Menjaga Kesucian Cinta

Menjaga Kesucian Cinta
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Malam ini, Aku sayang dikau, meskipun harga diriku tak ada, tapi itulah cinta. Membunuhku dan menumbuhkan kegilaan padamu. Tak tampak lagi cahaya pada diriku karena aku selalu memperhatikan bagaimana pesona dirimu.

Bilamana tubuhku telah disiksa oleh segerombolan kegilaan. Aku hanya bisa menahan rasa sakit hanya karena ingin menjaga kesucian cintaku. Betapapun rasa sakit yang aku dapatkan. Tapi tetap jua aku mencintaimu sepenuh hati.

“Ya Allah bang, masih banyak perempuan lain!”.

Perempuan di negeri ini sangat banyak dan permaisuri-permaisuri juga cantik bagikan bidadari yang bersemayam di surga. Jikalau cinta bisa digadaikan pada orang lain. Apalah arti cinta itu. Tapi aku hanya tertujuh pada dikau. Gelas tampak bagus jika kita lihat bentuknya. Namun, cintaku tidak melihat bentuk dan rupa, tapi aku cinta tulus padamu.

Dek, biarlah engkau katakan aku setengah gila. Itu lebih baik bagiku karena dirimu yang ucapkan, tapi jika orang menyebut namamu se-enaknya saja bagiku itu adalah penghinaan cintaku. lebih baik aku dihinakan oleh yang kucinta daripada orang lain yang tidak aku cinta.

Begitulah aku mencintai seseorang, ku sampaikan dengan hembusan ketulusan dan kelak akan kuberikan juga dengan kebahagiaan. Aku ingin malam ini engkau bisa bersamaku. Dan aku ingin mimpiku di hiasi dengan pesona wajahmu yang indah.

Sayang, itulah sebutan kasih cintaku yang ku inginkan kepadamu, tapi entah mengapa, rasanya itu tidak akan mungkin tercapai. terkadang aku hanyalah sebuah budak-budak cinta yang hilang di padang yang tandus.

Jangan biarkan hati ini menangis terus menerus dan terkurung dengan ketidakpastian. lepaskan kegilaannya dari samudera cinta yang luas.

“Kepastian apa lagi bang, aku sudah sampaikan tidak bisa menerima abang.”

Adek. Ijinkan aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Hanya dirimu yang aku inginkan. Rela engkau aku mati!

“Maaf bang, aku tidak bisa, cinta tak bisa dipaksakan, dan aku juga tak mau pacaran sama kawan mantanku.”

Dek, Apakah karena dia adalah temanĀ  abang, engkau tidak mau menerima. Lantas bagaimana kami bisa merdeka dengan cinta.

Bersambung…..

Penulis : Budiman Daulay (Mahasiswa UISU)