Inkubator Kewirausahaan HMI: Membangun Kekuatan Ekonomi, Menyongsong Masa Depan Negeri dan Organisasi

HMI
Raihan Ariatama

MUDANEWS.COM – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sering disebut sebagai salah satu komponen utama dalam ekonomi di Indonesia. Sayangnya, penyebutan tersebut lebih sering berujung pada glorifikasi kosong tanpa ada usaha berdampak untuk meningkatkan UMKM-UMKM tersebut menjadi kekuatan industrial.

Secara faktual, UMKM memang berhasil menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan tenaga kerja yang diserap oleh industri besar. Selain itu, dari sisi jumlah kelembagaan bisnis di Indonesia, UMKM juga sangat mendominasi. Dilihat dari kemampuan distribusi, penyebaran UMKM sampai ke pelosok-pelosok desa di Indonesia.

Hal ini berbeda dengan perusahaan besar yang hanya ada di kota besar atau kawasan-kawasan industri khusus saja. Namun, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, kontribusi UMKM terhadap PDB hanya sekitar 56.7% dan kontribusinya pada penerimaan devisa negara melalui ekspor hanya sebesar 20% dari total nilai ekspor.

Selain kesulitan berkembang menjadi kekuatan industrial, UMKM di Indonesia juga sering menghadapi masalah kegagalan untuk bertahan, bahkan pada tahun-tahun awal UMKM tersebut berdiri.

Di Indonesia, menurut data yang dihimpun oleh Hubeis dalam Lupiyoadi (2004), hampir 80% start-up company (perusahaan rintisan) di Indonesia gagal pada tahun pertama. Pendapat serupa juga dinyatakan oleh Wirasasmita (1998) bahwa tingkat mortalitas/kegagalan usaha kecil di Indonesia mencapai 78%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kegagalan bagi usaha baru terutama UMKM di Indonesia sangatlah tinggi.

Menariknya, minat masyarakat untuk mendirikan UMKM tidak pernah surut dari tahun ke tahun, meskipun mengetahui bahwa kegagalan mengancam mereka. Salah satu unsur masyarakat yang selalu berminat merintis UMKM adalah mahasiswa.

Fakta bahwa minat mahasiswa untuk merintis UMKM masih tinggi, namun tingkat kegagalan usaha di Indonesia juga tinggi, menjadi peluang sekaligus tantangan bagi organisasi mahasiswa terbesar seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk mendirikan entrepreneurship incubator (inkubator kewirausahaan).

Pendirian inkubator kewirausahaan oleh HMI ini selain karena alasan di atas adalah untuk merespon tuntutan dari the new global economy yang terjadi karena adanya perubahan yang cepat dan signifikan di bidang teknologi, telekomunikasi, digitalisasi dan adanya globalisasi. Perubahan tersebut memaksa adanya perubahan pada setiap sektor kehidupan, mulai dari skala negara, perusahaan/organisasi, masyarakat, sampai individu.

Inkubasi kewirausahaan sendiri secara sederhana bisa didefinisikan sebagai proses pembinaan bagi usaha kecil dan/atau pengembangan produk baru yang dilakukan oleh suatu inkubator kewirausahaan –dalam konteks ini HMI– dalam hal penyediaan sarana dan prasarana usaha, pengembangan usaha, dukungan manajemen, dan dukungan teknologi.

Sedangkan inkubator kewirausahaan didefiniskan sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang penyediaan fasilitas dan pengembangan usaha, baik manajemen maupun teknologi bagi usaha kecil dan menengah untuk meningkatkan dan mengembangkan kegiatan usahanya dan atau pengembangan produk baru agar dapat berkembang menjadi wirausaha yang tangguh dan atau produk baru yang berdaya saing dalam jangka waktu tertentu.

Berdirinya inkubator kewirausahaan oleh HMI juga penting untuk menghadapi kondisi pandemi yang sekarang melanda. Dengan adanya pandemi Covid-19, permasalahan UMKM bertambah kompleks. Tantangan utama yang dihadapi UMKM sekarang adalah turunnya permintaan.

Turunnya aktivitas dan pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun global telah berdampak pada turunnya permintaan masyarakat, termasuk untuk produk dan jasa yang dihasilkan oleh UMKM. Pada semester pertama tahun 2020 terlihat penurunan pertumbuhan yang cukup tajam pada sektor-sektor di mana banyak UMKM beraktivitas seperti sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran dan sektor penyediaan akomodasi dan jasa makanan.

Damuri, dkk (2020) dari Center for Strategic and International Studies menyatakan bahwa jika di masa normal permasalahan terkait akses keuangan dan pembiayaan sudah dirasa berat bagi UMKM, maka tantangan ini semakin terasa berat di masa Covid-19. Turunnya permintaan dan produksi yang membuat arus kas menjadi tidak lancar pada gilirannya semakin menyulitkan UMKM untuk menanggung beban finansial, baik yang berasal dari beban usaha maupun beban pembiayaan dari perbankan dan lembaga keuangan.

Permasalahan selanjutnya, menurut Damuri, dkk (2020), adalah permasalahan terkait rantai pasok yang dapat dibagi ke dalam 3 kategori, yaitu: (1) permasalahan rantai pasok global, yang mengalami disrupsi akibat dari usaha pencegahan penyebaran Covid-19; (2) manajemen rantai pasok UMKM yang cenderung sangat tergantung dari satu pemasok atau dari ketersediaan di pasar; dan (3) pembiayaan pasokan bahan baku. Inkubator kewirausahaan yang didirikan oleh HMI dapat membantu mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

Selain itu, inkubator kewirausahaan HMI juga akan mampu mengatasi permasalahan internal organisasi, yakni membangun kekuatan ekonomi. Sampai sekarang, HMI secara ekonomi masih bergantung pada iuran anggota atau donasi eksternal.

Sangat sulit ditemukan pada cabang maupun komisariat HMI di seluruh Indonesia yang mempunyai semacam koperasi, BMT, atau badan usaha yang bisa digunakan oleh HMI untuk membiayai perkaderan dan aktivitas organisasi lainnya.

Dengan kekuatan sumber daya manusia yang tersebar di berbagai pelosok negeri, inkubator kewirausahaan HMI akan menjadi kekuatan ekonomi yang tidak hanya mengatasi persoalan pembiayaan organisasi melainka juga berkontribusi pada ekonomi ummat dan bangsa.

Oleh: Raihan Ariatama

Penulis adalah Ketua Bidang Riset dan Teknologi PB HMI