Kerugian Banjir Medan, Materi Minimal 55 Milyar, Hingga Korban Jiwa

Kerugian Banjir Medan
Banjir di Kampung Lalang Kecamatan Medan Sunggal Kota Medan, Sumatera Utara

MUDANEWS.COM, Medan – Banjir besar di Medan memang telah kita lewati. Meskipun banjir pada masa yang akan datang masih akan memungkinkan untuk terjadai kembali.

Jika mengacu kepada data yang diungkapkan Bapak Nurly, Manajer Pusdalops-PB BPBD Kota Medan. Maka beliau mengatakan bahwa ada 2.773 rumah masyarakat, atau 1.983 KK dan 5.695 jiwa yang menjadi korban banjir.

“Mengacu kepada data tersebut, maka menghitung kerugian yang ditimbulkan pada dasarnya membutuhkan rincian data yang lebih detail. Meskipun tentunya sulit untuk mendapatkan akurasi data dengan deviasi atau error sekitar 5%,” papar Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin di Medan, Sumatera Utara, Selasa (8/12/2020).

Benjamin mengatakan, akan tetapi saya akan mencoba menghitung secara kasar, atau tidak terlalu mendetail dengan meletakan beberapa asumsi. Nah, dari 2.773 rumah 7.678 jiwa yang terdampak dari banjir tersebut. Berarti setiap rumah yang terdampak banjir itu terdiiri dari 2.76 orang. Atau kita bulatkan saja bahwa setiap rumah yang kebanjiran tersebut ada rata rata sekitar 3 orang penghuninya.

“Nah apa yang mereka butuhkan selama banjir tersebut. Katakanlah setiap orang membutuhkan bantuan sebesar 100 ribu per Hari selama banjir. Maka dibutuhkan 767,8 juta bantuan pangan bagi setiap korban banjir. Dikalikan berapa lama banjir itu merendam wilayahnya. Katakanlah 2 sampai 3 hari. Maka dibutuhkan setidaknya bantuan senilai 1.5 Milyar hingga 2.3 milyar,” imbuhnya.

Itu bantuan langsung yang dibutuhkan. Nah bagaimana dengan kerusakan baik rumah maupun isinya. Disini hitungannya tentu lebih sulit. Karena kita akan menemukan rumah dengan kerusakan ringan, sedang dan berat.

“Untuk rumah di wilayah flamboyan (tanjung selamat), ini adalah rumah dengan strata masyarakat menengah ke atas. Tentunya kerusakan rumah dan isinya akan lebih besar dibandingkan rumah masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Saya meletakan asumsi kalau rumah dibantaran sungai yang terkena banjir dan isinya, mungkin akan mengalami kerugian dalam rentang 3 hingga 15 juta. 15 juta untuk rumah non permanen yang hanyut terbawa arus sungai,” paparnya.

Menurut Benjamin, kalau rumah di pemukiman masyarakat menengah keatas. Kerusakan rumah dan isinya bisa mencapai 7 hingga 50 juta. Ada barang-barang elektronik, pakaian, perabot, kendaraan bermotor, hingga kerusakan rumah itu sendiri. Tetapi jika meletakkan dasar asumsi bahwa rata-rata kerusakan adalah 15 hingga 20 juta.

“Maka ada kerugian sekiar 41.6 milyar hingga 55.4 Milyar. Saya yakin asumsi itu adalah asumsi rata-rata paling kecil dibandingkan dengan potensi kerugian yang dihitung secara rinci jika ada nantinya. Kerugian itu masih mengacu kepada mereka yang dirugikan secara langsung,” ujarnya.

Benjamin memaparkan, pengusaha juga kebagian getahnya, baik pengusaha dari Medan ataupun dari luar medan. Ada sejumlah pengusaha yang terpaksa tutup karena banjir. Genangan air yang cukup tinggi di sejumlah wilayah kampong lalang contohnya. Saat banjir mereka menutup usahanya. Ada sekitar 750 pedagang ada di kampong lalang,” ujarnya.

Benjamin sangat yakin, perputaran uang di kampung lalang itu lebih dari 1.5 Milyar per hari nya. Tetapi asumsi paling kecil saja, omset yang hilang di pasar kampong lalang akibat banjir sekitar 750 juta per hari. Belum menghitung kerugian pengusaha yang memiliki ruko di sekitar kampong lalang. Ada banyak pengusaha disitu. Mulai toko roti, toko elektronik, pakaian, toko kelontong hingga bus antar kota. Berita Medan, red