Surat Protes, Untuk Muslimah Si Eskrim Oreo Hitam
Arwan Syahputra, Aktivis Kopi Hitam

MUDANEWS.COM – Dihujung Tepi Lhokseumawe.

Kemarin aku baru saja menyapanya lewat suasana,
Ya, tepatnya suasana yang tak mungkin bisa kalian pahami dengan imajinasi yang tak pernah merasakan.

Suhu yang tak bisa dijelaskan lewat kondisi sederhana, Bukan Dingin dan bukan Panas, Yang Cuacanya pun yang tak mungkin dirasakan oleh hati, yang tak berhati-hati.

Nikmat, setelah (Semangkuk Es krim oreo) didampingi oleh Tuan Ekspreso (Bersuhu panas) ,

Tepat nya disela itu, ada si antara yang bernama Humoria, berceria, dan cerita kan rasa sesungguhnya, pasca kopi panas terseruputi.

Dan apa jadinya, Crita itu sungguh keterlaluan, sungguh Tega-teganya menembus sanubari yang biasa biasa ini, al hasil merekat dan menyatunya rasa nyaman, lazimnya, Kopi Hitam dan Air yang baru mengenal namun cepat berbauran.

Srekkk, tetes akhir nya telah final,
Cerita dan romantika tak kunjung usai,

Langit ku pandang semampu mata,
Sampai dmana penglihatan melirik keindahan, tapi Bintang keindahan tak kujumpai disana
Tapi telah ada didpan mata, dia si eskrim oreo yang terlalu keterlaluan itu.

Dan dia muslimah yang sungguh indah.

tapi Entah kenapa, ada kalimat dari mulut menhampiri telinganya,
“Kenapa, Tuhan sebaik ini menciptakan keindahan yang dulu jauh, sekarang sudah mendekatkan”

Terpapar senyum lebar dibalik wajah polos oreo hitam.

“Ada apa sebenarnya dengan si tuan kopi, sedang oreo baru saja mengenal” Spontan balasan

“Aku tak bisa deskripsikan apa ku ketahui ini, yang jelas, jika engkau layaknya mutiara didasar lautan, maka izinkan aku jadi si penyelam yang ditangguhkan”

Uhuk, keluar kode akses
Entah itu bertanda positif, atau usulan ku tertolak.

Tak seberapa lama, si dua nya beranjak, dan kembali menjadi si antara (karena jarak ) studi yang berbeda.

Durasi waktu pun terus bergulir, bumi berotasi, dan diam-diam perhatian pun datang bergiliran.

Semenjak mengenal si kasih itu
Aku beranjak bagai si asing (bukan jadi beneran) tapi yang lebih dikenal sebagai ‘adaptasi’.

Rasa itu sudah mengimpeachment (gulingkan) yang tak bisanya aku, bersastra yang tak biasa, kali ini semua mahir layak terlatih private,
Sungguh si oreo motivator yang memotivasi dari bagai kejauhan.

Kali ini, ada kala yang sangat luar biasa
Saat aksi protes sudah dimulai

“Jangan seperti ini aku tidak suka, dan kau jangan begitu tolong pikir kan aku”

Semua itu bukan aturan
Tapi lebih dikenal dengan “Nota kesepahaman”

Entah dianggap nya itu gugatan atau bantahan, tak pernah ku perduli
Tapi respon Baik nya tampak, mengejutkan bathin sedang mendambakan sosoknya.

“Yasudah kalo kek gitu, asal kau pun demikian, yang penting jangan sakiti”

Ocehnya, yang ku anggap itu interupsi yang perlu direspon.

Sampai saat ini aksi protes itu selalu berlanjut, dengan posisi Damai, dan termediasi dengan baik.

Entah apa yang menguatkan, ternyata antara tuan kopi dan nona oreo itu ada kemiripan, Mirip yang tak bisa dimirip miripkan (karena memang sudah sama).

Dibalik tingkah-tingkah rutin itu,
Juga ada kata yang selalu ucapkan

“Kita memang merdeka, tapi ingatlah dalam kemerdekaan itu ada keharusan universal”.

Ya karena memang mirip, ia mengetahui apa yang ku maksud, bagaimana pun tingkah, tetap saja kesadaran akan tujuan.

Penulis : Arwan Syahputra, Aktivis Kopi Hitam