Cerpen Sang Pencetak Rekor Demokrasi
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Selepas shalat Maghrib berjamaah di Masjid desaku yang tercinta, Pak Muksin yang selalu menjadi Imam shalat, langsung bertakbir menandakan Ramadhan tahun ini telah usai. Kami para jamaah tentu saja menyambut dengan ucapan takbir dengan penuh gembira.

“Alhamdulillah, puasa Ramadhan telah habis. Semoga amal ibadah selama di bulan suci Ramadhan diterima oleh Allah. Akhirnya aku dapat merayakan Idul Fitri di kampungku tercinta bersama keluarga tercinta pula.” Ucapku dalam hati dengan penuh syukur.

Suara takbir yang menyenangkan hati dan pikiranku terus menggema di dalam masjid dan mengalir ke seluruh telinga warga desaku lewat suara pengeras adzan. Terdengar beberapa suara anak-anak ikut menyambut dari luar masjid.

Kali ini aku baru merasakan kenikmatan suara takbir yang diucapkan secara bersama-sama. Beberapa waktu lalu, di kota tempat aku menimba ilmu, aku juga tak sengaja mendengar teriakan-teriakan takbir di jalan, tapi entah kenapa suara takbir itu tidak mampu masuk ke dalam telinga hatiku.

Setelah takbir bersama-sama, Pak Muksin melanjutkan dengan bacaan-bacaan seperti biasanya, membaca doa, kemudian salaman bercampur dengan senyuman yang amat gembira.

“Kau baru sampai, Angga?” Tanya Pak Muksin padaku. Ia sering memanggilku dengan sebutan Angga. Padahal, orang-orang memanggilku dengan sebutan Rangga. Ah, mungkin ia lebih suka dengan sebutan itu. Dan sejak aku masih kecil hingga aku sekarang sudah kuliah, sebutannya tidak pernah berubah.

“Iya, Ustad. Baru sampe tadi sore.” Aku sering memanggilnya Ustad, karena ia pernah mengajar di salah satu Pondok Pesantren yang ada di Kecamatan kami.

“Kau langsung pulang ke rumah setelah ini?”

“Hmmm…” Aku tidak langsung menjawab. Aku tahu apa maksud pertanyaannya itu. Ia pasti mengajakku ngobrol seperti biasa kami dulu melakukannya.

“Ada waktu ngobrol-ngobrol bentar. Kita sudah dua tahun tidak bertemu.”

“Bisa, Stad. Aku jiga ingin ngobrol-ngobrol dengan Ustad.” Untung saja tadi waktu berbuka puasa aku sempat makan roti yang lumayan banyak.

Tapi, ada yang tak bisa kutahan. Aku cepat-cepat permisi, aku akan menunggunya di luar, “Ustad, aku tunggu di luar. Ustad masih mau shalat sunnah kan? Aku udah gak tahan.” Kataku sambil menaikkan dua jariku ke bibir.

“Ooo…haha…” Ia tertawa paham.

Aku keluar menuju teras masjid kami yang sederhana. Di bangun dengan kekuatan dana dari warga desaku sendiri. Bantuan pemerintah belum pernah singgah di masjid kami. Saat menuju ke luar, aku rogoh kantong jaketku, akhirnya aku menemukan beberapa batang rokok di sana yang tak sempat kuhabiskan saat sahur di jalan menuju tempat kelahirannku. Kutarik satu batang dan yang lainnya kubiarkan bersembunyi dalam kantong jaketku.

Kucari-cari tempat duduk, oh…, di ujung sebelah kanan teras masjid masih seperti biasa, masih ada bangku. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan dua tahun lalu, hanya kursinya sudah mulai buruk di makan usia dan suhu musim.

Kuangkat dua kursi dan mejanya masih bisa dipakai walau warnanya sudah kusam, benar-benar kusam. Saat aku menata tempat duduk, seorang Kakek tua menghampiriku, “Kau si Rangga, Kan?”

“Iya, Kek.”

“Hahaha…, pas.” Katanya dengan riang. “Kau mau duduk di sini sama si Muksin, kan?

