Cerpen Ibu
Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Dia. Aku tahu, cara mencintainya dengan benar adalah melupakannya. Serumit itu? Bahkan bahagia pun seakan ikut enggan meniti taman bunga di hatiku. Kemarau berkepanjangan. Retakan timbul di sana dan di sini karena hampir setiap hari mencemburui kenangan.

“Jangan menikah dengan Pram,” mohon Ibu serak di antara batuk dan nafasnya yang mendesis. Aku menangis tanpa bersuara. Seandainya tahu sesakit ini cinta tak mendapat restu dari wanita yang begitu aku hormati, aku tak pernah ingin sekalipun dalam hidup yang singkat ini mengenal dan jatuh cinta pada Prambudi. Pria yang dilahirkan dari masalalu ibu ku yang kelam.

“Dia siapa Nduk?” Ibu menjabat hangat lengan lelaki muda yang hari itu mengantarku pulang kerja. Memaksa ingin bertemu ibu yang tengah sakit, sebulan lalu. Kesehatan Ibu sering terganggu. Mungkin faktor usia dan terlalu keras bekerja selagi muda dulu. Takjim, laki-laki itu mencium tangan Ibu.

“Pram, Bu. Teman kerja Ayin. Semoga ibu berkenan jika untuk selanjutnya saya ingin serius berteman dengan putri Ibu.” Aku mendelik mendengar keberaniannya. Bahkan kami belum pernah membicarakan ini. Tapi yang kulakukan kemudian hanya menunduk dengan dada berdebar. Lalu mereka mengobrol panjang lebar sementara aku disibukkan dengan membuat teh yang rasanya pekerjaan itu tak kunjung selesai.

“Jadi Pram itu putra tunggal Pak Pranoto,” ujar Ibu saat malam setelah kepulangan Prambudi.

“Ibu kenal?”

“Iya, kami teman SMA dulu. Satu kelas. Tapi hanya sampai kelas 2.” Kemudian Ibu diam. Menatapku dengan sangat serius.

“Kamu menyukainya?” todong Ibu. Aku menunduk.

“Jika belum terlanjur, sebaiknya lupakan dia.”

“Ibu?!”

Ibu tidak pernah mengungkapkan alasannya, meski sering aku desak. Apakah Ibu dan orangtua Pram berseteru? Hingga beberapa hari kemudian kesehatan Ibu mulai drop. Jarang menyentuh makanan, sering tiba-tiba pingsan. Puncaknya asma dan jantung ibu kumat sampai di larikan ke rumah sakit.

Apakah semua karena aku? Aku mengecup lengan ibu yang telah basah oleh air mata yang sejak tadi menderas. Hampir seminggu Ibu diopname.

“Pranoto itu tidak pernah memiliki anak,” serak Ibu. Aku mendongak.

“Apakah suatu dosa jika Pram hanya anak angkat atau anak tiri?” tanyaku. Ibu menggeleng. Membuang dan mengambil nafas dengan susah payah.

“Karena sebuah kecelakaan, istri Pranoto di vonis mandul. Tapi mereka tetap saling mencintai dan menginginkan seorang keturunan yang merupakan darah daging Pranoto. Rahasia ini sudah ibu jaga hampir 25 tahun. Waktu itu Ibu dan Ayahmu masih membuka praktik di sebuah Klinik bersalin warisan dari kakekmu. Ayahmu adalah seorang dokter yang hebat dan ambisius.” Ibu tampak menatap tembok seperti merangkai puzle dari masalalu yang tak pernah hilang.

“Pranoto dan istrinya datang menemui Ayahmu dan Ibu. Mereka menginginkan bayi tabung. Tapi mustahil jika dari rahim Arini istrinya. Ayahmu yang saat itu sedang terlibat hutang yang sangat besar pada rentenir dan telah menggadaikan klinik warisan itu, menawarkan sebuah solusi, untuk membeli rahim seseorang untuk dibuahi sperma Pranoto melalui bayi tabung dengan harga yang fantastis. Pranoto dan istrinya setuju.”

“Lalu?” Aku bahkan sudah terlanjur ngeri membayangkan kelanjutan cerita Ibu.

