Kasus Positif di India Mengkuatirkan, Jika Lockdwon Harga CPO Bisa Turun

Kasus Positif di India Mengkuatirkan, Jika Lockdwon Harga CPO Bisa Turun
Ilustrasi Tandan Buah Segar (TBS) Sawit. (dok. Istimewa)

MUDANEWS.COM, Medan – Lonjakan kasus positif corona di India pada tanggal 12 september silam yang mencapai 97 ribu jiwa lebih, membuat ekspektasi terkait dengan prosfek harga crude palm oil (CPO) kedepan sempat diragukan. Bahkan tren kenaikan kasus di India yang angkanya terus mencetak rekor tersebut juga sempat memperburuk harga CPO. Walaupun selama september ini harga CPO masih mampu diperdagangkan di atas 2.800 ringgit Malaysia per ton.

“Pada awal pekan ini, harga CPO berbalik menguat di level 2.892 ringgit per ton. Harga CPO dikuatirkan terpuruk saat terjadi penambahan wabah covid 19 di India. Maklum, India menjadi Negara konsumen terbesar CPO dunia yang tentunya tren konsumsi di India tersebut sangat menentukan pembentukan harga CPO di pasar,” ujar Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin di Medan, Sumatera Utara, Selasa (15/9/2020)

Akan tetapi, lanjutnya, penambahan pasien tersebut jika tidak diikuti dengan kebijakan lockdown seperti yang dilakukan sebelumnya. Maka pasar akan tetap optimis India masih akan menjadi motor konsumsi CPO global. Dan kenaikan harga CPO belakangan ini juga dimotori oleh turunnya stok CPO, ditambah dengan kenaikan harga minyak mentah dunia, meskipun masih dibawah $40 per barel.

“Nah di India sendiri, sebelumnya beredar Rumor bahwa India akan memberlakukan lockdown pada tanggal 25 september mendatang. Namun rumor tersebut sudah di tepis pemerintah yang tidak akan memberlakukan lockdown. Kabar tersebut sempat membuat pelaku pasar kuatir akan kemungkinan dampak buruk dari pemberlakuan lockdown yang dilakukan India terhadap harga komoditas,” jelasnya.

Namun, disisi lain, tren pergerakan harga mata uang Ringgit Malaysia terhadap US Dolar yang mengalami penguatan justru memberikan tekanan terhadap kinerja harga CPO. “Dalam sepekan terakhir, mata uang ringgit yang menguat dari posisi 4.17 ringgit per US Dolar menjadi kisaran  4.13 ringgit per US Dolar menahan penguatan CPO,” imbuhnya. Berita Medan, red