Mahasiswa Yang Merdeka
Rizki Adha Simatupang

MUDANEWS.COM, Nusantara – Seperti yang kita ketahui para mahasiswa bukan golongan yang asing bagi bangsa ini, melainkan golongan-golongan yang sampai saat ini masih eksis dibumi pertiwi ini. Sudah tak bisa dipungkiri lagi mereka eksis bukan karna banyak materi yang dimilikinya, bukan karna dia dari keluarga yang kaya raya (Keturunan Raja). Melainkan dengan modal watak yang kritis, tajam keintelektualan dan memiliki energi yang besar. Di catatan catatan sejarah, Mahasiswa merupakan orang-orang yang berperan penting dalam perubahan dinegeri ini.

Tidak perlu lagi saya paparkan umum hingga dasar-dasarnya bagaimana peranan pemuda khususnya Mahasiswa mengambil peranan penting untuk perubahan di negeri ini, karna saya anggap teman-teman yang membaca tulisan ini sudah melek akan literasi dan kondisi mahasiswa ketika dibawah penjajahan Hindia Belanda, Orde Lama dibawah nahkoda Presiden Soekarno yang terkenal akan konsep NASOKOMnya, Orde Baru yang dinahkodai Presiden Soeharto dengan gagasan trilogi pembangunannya, hingga ke jenjang reformasi, sampai kondisi bangsa ini menjalankan sistem demokrasi.

Singkat saja saya jelaskan muncul tokoh-tokoh yang sampai sekarang kontribusinya untuk bangsa ini masih bisa kita rasakan, baik dalam bentuk pikiran dan tindakan seperti Tan Malaka, Soekarno, Moh Hatta, Lafran Pane, Natsir, M.Yamin, Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Mereka berjuang bukan semata semata untuk mengejar eksistensi, jabatan dan kepentingan kelompok melainkan untuk kepentingan Negara, yang mana didalamnya terdapat kepentingan masyarakat banyak.

Karna itulah mereka terkenal akan karyanya, bahkan ada yang dijadikan panutan bagi kalangan muda khususnya mahasiswa. Sampai sekarang ini tentunya tidak mudah memperjuangkan itu semua, banyaknya hadangan-hadangan yang datang menghampiri mereka, baik intervensi dari bangsa lain dan penghianat-penghianat bangsa kita sendiri.

Tentunya bukannya kekuatan mental dan fisik saja yang mereka harus siapkan, melainkan bertahan pada prinsip-prinsip yang sudah tertanam didalam diri mereka, tidak goyang pendirian yang sudah dibangun meskipun loby-loby dalam arti tawar menawar dari orang-orang yang tidak sepakat dengan tujuan mereka, yang dianggap menganggu kepentingan para penguasa dibumi pertiwi kita ini.

Meskipun banyak hadangan yang sudah mereka lewati, akan tetapi tidak meruntuhkan niat dan semangat mereka untuk melakukan pembaharuan bagi bangsa ini, itulah kemerdekaan sejati bagi mereka, dalam arti mereka berani, bebas, tidak terikat dan tidak takut akan sesuatu yang bisa membatalkan niat mereka.

Kita melihat kondisi gerakan mahasiswa sekarang ini masih banyak yang belum bisa bertahan dalam arti belum merdeka pada prinsip-prinsip yang mereka impikan, tak bisa kita pungkiri lagi gerakan mahasiswa sekarang identik dengan penyikapan dan penolakan kebizakan rezim, mobilisasi massa, penyikapan isu daerah bahkan sampai kenasional.

Banyak gerakan mahasiswa sekarang ini berhenti di tengah jalan atau bisa kita katakan stagnan dalam melakukan pembaharuan, dikarenakan tidak tertanamnya jiwa merdeka dalam diri mereka, dari situ bisa kita nilai bahwasanya mahasiswa sekarang ini mudah sekali diruntuhkan semangat dan perjuangannya bahkan idealismenya tergadai.

Jika kita refleksi kembali bagaimana gerakan dan perjuangan para kaum muda khususnya mahasiswa pada masa pergerakan nasional sampai era reformasi sangat bertolak belakang dengan gerakan mahasiswa sekarang. Sehingga banyak yang belum mengetahui apa prinsip mereka dalam melakukan pergerakan atau pembaharuan tersebut. Maka dari itu peranan perguruan tinggi sangat berkontribusi besar dalam mencetak mahasiswa yang berpikir dan bertindak merdeka, karna perguruan tinggilah yang sejatinya mencetak para kaum intelektual muda.

Tapi kenyataannya itu semua bertolak belakang, karna masih banyak kaum-kaum muda yang lahir dari perguruan tinggi bersikap apatis, syukur-syukur mereka mau memikirkan bangsa ini, memikirkan dan membantu orang-orang disekililingnya pun terkadang acuh tak acuh.

Dalam buku catatan harian Soe hok Gie, yang berjudul Catatan Seorang Demonstran, Gie menuliskan bahwa dia terlahir disaat perang pasific berkecamuk (17 Desember 1942), sampai sejauh ini Gie bisa dikatakan sebagai satu dari banyaknya aktivis pada masa itu yang rajin menuliskan dicatatan hariannya mengenai kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan pribadinya. Tulisan tulisannya sangat lugas, sangar bahkan tak kenal ampun, karna tulisan-tulisannya tertuju kepada pemerintah yang baginya sudah tidak cocok lagi memegang kendali bangsa ini. Bahkan dia tidak segan menuliskakan nama-nama sasaran yang dikritiknya.

Dari itu bisa saya bisa kita ambil pelajaran bahwa ketidakadilan dibangsa ini bisa merajalela, tapi bagi seorang yang merdeka dalam arti jujur dan berani berusaha melawan semua itu, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Banyak aspek yang diperjuangkan mereka untuk bangsa ini, berupa aspek sosial politik, sosial budaya, aspek ekonomi dan lain-lain, Mereka memang dihadapkan dengan banyaknya hadangan dari penguasa, terutama bagi penguasa yang menihilkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan, tapi bagi mereka itu merupakan bumbu-bumbu dalam memperjuangkan suatu tujuan.

Diakhir tulisan ini saya kembali mengingatkan, Mahasiswa itu merupakan golongan yang paling penting bagi bangsa ini, karna segala pembaharu yang terjadi di bangsa ini banyak tercipta dari kalangan mahasiswa, tak bisa kita pungkiri itu, karna sudah tercatat dalam sejarah bangsa ini.

Oleh sebab itu mulailah mengubah diri menjadi pribadi yang merdeka, mari kita ambil pelajaran dari catatan sejarah gerakan mahasiswa pada masa dulu, sehingga bisa menjadi pegangan dalam mengaplikasikan dikehidupan sehari-hari, khususnya melawan penguasa-penguasa yang sudah menyimpang, karna dengan sendirinya perkembangan yang dialami mahasiswa pada saat ini bukan tanpa masalah, mereka senantiasa dihantarkan pada masalah kecil maupun besar, maka dari itu dibutuhkan sikap merdeka dalam berpikir dan bertindak, sehingga bisa bertahan pada prinsip-prinsip yang ingin dicapai untuk masa depan bangsa dan negara.

Penulis adalah Rizki Adha Simatupang (Pengurus HMI Komisariat UMN, Pemerhati Kaum Muda di Kota Medan)