Independensi BI Dikebiri Dalam Draft RUU, IHSG dan Rupiah dan Melemah

Independensi BI Dikebiri Dalam Draft RUU, IHSG dan Rupiah dan Melemah
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM, Medan – Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini berbalik mengalami tekanan. IHSG melemah tipis 0.086% atau turun 6.34 poin di level 5.306,99. Padahal di sesi pembukaan IHSG sempat dibuka menguat di level 5.311,23. Disisi lain, mata uang Rupiah masih saja melemah di kisaran 14.820 per US Dolar sejauh ini. Independensi Bank Indonesia yang seperti dikebiri dalam draft RUU, membuat pelaku pasar “membuang” rupiah terlebih dahulu.

“Saya menilai RUU itu nantinya sangat potensial membuat kepercayaan pelaku pasar memudar. Dimana pelaku pasar saat ini lebih percaya kepada independensi BI dalam mengelola nilai tukar maupun kebijakan moneter secara mandiri. Yang saya kuatirkan saat ini adalah, dengan adanya RUU tersebut justru Rupiah melanjutkan pelemahan disaat kita tengah berjibaku berhadapan dengan ancaman resesi,” ujar Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin di Medan, Sumatera Utara, Kamis (3/9/2020).

Gunawan mengatakan, pelemahan Rupiah belakangan juga dipicu oleh skema burden sharing dimana pemerintah sejauh ini juga masih bergantung dalam pemenuhan anggaran dengan bersinergi bersama BI. Kebijakan apapun yang akan diambil sebaiknya juga mempertimbangkan kepercayaan pelaku pasar. Memang kita tengah berhadapan dengan ancaman resesi, dan memang pemerintah butuh anggaran untuk mempertahankan daya beli.

“Tetapi jangan sampai kebijakan lain yang diambil nantinya justru bisa memicu masalah baru pasar yang membuat Rupiah harus dikorbankan. Karena stabilitas mata uang rupiah itu penting bukan hanya dalam kondisi normal ataupun kondisi resesi seperti sekarang. Kita butuh stabilitas rupiah yang kuat agar indikator ekonomi lainnya juga bisa terjaga dengan baik,” ungkapnya.

“Yang penting sinergi antara pemerintah dan BI ini yang perlu disempurnakan, bukan kewenangan masing-masing pihak yang dirubah. Agar pelaku pasar tetap percaya bahwa pengendalian nilai tukar atau kebijakan moneter masih menggunakan prinsip ke hati-hatian yang mengedepankan keberlangsungan pembangunan dalam jangka panjang,” tandasnya. Berita Medan, red