan Ramadhan di tengah pandemi seperti ini. Tetapi justru ketika dipandang dari sudut pandang positif, kita bisa lebih memanfaatkan waktu untuk melakukan ibadah atau hal-hal positif lainnya. Kita punya banyak waktu untuk bisa kembali bertafakur kepada sang Maha Pencipta.

Selama pandemi ini kita mempunyai waktu yang sama, yang berbeda hanya pada pilihan kita untuk menggunakan waktu tersebut. Akankan waktu itu kita gunakan untuk melakukan kegiatan yang positif atau hanya digunakan untuk melakukan hal-hal yang justru kurang bermanfaat.

Kemudian bagaimana caranya agar selain melakukan kegiatan diatas tapi kita juga bisa tetap berkarya?

Imbangi Kegiatan Produktif dengan Berkarya

Selain kegiatan diatas, dengan banyak membaca buku dan informasi maka kita mengimplementasikan menjadi sebuah tulisan, baik itu berupa jurnal, esai maupun opini. Selain bermanfaat bagi orang lain dengan menulis juga baik untuk diri kita sendiri agar bisa mengingat kembali apa yang sudah kita baca dan pelajari. Memang tidak mudah, tetapi kalau tidak dilakukan sekarang, kapan lagi?

Selain itu kita juga bisa melakukan kegiatan lain seperti mengikuti perlombaan yang sekarang banyak dilakukan secara online. Selain sebagai pengalaman hal ini juga penting untuk melatih dan mengetahui sejauh mana kemampuan kita.

Kontribusi nyata lainnya yaitu dengan terjun langsung menjadi relawan dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Bukan hanya sekedar mengikuti tren atau kebutuhan konten atau stok story WhatsApp dan Instagram saja. Melainkan kita niatkan sepenuhnya untuk membantu sesama. Selain itu, kita juga bisa melakukan kegiatan penggalangan dana untuk warga yang terdampak.

Namun permasalahan yang muncul kemudian, bagaimana kalau ada pernyataan “saya juga miskin bagaimana bisa membantu?”. Ya, Kalau semua mengganggap miskin sampai kapanpun kemiskinan itu tidak akan pernah selesai. Kalau kita punya rezeki lebih ya sudah seharusnya kita berbagi meskipun sedikit. Karena dalam rezeki yang kita miliki itu juga hak orang lain.

Hadapi Berita Hoaks dengan Membaca

Di zaman post truth seperti saat ini kita dihadapkan dengan berita hoaks yang semakin merajalela, maka kita sebagai akademisi harus bisa menyaring berita yang ada. Kita tidak boleh mudah terpancing informasi yang baru saja kita dapatkan, lebih baik kita cari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Meskipun berita tersebut kita dapat dari media mainsream sekalipun, kita harus tetap mencari sumber lain, apalagi berita mengenai kesehatan yang saat ini sedang menjadi topik utama.

Dengan mengikuti majelis ilmu itu merupakan salah satu untuk ikhtiar meminimalisir berita hoaks, karena dalam majelis itu segala hal akan dikupas tuntas oleh ahlinya. Entah itu berita kesehatan, ekonomi, politik atau hukum sekali pun. Setelah kita mempunyai ilmu yang cukup maka kita bisa share berita atau informasi tersebut dengan menjadi influencer, relawan atau cukup di media sosial yang kita miliki.

Nah dengan melakukan kegiatan positif, ketika pandemi ini selesai dan kita bisa melakukan aktifitas seperti biasa justru kita jadi belajar mendorong siapapun untuk menyadari bahwa kesalingan adalah penting. Karena hidup ini selalu mengandaikan sebuah relasi. Di sinilah gunanya mendorong agar prinsip relasi harus dilakukan oleh semua orang agar melakukan kesalingan, saling melengkapi, saling menolong, saling mengasihi, dan sebagainya.

Wallahu’alam..
Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thorieq
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Penulis : Siti Zaenab Fitriani
Aktifis Perempuan juga Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung