Negeri KitaTidak Kaya
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Saya teringat kalimat B.J. Habibie ketika memberikan kata sambutan pada acara Pertemuan Nasional salah satu Partai di Negeri ini. Beliau berkata “Jangan pernah bangga dengan sumber daya alam yang banyak tapi lemah sumber daya manusianya, lihat negeri Jerman, mereka tidak memiliki sumber daya alam yang banyak tapi negerinya bisa maju, akibat apa? Karena mereka sukses mengelola sumber daya manusianya”

Kalimat BJ Habibie tersebut selalu terngiang dalam benak saya, apa yang salah dengan negeri ini? Ternyata negeri ini sibuk dengan halusinasi SDA yang selalu digembar-gemborkan di sana-sini. Iklan-iklan di TV juga acapkali menunjukkan kebanggaan akan sumber daya alam yang luas. Negeri kita memang memiliki sumber daya alam yang banyak, baik dari lautan, emas, hutan, hewan, berbagai jenis tumbuhan, minyak, dan lain sebagainya. Bahkan biji dilemparkan ditanah manapun akan menjadi tumbuhan. Istilah yang diucapkan adalah gemah lipah loh jinawi. Bahkan dengan fakta-fakta “hiperbola” seorang penulis mengatakan Indonesia adalah Atlantis yang hilang.

Benarkah sebegitunya alam kita? Benar. Bahkan sangat benar. Tapi jika dikatakan negeri ini kaya, itu bohong besar. Negeri tidak pernah kaya baik sebelum dijajah Belanda hingga penjajahan pola modern saat ini.

Mari kita analogikan apa itu kaya. Jika seorang yang kaya, memiliki rumah mewah harta yang melimpah, serta memiliki tanah berhektar-hektar, maka sudah dipastikan 3 hal akan terpenuhi yaitu : yang Pertama, keamanan rumahnya akan terjaga karena dipastikan orang kaya tersebut menyediakan jasa security, bodyguard ataupun anjing yang akan menjaga rumahnya. Yang kedua, Pendidikan anak-anak dirumah tersebut pastilah terjamin dananya, karena tidak kekurangan sedikitpun untuk membayar pendidikan anak-anak dirumah tersebut. Yang ketiga kesehatan orang dirumah itupun terjaga, jika sakit pastilah mendapatkan pelayanan terbaik. Ini saja jadi indikator negeri ini kaya.

Tapi, mari lihat realitanya. Negeri ini katanya kaya, tapi tak mampu menjamin keamanan negerinya. Baik keamanan secara eksternal berkaitan dengan pertahanan negara, bahkan jika salah satu negara maju menyerang Indonesia, negeri ini hanya bisa bertahan beberapa minggu atau hanya beberapa bulan. Juga keamanan secara internal, berkaitan dengan tindak kriminal, asusila, perlindungan anak, KDRT, narkoba, pembunuhan dan pergaulan bebas anak-anak dinegeri ini. Sudah kayakah negeri ini? Sementara keamanan negeri ini saban hari terancam?

Lalu, bagaimana dengan pendidikan. Masih sangat banyak anak-anak yang tidak bersekolah. Sekolah saat ini menjadi harga yang mahal. Bahkan fasilitas pendidikan pun tidak memadai untuk melangsungkan pembelajaran. Seakan-akan pendidikan di negeri ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang berduit. Inikah yang disebut negeri kaya?

Masalah kesehatan pun tidak pernah usai dinegeri “dongeng” ini. Masyarakat dipaksa membayar iuran BPJS tapi kadang mendapatkan pelayanan yang tidak baik ketika tidak membayar iuran perbulannya. Bukankah kesehatan adalah hak mutlak bagi rakyat? Bahkan banyak warga yang menangis ketika anggota keluarganya mengalami penyakit parah tapi tak bisa berbuat apa-apa karena biaya yang mahal. Jika negeri ini sudah kaya, harusnya kesehatan sudah terjamin bagi masyarakatnya.

Jika melihat realitanya, ternyata kalimat-kalimat negeri ini kaya hanya omong kosong para pemangku jabatan semata. Kita dipaksa menerima argumentasi-argumentasi kosong yang realitasnya menyakitkan hati.

Para pemangku jabatan hanya memikirkan perutnya sendiri dan golongannya saja, rakyat mati kelaparan, minim pendidikan pertahanan lemah tidak menjadi soal jika perut mereka kenyang. Apa yang salah dari negeri ini? Yang salah adalah mereka para pejabat yang rela menukar sumber daya alam negeri ini dengan segepok uang dan keuntungan. Papua tidur diatas emas, tapi emasnya milik Amerika, berhektar-hektar lahan tapi yang mengelola investor-investor asing, infrastruktur dimana-dimana tapi keuntungannya bukan untuk rakyat, pajak membengkak tapi kemana hasilnya?

Ternyata negeri ini tak pernah kaya, karena anak negerinya selalu merengek-rengek untuk disekolahkan, di sehatkan di jaga keamanannya, tapi sang ayah (pemerintah) seakan-akan memiliki arogansi yang tinggi dan tak peduli pada anak negeri, dan sang ibu pertiwi hanya bisa meratapi negeri dengan tangis pilu yang tiada henti. Inilah negeriku, negeri tak pernah kaya.

Penulis adalah Januari Riki Efendi

(Mahasiswa Pascasarjana UINSU Jurusan Pemikiran Politik Islam dan Pegiat Literasi)