Kampus UIN-SU di Tebing Tinggi, Magnet Baru Bagi Pertumbuhan Ekonomi

Kampus UIN-SU di Tebing Tinggi
Walikota Tebing Tinggi Umar Zunaidi Hasibuan, Ketua ICMI MUDA Kota Tebing Tinggi Alfi Syahri Ramadhana Siregar MSi, Ketua MD KAHMI Tebing Tinggi M Fadly MPd Sekjen Alittihadiyah Tepo Subarjo AS, Ketua Dewan Masjid H Agusnul Khair SH dan Tokoh Masyarakat H Emil Sofyan (dok istimewa)

MUDANEWS.COM, Tebing Tinggi – Pertumbuhan tingkat perekonomian Indonesia sejak awal orde baru selalu diikuti dengan peningkatan jumlah penduduk khususnya di daerah perkotaan. Peningkatan jumlah penduduk menimbulkan beberapa masalah diantaranya tingginya tingkat pengangguran, kepadatan hunian, penyerobotan tanah, pembangunan rumah liar, perumahan yang kurang memadai, kriminalitas, dan lain-lain.

Akan tetapi memunculkan pertumbuhan ekonomi yang harmonis dan saling menguntungkan di kota. Kegiatan ekonomi tersebut seperti : bidang industry, transportasi, perdagangan, badan keuangan, pemerintahan, dan lain-lain.

Di kota-kota Negara berkembang mencapai 4-7%, tidak diimbangi dengan perkembangan kegiatan ekonomi di kota. Perkembangan kegiatan ekonomi tersebut dilihat dari tingkat perkembangan penduduk pada tahun 2000 tingkat urbanisasi mencapai 42,6%.

Hal ini dapat dilihat dari perbandingan prosentase penduduk perkotaan yang meningkat dari 22% pada tahun 1969 menjadi 49% tahun 2010 (Soma, 2008 dalam Haris dan Ernawati 2013).

Dampak dari pertambahan penduduk yang demikian besar tersebut adalah meningkatnya kebutuhan sarana dan prasarana kota. Salah satu sarana dan prasarana yang dibutuhkan masyarakat perkotaan adalah pendidikan tinggi (Haris dan Ernawati, 2013).

Kehadiran sebuah perguruan tinggi di sebuah kawasan selalu mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap perkembangan sebuah kota, baik secara fisik maupun non fisik.

Dampak pada kota secara non fisik adalah berkembangnya perekonomian khususnya harga lahan/perumahan, perkembangan lapangan pekerjaan, sosial (kelompok-kelompok perumahan permanen berganti fungsi menjadi pemondokan sementara), jumlah penduduk kelas menengah dan budaya (selera yang seragam serta penyediaan layanan). Dampak secara fisik adalah perubahan fungsi bangunan dan kawasan terbangun (Allison, 2006 dalam Haris dan Ernawati, 2013).

Dampak fisik dan non fisik tersebut salah satunya diakibatkan oleh migran dari berbagai nusantara yang semakin bertambah sehingga semakin padatnya bangunan terutama permukiman yang diakibatkan oleh masyarakat pelaku usaha baik penduduk asli maupun pendatang serta mahasiswa sebagai suatu hak menuntut ilmu dengan segala kebutuhannya sehingga perkembangan sektor ekonomi seperti perdagangan dan jasa yang semakin hari semakin menjamur Perkembangan jumlah penduduk dalam suatu wilayah perkotaan sering diikuti oleh adanya peningkatan kebutuhan akan ruang.

Kota sebagai perwujudan geografis selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dua faktor utama yang sangat berperan adalah faktor penduduk (demografis) dan aspek-aspek kependudukan (Yunus, 1987).

Faktor-faktor kependudukan salah satunya adalah disebabkan oleh adanya perguruan tinggi yang semakin mendorong adanya aspek ekonomi yang dimana ketika terjadi pertambahan penduduk di suatu wilayah atau Perkotaan dan atau kota akan menyebabkan terjadinya perubahan ekonomi yang pesat untuk memenuhi kebutuhan kota tersebut.

Kehadiran sebuah perguruan tinggi di sebuah kawasan selalu mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap perkembangan sebuah kota, Perguruan tinggi sering didefinisikan sebagai mesin pembangunan ekonomi. Perguruan tinggi merupakan suatu bisnis yang menguntungkan bagi pemerintah setempat. Dengan adanya perguruan tinggi, suatu kota dapat menarik minat mahasiswa untuk datang dan pada akhirnya mendatangkan pendapatan bagi kota tersebut (Ningsih, 2017).

Teori kondisi ekonomi perguruan tinggi Kondisi ekonomi merupakan segala aktivitas anggota keluarga yang bernilai ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ekonomi dalam masyarakat pada umumnya dijadikan sebagai patokan atau acuan dalam pemberian status pada setiap anggota masyarakat (Abdulsyani, 2007: 92 dalam Susanti, 2013).

