Matahari Kembar di Jakarta Vs Covid-19

Matahari Kembar di Jakarta Vs Covid-19
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Aturan PSBB diberlakukan di Jakarta,Die Hard Gubernur dan Presiden saling klaim siapa paling merakyat? Sembako dibagikan ke rakyat, bodohnya banyak sanjung puji serta caci maki berseliweran.

Hello … tepikan sanjung puji serta caci maki, karena itu sudah tugas seorang pemimpin. Cukup apresiasi saja itu lebih bijaksana, karena sudah jadi tugas para pemimpin untuk mencari solusi terbaik untuk menyelamatkan rakyat.

Matahari Kembar di Jakarta semakin nampak terlihat, jelas ini hal yang sangat tidak baik. Apalagi di masa penyebaran Covid-19 yang sudah menjadi pembunuh nomor satu di dunia abad ini.

Beda Surabaya dengan Jakarta, Risma dan Chofifah bisa bekerja sama dengan baik untuk menangani penyebaran Covid-19 di Jawa Timur. Cara-cara humanisme dan patut dicontoh oleh wilayah lainnya. Ini harus menjadi wacana antara Jokowi dan Anis Baswedan untuk ibukota kerja bareng saling menguatkan.

Bicara Jakarta dengan berlakunya PSBB ini bisa bertahan berapa lama? Aksi, reaksi dan solusi… bisa juga ada theory conspiracy dalam pengambilan keputusan ini. Kondisi seperti ini pun masih dijadikan ajang mencari keuntungan untuk ….

Seharusnya Jokowi dan Anis Baswedan duduk dalam satu meja saling mengalah demi kepentingan rakyat untuk bermufakat dalam solusi bijak. Jangan jadikan Indonesia seperti Itali atau pun Spain.

Jika dibandingkan antara Surabaya dan Jakarta ekonomi mana yang akan ambruk lebih dahulu? Jawabannya tentu saja Jakarta, karena adanya matahari kembar di sana.

Surabaya mungkin ada penurunan atau sedikit defisit ekonomi serta anggaran susut untuk menangani penyebaran Covid-19, tapi tidak akan mandeg perputaran ekonomi Surabaya dan Jawa Timur.

Beda lagi Jakarta, jika PSBB terlalu lama bisa dipastikan Jakarta akan menjadi kota mati, skenario terburuk asumsikan terjadi kerusuhan di setiap titik wilayah. Alasannya banyak orang setres terlalu lama di rumah, kekurangan pasokan makanan.

Penduduk Jakarta tidak akan bisa bertahan sebulan jika tanpa support dari daerah, semua pergerakan masuk ke ibukota dibatasi. Logistik habis kebingungan, pengiriman dari daerah berhenti karena aturan.

Seperti paragraf di atas kemungkinan terjadi chaos sangat besar, semua itu ada kepentingan. Aksi, reaksi dan solusi! Solusi apa yang akan digunakan, darurat sipil sepertinya bisa terjadi. Tapi lebih bijaksana jika darurat kesehatan yang diambil sebagai opsi mengatasi polemik yang ada saat ini.

Bagaimana bisa mengatasi masalah rakyat jika egois mengejar popularitas, ini darurat kesehatan para pejabat tinggi daerah dan kepala negara harus bergandengan tangan saling support, bukan saling menyalahkan.

Kebodohan para pejabat negara yang tidak bisa berpikir visioner mengantarkan negara terperosok dalam jurang ….

Penulis : Sayuh