“Iya, Kek.” Jawabku dengan suara agak keras supaya ia mendengarnya.

Seorang Kakek tua itu tidak sulit untuk mengenaliku. Ia pasti ingat apa yang sering kami lakukan dulu setelah shalat Maghrib bersama anaknya, Ustad Muksin. Kakek itu tidak bertanya lagi, ia langsung pergi sambil tertawa lagi ala tawa kakek-kakek.

“Dia terus menyebut namamu kalau ada orang yang duduk di situ setelah shalat.” Kata seorang Bapak-bapak padaku, kemudian ia pergi tanpa kata basa-basi.

“Ooo…” kujawab dengan terharu.

Aku duduk santai menunggu Ustad Muksin. Kuhidupkan rokokku. Kunikmati dengan penuh rasa. Satu hari tidak merokok, itu sangat sulit untuk ditinggalkan. Tapi, demi ibadah, suatu kenyamanan nisbi harus ditinggalkan, hingga kenyamanan sejati mendarah daging dalam kebiasaan diri pribadi.

Tak berapa lama aku dalam ingatanku dua tahun lalu ditempat yang sama, Ustad Muksin langsung duduk di sampingku. Ia langsung menyodorkan teh manis yang mulai dingin. Teh manis itu ia bagi dari cangkir besar yang menjadi temannya sebelum memukul bedug atau ketika sudah dapat waktu berbuka puasa. Ah, kejadian itu tambah mengingatkanku pada masa-masa dulu.

“Kau lama di sini?” Ustad Muksin bertanya kemudian menghidupkan rokoknya.

“Lebaran kelima aku harus pulang, Ustad.”

“Kenapa cepat sekali?”

“Ada kegiatan organisasi yang sudah dijadwalkan di sana.”

“Ooo…” Ia tidak memperpanjang lagi tentang pembicaraan apa aktivitasku di organisasi yang sedang kugeluti. Dia sudah paham terkait itu. Sudah lama aku menceritakan tentang organisasiku padanya. “Bagaimana keadaan di sana?” Ia lanjut bertanya.

“Maksud Ustad, keadaan apa?” Kumulai meminum segelas teh manis pemberian Ustad Muksin.

“Keadaan di sana setelah Pemilu?”

“Aku kurang mengikuti, Ustad.” Jawabku dengan tidak berselera tentang politik.

“Walau bagaimanapun, kita harus mengetahui perkembangan.” Katanya sambil kemudian menghisap rokoknya yang terjepit di antara jari telunjut dan jari tengahnya.

Jujur kukatakan, aku sangat salut dengan Ustad Muksin. Walau tinggal di desa yang cukup terpencil, tapi mata, pendengaran, dan pikirannya terus mengikuti berita-berita keadaan Indonesia ini. Mulai dari aspek pendidikan, ekonomi, budaya, hukum dan politik. Ia aktif mendengar berita setiap malam, nonton i el ce yang dikomandoi Bang Karny Ilyas. Setiap mahasiswa di desaku, atau siapapun yang menurutnya memiliki wawasan, sering dijadikannya sumur informasi.

Satu hal lagi yang membuatku salut padanya. Walau ia tinggal di desa, tapi koleksi bukunya sangat banyak di bandingkan koleksi bukuku yang hampir dua ribu. Sejak kecil aku sering nongkrong dan nginap di perpustakaan pribadinya. Mudah-mudahan harta termewah itu ia wariskan padaku jikalau ia pulang ke kampung halaman yang sebenarnya.

“Hanya beberapa perkembangan yang kuikuti, Ustad.” Jawabku seadanya.

“Hasil Pilpres bagaimana?”

“Ustad pasti sudah mengetahui siapa yang menang dari tivi.”

“Ya, aku sudah mendengarnya. Menurutmu bagaimana itu?”

“Apanya yang bagaimana, Ustad? Aku tidak terlalu memikirkannya, Ustad.”

“Hahaha… Maksudku bukan terkait kerusuhan atau polemik yang ada. Bukan juga terkait adanya gerakan yang menolak hasil yang diumumkan oleh ka pe u.”