“Ayah memaksa Ibu dan mengancam akan menjual semua harta warisan peninggalan kakek yang sudah tergadai jika tidak mau meminjamkan rahim Ibu untuk dibuahi.”

“Ibu.” Bahkan aku tidak tahu apa suaraku terdengar benar atau hanya berupa cicitan karena shock.

“Dulu Ayahmu seorang dokter yang sangat hebat, baik dan sangat mencintai Ibu. Entahlah, belakangan dia terlibat beberapa kasus malpraktek yang membuat karirnya terancam. Membayar mahal beberapa pengacara untuk memenangkan beberapa kasus yang menjeratnya. Hutangnya bertumpuk. Dari sana temperamennya mulai berubah. Salahnya, Ibu terlalu mempercayai dan tergantung pada Ayahmu sejak awal. Kelahiran kakakmu dengan penyakit jantung bawaan membuat kondisi keuangan kami mengalami banyak kemunduran.” Aku menguatkan genggaman pada lengan Ibu. Aku pernah diceritakan perihal kakak laki-lakiku yang menderita sakit sejak kelahirannya hingga meninggal waktu usianya menginjak 4 tahun.

“Ibu menyetujui usul Ayahmu dengan syarat, meminta bagian pembayaran itu setengahnya dan menceraikan Ibu. Ibu berpikir untuk pergi dari laki-laki yang sudah menghamba uang itu dan merawat kakakmu sebaik mungkin dengan uang hasil menjual rahim Ibu.” Pasti sakit saat itu bagi Ibu. Aku bisa merasakan ledakan emosi yang tertahan dalam tarikan nafas ibu.

“Seperti diperkirakan. Sperma Pranoto sangat subur. Beberapa waktu kemudian, Ibu hamil, berusaha sehat demi putra Ibu. Janin itu, meski tidak pernah ibu inginkan, mereka tumbuh sehat dan membuat Ibu kuat.”

“Mereka? Maksud ibu?”

“Iya mereka. Ibu mengandung bayi kembar.” Aku menangkup mulut kaget. Hampir tak bisa mempercayai apa yang aku dengar. Kembar?

“Bayi itu, Prambudi dan kamu, nduk. Selisih usia kalian hanya 5 menit. Pranoto tidak tahu memiliki bayi kembar. Kami hanya memberikannya seorang anak laki-laki. Sedang bayi perempuan itu, Ibu bawa. Mengancam Ayahmu akan mengadukannya pada yang berwajib karena membuka praktik terlarang jika berani membuka rahasia bayi kembar itu dan mengusik kehidupan ibu selanjutnya.” Kemudian Ibu menangis.

“Maafkan ibu, maafkan ibu yang telah begitu egois. Ibu tahu bahwa kakakmu tidak akan bisa bertahan lama meski seberapa besar dan ingin pun usaha Ibu untuk menyembuhkannya. Ibu hanya ingin punya alasan untuk hidup. Kamulah alasan Ibu bertahan selama ini.” Ibu menangis. Memunggungiku. Membiarkan aku kaku. Tidak siap menerima apapun informasi yang menurutku mustahil. Mustahil aku bersaudara denga Pram. Pria yang aku suka sejak pandangan pertama. Pram saudara kembarku. Meski kami tidak mirip. Tapi ibuku adalah saksi hidup yang nyata.

“Apa yang Ibu inginkan saat ini setelah menularkan penderitaan pada putrimu?” tanyaku dingin. Ibu berhenti menangis. Menoleh pelan dan pastinya dengan jelas membaca kebencian yang terpeta pada mataku. Bangsal rumah sakit ini sepi. Hanya terisi kami berdua. Botol infus tampak sedikit bergoyang. Selang oksigen masih rapih terpasang pada kedua lubang hidung ibu.

“Harusnya Ibu bahagia.” Aku mencium kening Ibu tanpa airmata. Mata wanita yang telah melahirkanku itu tampak mendelik dan sudah berhenti bernafas.

Cinta itu, kadang sering mengantarkan kita pada tangga keputusasaan dan kebencian.

Penulis : Eisaac Iskandar