Setelah Stimulus Jumbo AS, Waspadai Tekanan Terhadap Rupiah

Stimulus Jumbo AS,
Ilustrasi

MUDANEWS.COM, Medan – AS mulai menunjukan geliat ekonomi yang mulai pulih. Terakhir data inflasi dan ketenagakerjaan menjadi salah satu indikasi pemulihan ekonomi di AS tersebut. Data tersebut juga didukung dengan telah disepakatinya gelontoran stimulus jumbo senilai $1.9 Milyar atau sekitar 27.000 trilyun Rupiah. Jika dikonversi dengan menggunakan kurs 14.000 per US Dolarnya.

“Walau meskipun belum 100% dipastikan bahwa ekonomi AS akan mulus di tahun tahun mendatang. Akan tetapi, masa suram ekonomi AS akibat pandemic Covid-19 mulai berakhir. Dan ekonomi AS ini diyakini mulai tumbuh positif dengan realsiasi angka yang signifikan di tahun tahun selanjutnya,” ujar Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin di Medan, Sumatera Utara, Jumat (12/3/2021).

Tetapi, lanjutnya, pemulihan yang terjadi ini bukan tanpa resiko. Khususnya bagi negara berkembang seperti Indonesia. Pemulihan ekonomi di AS, perlu disikapi dengan hati-hati. Khususnya terkait dengan potensi terjadinya capital outflow di pasar keuangan domestik. Jadi ini tugas berat kita semua nantinya dalam pengendalian mata uang rupiah.

“Terlebih jika nantinya Bank Sentral di AS justru mengurangi pembelian obligasi di pasar, atau dikenal dengan istilah tapering. Kalau The FED melakukan hal tersebut, maka Bank Sentral Indonesia akan bereluang menghadapi tekanan neraca pembayaran, dikarenakan investor banyak yang akan beralih memburu aset dalam mata uang US Dolar,” jelasnya.

Tentunya hal tersebut, sambung Benjamin, akan membuat Rupiah berada dalam tekanan. Jadi kita tidak bisa sepenuhnya hanya melihat tren neraca perdagangan semata sebagai salah satu acuan dalam melihat ketersediaan valas di tanah air. Lebih dari itu, kita akan berhadapan dengan pembalikan modal yang bisa mengganggu kinerja mata uang rupiah.

“Kalau sudah melemah, maka selanjutnya kita akan berhadapan dengan dampak negatif dari pelemahan Rupiah itu sendiri. Pemulihan ekonomi AS memang akan membuat motor penggerak ekonomi global berputar lebih kencang. Ini memang akan menciptakan demand yang memulihkan sektor rill. Tetapi kita harus mewaspadai ancaman di sektor keuangan khususnya kinerja Rupiah,” kata Benjamin.

Untuk itu, kata Benjamin, sinergi dibutuhkan disini. Investasi di sektor produktif harus di genjot. Peraturan yang mempermudah investasi yang masuk dalam omnibus law seyogyanya sudah bisa diimplementasikan dengan dukungan produk aturan turunannya. Dan yang tak kalah penting SWF (Sovereign Wealth Fund) hingga ekspor juga harus mampu menarik devisa.

“Jadi apa yang dilakukan selama ini sudah seharusnya masuk dalam tahapan implementasi guna meminimalisir dampak pembalikan modal. Kita membutuhkan akselerasi. Dan pelemahan rupiah hanya akan membuat motor penggerak ekonomi tidak berputar maksimal. Ekonomi kita harus pulih dengan akselerasi pertumbuhan yang optimal. Jangan sampai hanya pulih tapi justru tidak mampu mengurangi sejumlah resiko yang menghambat pertumbuhan itu sendiri,” pungkasnya. (red)