Bitcoin Mata Uang dan Punya Underlying Emas?, Bagaimana Mungkin?

Bitcoin Mata Uang
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM, Medan – Belakangan banyak masyarakat yang bertanya ke saya terkait dengan prediksi atau kinerja harga Bitcoin kedepan. Mengingat harga 1 bitcoin saat ini sudah mencapai 22 ribu US Dolar, atau sekitar 300 jutaan mengacu kepada kurs 1 US Dolar di harga 14 ribu. Ada yang mengatakan bahwa Bitcoin ini harganya mengikuti emas, ada yang bilang ini mata uang emas, ada yang bilang ini save haven layaknya emas atau US Dolar.

Hal itu disampaikan Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin, Kamis (17/12/2020) di Medan, Sumatera Utara.

“Kalau saya mengamati pergerakan Bitcoin. Belakangan memang Bitcoin mengalami kenaikan. Kenaikan harga Bitcoin terjadi sejak maret 2020. Memang kala itu pandemic lagi mulai terjadi diseluruh belahan dunia. Tetapi banyak yang lantas menghubungkan kalau Bitcoin ini save haven. Nah lantas bagaimana penjelasannya kalau save haven sementara Bitcoin sempat terpuruk sejak awal tahun 2018 hingga November 2018 silam,” ujarnya.

Apa yang melandasi tingginya aksi jual saat itu?. Bukannya saat itu kondisi pasar keuangan juga masih adem ayem sebelum akhirnya terjadi perang dagang antara AS dengan China. “Nah, kalau dibilang bahwasanya Bitcoin ini adalah mata uang emas, atau ada underlying emasnya. Lagi-lagi saya justru menginginkan adanya rilis resmi berapa sih cadangan emas yang dijadikan underlying Bitcoin itu tadi?” ungkapnya.

“Yang saya tau dulu ada aktifitas penambangan emas di Bitcoin, namun bukan seperti penambangan emas konvensional layaknya Freeport atau Antam. Semuanya penambangan emas digital. Yang jelas tidak ada emas fisik disitu, dan sekali lagi semuanya digital. Nah bantahan selanjutnya adalah, kalau memang punya underlying emas tentunya harga Bitcoin mengikuti harga emas,” ujarnya.

Bukannya harga emas belakangan turun. Dari yang sebelumnya 2.070-an US Dolar per ons troy. Saat ini menjadi 1.800 US Dolar per ons. Jadi nilai fundamentalnya itu dimana?. Ini yang sampai sekarang saya sendiri juga belum dapat penjelasan. Kalau Bitcoin itu adalah sebuah mata uang. Nah lantas otoritas keuangannya itu dari negara mana?. Apa namanya?, dan apakah seperti Bank Sentral pada umumnya?. Dan lagi-lagi tidak ada jawaban disitu.

“Lantas kalau naik apa penyebabnya. Yang pasti harga naik karena ada banyak yang beli. Nah apa yang melandasinya. Ini yang tidak bisa dipastikan. Bitcoin sempat anjlok saat ekonomi dunia mulai dilanda perang dagang. Dan ekonomi global saat ini juga bermasalah tapi harga Bitcoin justru naik. Apakah bisa lantas dibilang Bitcoin ini save haven?” ujarnya.

Benjamin menilai Bitcoin ini hanya instrumen yang diciptakan dan kebetulan banyak peminatnya.

“Saya justru mewanti wanti jangan-jangan nanti Bitcoin bisa turun lagi tanpa musabab tertentu yang bisa dijadikan alasannya. Kalau menggunakan analisa teknikal ya tentunya bisa-bisa saja. Karena saya menilai Teknikal itu bagian dari seni dalam berinvestasi,” ujarnya.

Semua instrumen bisa di “teknikalin”, yang penting tersedia grafiknya. Tetapi apa yang melandasi pergerakan Bitcoin secara fundamental?. Nah ini yang menjadi tanda tanya besar.

“Saya menilai Bitcoin lebih bersifat instrumen spekulasi. Tidak seperti saham yang kita bisa menilai kinerja perusahaan secara fundamental seperti analisis laporan keuangannya. Jadi masyarakat harus pintar dalam membedakan mana investasi dan mana spekulasi,” tandasnya. (red)