Kopi: Dari Ladang Ethiopia ke Cangkir Kolonialisme, Lantas ke …[1]

Breaking News
- Advertisement -

 

Oleh : Muhammad Joni

Mudanews.com OPINI | Ayo mengerti main kopi. Kopi ialah pergulatan global. Kopi analog dominasi. Jangan salah minum. Jangan salah tempat duduk. Walau kopi bisa direguk. Kopi tidak lahir sebagai minuman, tok.

Idemditto kekuasaan, kopi bagai kisah orang besar. Dari dibibitkan, dikawinkan silang, masa hamil mahal, lahir dibelai dan besar dijaga sebagai aktor peristiwa besar di pentas besar sejarah.

Nun jauh sebelum si hitam kopi mengisi rak kafe modern, kopi telah lebih dulu mengisi kapal-kapal dagang, gudang kolonial, sindikasi-kongsi, cuan, dan catatan rahasia kekuasaan. Di setiap bulir bijinya, tersimpan bukan hanya aroma, tetapi jejak relasi kuasa, aliran fiskal dan kelakuan homo economicus skala dunia.

Tidak ada komoditas global yang tumbuh tanpa cerita dominasi. Kopi adalah salah satunya. Tak ada perkoncoan sejati dalam dominasi kopi. Kopi tak cuman diminum. Kopi juga dimakan!

1. Awal Spiritual, Bukan Kapitalistik

Ketahuilah. Sejarah mencatat kopi pertama kali dikenal di dataran tinggi Ethiopia, bukan sebagai komoditas. Melainkan sebagai bagian dari ritual. Resep ketahanan tubuh. Kopi diminum umum: res publica. Untuk berjaga. Untuk berlaga. Untuk berdoa. Untuk tahan berpikir lebih lama. Untuk nalar akal lebih kuat dari keadaan jahat. Kopi pada mulanya ialah alat kesadaran, bukan alat akumulasi. Jauh dari dominasi.

Namun sejarah jarang berhenti di niat awal. Ketika kopi menyeberang ke Yaman, lalu ke Jazirah Arab, dan akhirnya ke Eropa. Maknanya bergeser. Dari minuman sufistik, kopi berubah menjadi barang dagangan. Yang bernilai industri tinggi.

Dari ruang syahdu spiritual, kopi masuk ke ruang megah kuasa fiskal. Di titik inilah peradaban kopi mulai diuji.

2. Perkebunan dan Tubuh yang Korban

Masuknya kopi ke wilayah kolonial—termasuk Nusantara—tidak membawa kemakmuran yang merata. Kopi datang membonceng bersama sistem tanam paksa, kerja rodi, dan logika produksi yang mengabaikan manusia. Perkebunan kopi tumbuh subur, tetapi tubuh-tubuh petani menanggung biayanya.

Ketika kopi menjadi minuman kebebasan di Eropa, sementara di tanah jajahan kopi lahir dari keterpaksaan. Paradoks ini jarang diseduh bersama rasa pahit kopi itu sendiri.
Adakah kopi di sini yang memerangi negeri para nabi?

Sejak saat itu, kopi tak pernah lagi netral. Kopi menjadi saksi bahwa kemajuan suatu bangsa kerap dibangun di atas kelelahan bangsa lain. Lidah bangsa di dunia masih tidak adil.

3. Modernitas dan Ilusi Pilihan

Memasuki era modern, kolonialisme formal runtuh, tetapi logika lama tidak serta-merta pergi. Dia mengendap, bersalin rupa, bertransformasi.

Pasar global menggantikan kompeni. Kontrak standar menggantikan paksaan. Namun relasi tetap timpang. Bersembunyi di balik asas ini: pacta sunt servanda.

Kita diberi ilusi pilihan: single origin, specialty, premium. Tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama—siapa yang paling diuntungkan? Siapa yang paling menanggung risiko, Puang?

Di sinilah moralitas main kopi diuji kembali. Apakah kita benar-benar telah keluar dari sejarah, atau hanya mengganti bahasanya?

4. Kopi Luwak: Eksotisme dan Luka Etika

Kopi luwak muncul sebagai puncak eksotisme. Kopi specialty itu dipasarkan. Sebagai keajaiban alam. Sebagai sentuhan liar yang tak tersentuh manusia. Dunia terpukau oleh ceritanya, tetapi lambat laun menutup mata pada praktik nir-etis di sebaliknya.

Ketika permintaan main kopi meningkat, daya dukung alam tidak lagi cukup. Maka dan maka satwa luwak dikurung. Proses dipercepat. Demi target proyeksi. Cerita dijual lebih mahal daripada kebenaran.

Di sinilah kopi luwak berubah dari simbol keunikan menjadi pertanyaan krusial: etika. Bukan karena rasanya, melainkan karena caranya dihadirkan ke dunia kopi dan kopi dunia.

5. Sejarah Mengulang Diri

Apa yang terjadi pada kopi luwak bukanlah anomali. Namun itu lah pola lama yang berulang: ketika pasar mendahului nurani, sejarah akan menemukan jalannya untuk mengulang luka.

Kolonialisme pernah menjadikan manusia sebagai alat produksi. Kini, tanpa disadari, praktik tertentu menjadikan satwa sebagai objek yang sama. Malah bisa lebih parah lagi.

Peradaban diuji bukan pada inovasinya, melainkan pada keberaniannya berhenti ketika harus berhenti.

6. Jalan Baru: Dari Kritik ke Kesadaran

Bab ini tidak dimaksudkan untuk mengutuk kopi, apalagi kenikmatan. Bab iki ditulis untuk mengingatkan bahwa setiap kemajuan memiliki pilihan moral. Kita bisa terus mengulang sejarah dengan kemasan baru, atau kita bisa belajar darinya.

Kopi, dengan segala perjalanannya, mengajarkan satu hal sederhana:
bahwa rasa paling pahit sering kali tidak berasal dari cangkir, melainkan dari cara orang sampai ke sana.

Dan di titik inilah buku ini melangkah ke bab berikutnya—mencari kemungkinan bahwa kopi, sekali lagi, bisa menjadi alat kesadaran. Bukan hanya bagi penikmatnya, tetapi bagi peradaban yang meneguknya setiap hari. Tabik.

Muhammad Joni

Berita Terkini