Masa Keemasan Indonesia : RP. 6500 Terhadap Dolar
Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng.

MUDANEWS.COM

Sekilas Biografi

Tutup usia pada 83 tahun merupakan usia yang sangat tua dan anugerah luar biasa dari Tuhan bagi seorang manusia di zaman saat sekarang ini.

Rudy sapaan akrab dari nama lengkap seorang Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng. Dilahirkan di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 silam, adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Sebelumnya, B.J. Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-7, menggantikan Try Sutrisno. Lalu, B. J. Habibie menggantikan Soeharto menjadi Presiden RI ke-3, Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998.

Bapak Demokrasi

Disebut-sebut sebagai Bapak Demokrasi Republik Indonesia membuat publik pasti bertanya dan bingung mengapa beliau dijuluki sebagai Bapak Demokrasi Indonesia?

Jawabannya adalah ada 3 produk hukum bergenre DEMOKRASI yang lahir disaat beliau memimpin negeri ini, demi mewujudkan demokratisasi Bangsa Indonesia.

Benar memang beliau lah yang pertama kali membentuk Wajah Demokrasi Negeri ini. Beliau mengubah wajah negeri yang awalnya diorde baru berwajah otoritarianisasi menjadi Demokratisasi saat orde reformasi awal beliau memimpin negeri ini.

Menurut penulis, jika beliau tak kuat dalam mengayuh perasaan dan komitmennya untuk berbakti pada negeri ini, mungkin beliau tidak akan berani melahirkan produk hukum yang tegas dan menjadi falsafah bangsa dalam melaksanakan tekhnis kenegaraan sampai saat ini.

Berikut ini penulis uraikan tiga undang-undang yang membentuk wajah demokrasi di Indonesia, yaitu :
1. UU No. 2 tahun 1999 tentang Partai Politik

2. UU No. 3 tahun 1999 tentang Pemilu

3. UU No. 4 tahun 1999 tentang Susunan Kedudukan DPR/MPR.

Dan juga Menetapkan 12 Ketetapan MPR dan ada 4 ketetapan yang mencerminkan jawaban dari tuntutan reformasi (demokrasi) yaitu :

1. Tap MPR No. VIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap No. IV/MPR/1983 tentang Referendum.

2. Tap MPR No. XVIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No. II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai asas tunggal.

3. Tap MPR No. XII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No. V/MPR/1978 tentang Presiden mendapat mandat dari MPR untuk memiliki hak-hak dan Kebijakan di luar batas perundang-undangan.

4. Tap MPR No. XIII/MPR/1998, tentang Pembatasan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden maksimal hanya dua kali periode.

Demokrasi & Pesawat warisan Habibie

Habibie menganggap bangsa Indonesia harus merdeka atau bahasa beliau independent mind or idea on progress. Dilahirkan dari keluarga yang terbiasa dengan budaya yang ramah tamah dan agamis yang sering disebut-sebutnya sebagai manifestasi dari nilai-nilai pancasila. Sama seperti halnya kebudayaan di Indonesia ialah kebudayaan yang berdasarkan Pancasila.

Ada dua hal yang dikandung dalam pancasila yaitu pluralisme dan teosentrisme.
Dan demokrasi terletak dalam partisipasi seluruh warga negara dalam kebudayaan.
Apakah kebudayaan itu? Secara mudah kebudayaan adalah nilai dan simbol.
Dari Habibie lah kita belajar bahwa bangsa Indonesia beragam akan kebudayaan. Ini tunjukkan dari diri beliau sendiri sebagai Presiden Pertama yang berasal dari luar pulau jawa yang merupakan dari pulau sulawesi etnis gorontalo walau ibunya merupakan etnis jawa.

Sikap pluralisme yang ditunjukkan Habibie tercermin pada saat ia menerima amanah kekuasaan sebagai Presiden RI disaat kondisi negara sedang pecah dan hangat ditambah lagi pada saat itu ada dominasi kesukuan yang kental antar masyarakat salah satunya jawa dan lalu anjloknya angka nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga menyentuh angka 10.000-15.000 yang mengakibatkan Indonesia pada tahun 1998-1999 ditandai dengan tahun atau masa krisis moneter atau depresi ekonomi secara deras.

Tapi hal itu ditangani oleh Habibie dengan sikap yang bijak dan santai hingga pada suatu kebijakan yang hebat menurut penulis bahwa beliau mampu menstabilkan kembali nilai rupiah ke angka 6.500 diakhir jabatannya yang sampai saat ini tidak mampu diwujudkan lagi oleh presiden – presiden setelah Habibie. Menurut Penulis itu merupakan prestasi yang sangat membanggakan, karena melihat latar belakang beliau yang merupakan ilmuan teknologi bukan ekonom, tetapi beliau mampu mengambil kebijakan yang sangat tepat dan mencengangkan publik Indonesia saat itu hingga kini.

Sebelum menjadi Presiden RI terhitung 3 periode beruturut-turut beliau diamanahkan menjadi Menristek dari tahun 1978-1998. Beliau berhasil menuntaskan amanah yang diembannya dengan lahirnya Pesawat 250 dengan nama Gatot Kaca yang diciptakannya langsung dari tangan dinginnya tersebut.

Beliau berhasil membuat Indonesia bangga dan mencengangkan dunia kala itu.
Bagaimana tidak? Indonesia saat itu dikenal sebagai bangsa biasa-biasa saja, ternyata tiba-tiba ada tokoh atau putera bangsa yang sangat jenius dan mampu menciptakan alat transportasi yang masih sangat langka dan sedikit negara yang mampu membuatnya, Indonesia tampil sebagai negara yang sangat diperhitungkan kalau itu lewat prestasi yang diukir dan dipersembahkan Habibie hanya untuk Republiknya tercinta.

Habibie telah tiada

Kiprah demi kiprah telah beliau torehkan dan berikan kepada negeri ini.
Walau hanya terhitung lebih kurang 11 bulan memimpin bangsa ini, tetapi jasa-jasanya hampir disegala bidang dan disisi kehidupan berbangsa bernegara telah beliau ukir dan berikan untuk Indonesia, baik bidang pendidikan, teknologi, ekonomi, sosial, politik bahkan urusan cinta sejati beliau mampu menjadi teladan bagi anak-anak bangsa dan khususnya para millenial saat ini.

Selamat jalan eyang, semoga engkau tenang disurganya Allah dan bertemu dengan eyang ainun disana, Amin.

Penulis: Muhammad Najib (Kader HMI Cabang Medan)