Istilah ekonomi sendiri berasal dari bahasa yunani yaitu ″oikos″ yang berarti keluarga atau rumah tangga, dan ″nomos″ yaitu peraturan, aturan, dan hukum. Maka secara garis besar ekonomi diartikan sebagai aturan rumah tangga atau manajemen rumah tangga (Susanti, 2013).

Keberadaan kawasan pendidikan sebagai fasilitas publik dan sebagai produsen (pusat pelayanan kebutuhan) akan mempengaruhi konsentrasi penduduk sebagai konsumen. Sehingga keberadaaanya akan mempengaruhi perkembangan dan pembangunan dari kawasan tersebut.

Pengaruh yang diberikan dari keberadaannya tidak hanya pada faktor sosial saja, bahkan menjadi salah satu faktor pembangkit perekonomian kawasan dan membantu perkembangan fisik dan lingkungannya, namun pengaruh ini dapat bersifat positif maupun negatif (Rawn, 1999). Calder dan Greenstein (2001) memandang kawasan pendidikan sebagai mesin untuk pertumbuhan ekonomi dan pengembangan komunitas disekitarnya.

Keberadaan kawasan pendidikanakan memberi pengaruh terhadap terbangunnya fasilitasfasilitas pendukung. Menurut Sulistiawan dan Dewi, (2014) salah aktivitas pengaruh adanya perguruan tinggi adalah adanya pembangunan rumah kost di disekitar lokasi kampus perguruan tinggi membuat para pemilik usaha berinisatif untuk membangun usaha untuk kebutuhan mahasiswa sehari-hari, terutama bagi yang tinggal di sekitar perguruan tinggi. Adapun aktivitas perdagangan yang ditunjukkan untuk mahasiswa adalah kebutuhan seharihari seperti toko, rumah makan, dan lain-lain yang berlokasi di dekat dengan kost.

Kawasan yang berbatasan langsung dengan kampus perguruan tinggi tersebut. Hal in akan memberi dampak peningkatan kepadatan bangunan dan jumlah penduduk. Perubahan ini akan mempengaruhi pola penggunaan lahan dan fungsi rumah sebagai kegiatan sosial. Antara lain terjadi alih fungsi rumah tinggal menjadi rumah dengan kegiatan ekonomi (sewa/kontrak kamar) serta perubahan/penambahan ruang dan bangunan guna menambah kapasitas, (Riyanto, 2002)

A. Gambaran Umum

Gambaran umum variable kondisi ekonomi yang mempenagruhi disekitar Perguruan Tinggi Negeri

1. Jenis Kegiatan Ekonomi
Jenis kegiatan ekonomi yang ada disekitar Perguruan Tinggi Negei adalah kegiatan bidang jasa yaitu kos- kosan, laundry, foto copy dll dan perdagangan yaitu warung, pedagang kaki lima dll yang memenuhi kebutuhan mahasiswa setiap hari.

2. Tempat tinggal
Tempat tinggal adalah bangunan yang digunakan untuk tempat tinggal pelaku usaha serta melakukan usahanya di sekitar, dilihat dari luasan bangunan yaitu :

3. Status Kepemilikan
Terdapat 3 (tiga) jenis status kepemilikan bangunan usaha yaitu status kepemilikan pribadi, kontrak atau disewakan, dan terdapat juga bangunan yang dibeli sehingga menjadi status kepemilikan dibeli.

Universitas Islam Negeri sumatera Utara merupakan perguruan tinggi yang sangat unggul dan bergengsi berdasarkan kondisi fisik keberadaan kampus sampai jumlah mahasiswa adalah salah satu yang menyebabkan padatnya perkembangan disekitar kawasan-kawasan yang perbatasan langsung dengan kampus karena di sekitar kawasan-kawasan tersebut menjadi motivasi tersendri bagi masyarakat sekitar menyediakan barang dan jasa yang berkaitan dengan kebutuhan mahasisawa setiap hari.

Melihat potensi besar inilah Maka Pengurus MP ICMI Muda Tebing Tinggi dengan mendengar analisis dari beberapa pengurus bahwa rencana Hibah ex Akbid Pemko yang direncanakan akan dihibahkan Pemerintah Kota Tebing Tinggi ke UIN Sumatera Utara yang nantinya kedepan akan berdiri Kampus UINSU dengan membuka dua Fakultas yaitu Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Ekonomi Bisnis Islam akan menjadi dasar yang dalam operasionalnya mampu membangkitkan aktivitas-aktivitas kegiatan ekonomi sekitar dan menjadi magnet baru bagi perekonomian kota Tebing Tinggi serta menjawab kekhawatiran kita terkait tidak akan singgahnya orang di Tebing Tinggi dikarenakan akses tol yang sudah rampung.

Oleh : Alfi Syahri Ramadhana Siregar, M.Si
Ketua ICMI MUDA Kota Tebing Tinggi