BSI Bukan Hanya Untuk Umat Beragama Islam

BSI
Gunawan Benjamin

MUDANEWS.COM, Medan – Kalau dilihat dari arahan Pak Presiden Jokowi, beliau menyatakan dengan jelas bahwa Bank Syariah nantinya menyambut baik siapapun yang menjadi nasabah.

“Disitu jelas bahwa Bank Syariah Indonesia yang merupakan penggabungan Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah. Bank tersebut bukanlah secara khusus hanya diperuntukan untuk umat muslim saja,” ujar Dosen Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam (FAI), Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) saat dimintai tanggapan mudanews.com, Selasa (2/2/2021).

Benjamin mengatakan, masyarakat dengan agama apapun bisa menggunakan jasa Bank Syariah Indonesia (BSI). Baik nasabah yang menyimpan uangnya. Ataupun nasabah yang berniat untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan.

“Harapan kita dengan penggabungan tersebut Bank Syariah Indonesia bisa menjadi Bank Besar yang memberikan pelayanan berkelas seperti Bank Buku 4 pada umumnya,” ujar Analis Pasar Keuangan ini.

BSI
Logo BSI

Selanjutnya Presiden menyatakan Bank Syariah yang universal yang terbuka serta inklusif. Nah untuk masalah inklusif di pasar keuangan syariah. Edukasi kepada masyarakat harus bisa berjalan disitu.

“Jangan hanya terfokus pada kinerja keuangan perusahaan semata. Bank Syariah Indonesia harus bisa menjawab pentingnya menggunakan Bank Syariah, atau menjelaskan perbedaan mendasar produk maupun jasa yang diberikan oleh Bank Syariah Indonesia,” lanjutnya.

Masih banyak tudingan miring yang kerap disematkan kepada Bank Syariah. Mulai dari isu ketidaksyariahannya, atau isu yang tetap menyamakan Bank Syariah dengan Bank Konvensional.

“Karena menurut pandangan saya, selama ini masyarakat hanya melihat dari produk yang memang secara kasat mata akan sulit dibedakan antara syariah dan konvensional,” jelas dia.

Ia mengungkapkan, tetapi coba berikan penjelasan konkrit seperti penjelasan mengenai akad, legal standing sesuai syariat atau fiqih. Contoh penjelasan bagaimana akad itu penting di dalam suatu produk, sehingga akan ada sebuah pemahaman di masyarakat bahwa produk itu tidak bertentangan dengan syariah Islam.

“Akan muncul pemahaman disitu. Bukan semata-mata masyarakat menggunakan Bank Syariah hanya bicara untung dan rugi menggunakan Bank Syariah,” ujarnya.

Jadi, kata Benjamin, siapkan SDM yang mumpuni disitu. Kalau selama ini kan banyak karyawan yang direkrut Bank Syariah berasal dari Bank Konvensional.

Tidak masalah pada dasarnya, tetapi setidaknya SDM yang hadir nanti benar-benar menguasai dan kapabel dalam merepresentasikan sebuah produk mulai dar akad atau fiqih hingga ke produk jadinya. Kita berharap ada upaya mencerdaskan masyarakat disitu.

“Karena produk perbankan konvensional itu bisa dibilang simpel. Gampanganya itu begini, kalau nyimpan dikasih bunga, yang minjam dibebani bunga yang lebih besar,” ujarnya.

Benjamin menambahkan, kalau Bank Syariah tentunya pembuatan produknya tidak sesimpel itu. Begitu minjam uang saja, bisa menggunakan akad mudharabah, musyarakah, murabahah, Ijarah dan banyak lagi. Nah masyarakat butuh dijelaskan apa itu akad-akadnya. Walaupun pada akhirnya nanti secara hitungan matematikanya, ga jauh beda dengan yang konvesional.

Dibeberkannya, belum lagi bicara produk simpanannya, yang tentunya juga akan ada banyak akad disitu. Jadi siapkan SDM untuk bekerja lebih keras dalam mencerdaskan masyarakat. Nah, kalau berandai-andai mungkin tidak Indonesia nantinya tidak ada Bank Konvensional?

Menurut Benjamin, jangan ngimpi dulu, kita masih punya saudara yang beragama lain. Yang mungkin nanti beberapa jenis usahanya tidak bisa dibiayai lewat Bank Syariah.

“Dan kita harus hormati itu. Kehadiran Bank Syariah Indonesia akan memberikan kemaslahatan bagi semua masyarakat. Dan bukan dijadikan pembeda diantara masyarakat kita sendiri,” tutup Benjamin. (red)