Sekarang? Jangan Sampai Seks Lebih Mendamaikan Dibanding Agama
Arwan Syahputra

MUDANEWS.COM, Sumatera Utara – Entah Iblis semacam apa lagi yang merasuki bangsa ini, yang kerap kali bersifat tempramen, terganggu, bahkan terusik, bahkan perkataan yang tidak disengaja saja bisa menimbulkan kericuhan bangsa, apalagi yang di setting dan direncanakan?.

Soal agama memang menjadi sensitifitas bagi tiap-tiap pemeluknya, yang menjaga, mempertahankan, serta membela, namun hal demikian dilakukan harus punya dasar dan bukti yang kuat, bukannya malah bersifat lebay hanya tak ingin dianggap abai, namun sejatinya kaum luar malah terbahak melihat kecekcokan bangsa ini, yang tiap pemeluknya merasa tak nyaman disalahi, padahal goalsnya bukan untuk menyalahkan namun hanya sebatas menuangkan ajaran pada kalangannya saja, tapi malah dibagikan, dipropagandakan oleh oknum yang berambisi kuat, hingga akhirnya timbullah perdebatan, yang dianggapkan dakwah-dakwah yang beredar itu sebuah penistaan.

Padahal sudah jelas perintah sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” Yang esensinya berikan keluasaan bagi bangsa, untuk memilih dan menjalankan agama (Juga Dikuatkan dengan Pasal 28E ayat (2)  UUD 1945 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan). Dengan hal itu, tampak begitu jelas adanya kebebasan berekspresi sesuai agama dan kepercayaan.

Pertanyaan kecil selalu telintas di kepala kita, Mengapa manusia yang notabenenya beriman (ber-agama) dewasa ini kerap kali berselisih paham?, bahkan sampai kecam-kecaman?

Harusnya agama jadi sumbu perdamaian internalnya, bahkan eksternal agama itu sendiri, karena tiap tiap-tiapnya mengajarkan betapa pentingnya kerukunan.

Lain hal, saat beribadah pun tidak bisa, statemen menjatuhkan agama sudah terbuka, maka yang ini sudah jelas dapat ditindak, dan dianggap sebagai Penista.

Kenapa harus atas nama agama?
Itulah yang membuat kepala kita pusing 7 keliling, Agama yang terlalu sakral dibenturkan.

Eh malah dewasa ini, seks lebih mendamaikan dari pada agama?
Coba kita perhatikan guyonan orang via grup-grup whatsapp, emo/stiker tak jarang yang berbau “seksi” dipamer pamerkan, seolah seks adalah obat saat grup mulai sepi dan garing, peramai, bahkan pendamai.

Setiap manusiapun butuh seks, dan sangat menyukainya, dari muda sampai tua.
Tapi tahukah kita bahwa seks yang baik juga diajarkan oleh Agama?
Memang agama lah yang menjadi pusat, harusnya manusia ber-agama lebih terasa damai, dan lebih seksi dalam berbhineka, dibanding seks itu sendiri.

Jika pada akhirnya, seks adalah bahan penenang setiap kalangan, maka agama lebih punya hak dibandingnya, karena seks itu pun adalah produk agama.

Jadi yang pada intinya, jangan sampai seks sebagai puncak dan lebih di imani, dibanding agama itu sendiri, jangan sampai seks lebih mendamaikan dari agama yang sudah jelas sumber kepercayaan.

Ditulis oleh Arwan Syahputra
Aktivis Kabupaten Batu Bara