NU, Tambang, Zionis, dan Pertarungan Arah PBNU: Ketika Gus Yahya, KH Miftachul Akhyar, Mahfud MD, dan Ulil Abshar Abdalla Berbeda Pandang

Breaking News
- Advertisement -

 

Catatan Redaksi Mudanews.com

Mudanews.com  Jakarta  – Arah perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi sorotan besar. Dari rencana pengelolaan tambang, polemik undangan tokoh internasional yang dipersepsikan publik dekat dengan agenda Zionis, hingga perbedaan visi antara Ketua Umum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, kini memasuki fase baru yang semakin rumit. Suasana kian panas setelah Mahfud MD dan pemikir progresif NU, Ulil Abshar Abdalla, turut menyampaikan pandangannya.

Dari luar, dinamika ini tampak seperti perdebatan biasa. Namun dari dalam, ini adalah pertarungan halus yang menyentuh jantung NU: pertempuran antara modernisasi, kehati-hatian, dan marwah organisasi.

Tambang: Pintu  Masuk Ketegangan

Semua berawal saat pemerintah membuka peluang organisasi keagamaan mengelola tambang. PBNU langsung merespons. Gus Yahya menyatakan NU siap mengelola tambang untuk memperkuat ekonomi umat.

Pendekatan ini dianggap sebagai langkah besar, bahkan berani—lebih modern, lebih strategis, dan lebih visioner.

Tetapi respons internal tak sekompak itu. Dari kalangan kiai sepuh, muncul kecemasan. Mereka menilai tambang adalah sektor “gelap penuh jebakan”, dunia yang penuh konflik kepentingan, potensi penyimpangan, dan intrik politik.Masuk ke sana, kata mereka, berarti mempertaruhkan wajah NU di ujung tombak konflik ekonomi besar.

Ketegangan mulai terbentuk.

Satu pihak mendorong NU menjadi kekuatan ekonomi modern.
Pihak lain ingin menjaga NU tetap menjaga jarak dari sektor yang dianggap terlalu berbahaya.

Kontroversi Tokoh Zionis: Titik Gerah Para Kiai

Konflik semakin meninggi ketika kembali mencuat polemik undangan PBNU kepada tokoh internasional dalam forum Religion 20 (R20), yang diberitakan memiliki kedekatan dengan agenda Zionisme.Gelombang kritik muncul dari pesantren, aktivis Palestina, dan kalangan kiai yang menilai langkah itu tidak sensitif terhadap sejarah dukungan NU terhadap Palestina.

Meski Gus Yahya menjelaskan bahwa R20 adalah forum dialog global, sebagian kiai tak menerima logika itu.
Mereka melihatnya sebagai tanda bahwa PBNU terlalu longgar membuka pintu diplomasi global—hingga melampaui batas sensitivitas umat.

Bagi para pendukung Rais Aam KH Miftachul Akhyar, isu Zionis menjadi puncak kekhawatiran bahwa NU sedang terlalu cepat berubah.

Mahfud MD: Jangan Masuk Tambang Jika Tak Siap Transparansi

Mahfud MD, dalam berbagai wawancara publik, memberikan peringatan tegas. Ia menilai pengelolaan tambang oleh organisasi publik berpotensi menimbulkan benturan kepentingan, konflik lahan, dan masalah hukum.

Menurut Mahfud, sektor tambang bukan ranah yang bisa dimasuki dengan niat baik semata. Ia perlu sistem kontrol ketat, tata kelola transparan, dan akuntabilitas yang kuat.

Peringatan Mahfud dipandang warga NU sebagai suara “penengah” yang menyoroti risiko nyata, bukan sekadar dinamika politik internal.

Ulil Abshar Abdalla: Membela Keterbukaan, Mendukung Dialog Global

Di tengah hiruk pikuk itu, pendapat Ulil Abshar Abdalla ikut masuk. Tokoh liberal-progressif NU itu dikenal sebagai pendukung kuat:

keterbukaan dialog antaragama,diplomasi internasional,NU yang aktif di gelanggang global, pendekatan Islam yang inklusif dan modern.

Ulil menilai bahwa langkah Gus Yahya mengundang tokoh internasional dalam forum R20 adalah bagian dari transformasi NU menuju aktor global yang berani bercakap dengan semua pihak, termasuk pihak yang berbeda secara ideologis. Baginya, dialog internasional bukan bentuk kompromi, tetapi cara NU menunjukkan kedewasaan dan keberanian intelektual.

Terkait tambang, Ulil menekankan bahwa modernisasi NU membutuhkan keberanian memasuki sektor ekonomi strategis—tentu dengan tata kelola kuat. Selama prosesnya transparan dan akuntabel, NU tak boleh takut bertransformasi.

Di sisi lain, Ulil menilai resistensi sebagian kalangan sebagai sikap yang wajar, tetapi tak boleh membelenggu NU dari inovasi.

Pendapat Ulil ini membuat peta tensi semakin kompleks.
Di satu sisi ada Mahfud MD yang menekankan integritas dan risiko.
Di sisi lain ada Ulil yang menekankan keberanian dan keterbukaan global.

Dua Poros Visi yang Makin Jelas

Perbedaan antara Gus Yahya dan KH Miftachul Akhyar kini terlihat semakin kontras:

Poros Gus Yahya – Modernis & Globalis

Dukungan terhadap diplomasi internasional multicultural.

Keterbukaan dialog lintas iman.

Mendorong NU masuk ke sektor ekonomi strategis seperti tambang.

Menjadikan NU sebagai aktor global.

Poros KH Miftachul Akhyar – Kehati-hatian & Marwah Pesantren

Menjaga khittah 1926 dan integritas moral organisasi.

Menolak keputusan yang dapat melukai sensitivitas umat (termasuk isu Zionis).

Mengingatkan risiko politik-ekonomi tambang.

Memperkuat peran NU sebagai benteng moral, bukan aktor bisnis.

Pertarungan ini bukan tentang siapa benar dan salah—melainkan pertarungan dua arah masa depan NU.

Akar Rumput NU: Di Antara Kagum dan Cemas

Di pesantren-pesantren, kiai dan santri membicarakan isu ini dengan nada bercampur:

sebagian melihat Gus Yahya sebagai pembaharu,

sebagian menilai KH Miftachul Akhyar sebagai penjaga marwah,

sebagian lainnya mendengar argumen Mahfud dan Ulil sebagai penyeimbang baru.

Namun yang paling mereka takutkan adalah satu hal: NU terbelah.

Penutup: NU di Persimpangan Paling Menentukan

Kini, pertanyaan yang menggema bukan lagi pelan—tapi lantang:

Mampukah NU modern tanpa kehilangan marwahnya?

Bisakah PBNU merangkul diplomasi global tanpa mengabaikan luka Palestina?

Perlukah NU masuk tambang di tengah risiko besar yang diperingatkan Mahfud?

Dan apakah keterbukaan ala Ulil bisa berjalan sejalan dengan kehati-hatian ala Miftachul Akhyar?

Yang jelas, NU hari ini tidak hanya menghadapi perdebatan—tetapi sebuah persimpangan sejarah.

Dan sejarah akan mencatat:
keputusan-keputusan hari ini akan menentukan NU puluhan tahun ke depan.

 

 

Berita Terkini