“Terus maksud Ustad bagian mananya?” Aku balik tanya karena ingin tahu maksudnya.

“Ada satu hal yang sangat menarik untuk disoroti. Aku yakin baru pertama ini terjadi dalam sejarah demokrasi di dunia. Dan itu hanya ada di negara kita, Indonesia.” Katanya menjelaskan dengan kepulan asap rokok yang pelan-pelan keluar dari mulutnya.

“Maksud Ustad?” Aku semakin penasaran.

“Sepanjang sejarah demokrasi di dunia ini, yang kuketahui ya, baru ini ada orang yang mencetak rekor demokrasi. Yang setiap ajang pemilihan eksekutif, seseorang tersebut selalu menang. Belum pernah ada satu pun terjadi di negara-negara demokrasi, kecuali di negara kita ini.” Dengan sangat serius ia berbicara.

“Aku semakin bingung dan juga semakin penasaran dengan maksud pembicaraan Ustad.” Kataku menanggapi.

”Sang Pencetak Rekor Demokrasi, Angga.” Ia mendekatkan wajahnya padaku dengan menekan suaranya.

Aku diam tidak menanggapi. Ia jauhkan wajahnya dariku. Kuhisap rokokku yang sudah mulai habis ditelan api. Sambil menghisap rokok, aku menunggu penjelasannya lagi.
“Ini baru pertama kali, Angga. Setiap ia ikut ajang pemilu eksekutif, ia terus terpilih. Ia terus menang, dan selalu disukai rakyat.” Katanya.

“Jokowi?” Tanyaku.

“Iya. Suaramu jangan keras-keras bilang Jokowi. Di kampung kita ini banyak yang tidak suka pada Sang Pencetak Rekor Demokrasi itu karena kesalahpahaman mereka terhadapnya.” Ia dekatkan lagi wajahnya dengan suara tertekan rendah, agar tidak didengar orang banyak, atau siapa pun yang lewat.

Aku kembali diam menatap wajahnya yang mulai terlihat keriput. Garis-garis di sudut mulutnya sudah mulai nampak. Kulit wajahnya mulai terlihat kendor, tidak lagi sekencang dua tahun lalu. Ia jauhkan lagi wajahnya kemudian menyeruput tehnya. Kuhisap rokokku yang apinya sudah membakar filter rokok. Kuhisap untuk terakhir kemudian kubuang sembarangan ke luar.

“Kenapa Ustad katakan dia pencetak rekor demokrasi?”

“Jelas. Coba kau lihat prestasinya atau kemenangannya dari pemihan Walikota Solo, dua periode ia dipercayakan oleh masyarakat Solo. Setelah dari Solo, ia menang lagi pada saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Kemudian ia mencalonkan jadi Presiden tahun 2014, ia menang. Dan sekarang, berdasarkan pengumuman dari ka pe u, ia menang tooh.” Ia jelaskan dengan intonasi suara rendah.

Dalam pikiran, aku mengaminkan kata-katanya. Aku pun kembali salut padanya, ia masih sempat mencatat sejarah kemenangan Sang Pencetak Rekor Demokrasi itu. Aku aja seorang mahasiswa tidak sampai berpikir ke sana. Gila dan luar biasa sekali pengamatan Si Ustad itu.

“Jadi, waktu pemilihan presiden kemarin, Ustad milih Sang Pencetak Rekor Demokrasi itu?” Aku masuk ke privasi politiknya.

Ia dekatkan lagi wajahnya padaku, kemudian berkata pelan, “Pilihanku di 2014 tidak berubah di 2019 ini.”

“Memilih Sang Pencetak Rekor Demokrasi itu?”

Ustad Muksin menaik-turunkan kepalanya, “Aku dan rakyat ikut membantu Sang Pencetak Rekor Demokrasi itu.”

“Jadi apa yang didapatkan dari membantunya, Ustad?”

“Karena rakyat telah membantunya, memilihnya dan mempercayakannya sebagai pemimpin negara ini, mudah-mudahan ia akan ingat pada kita sebagai rakyat yang kesusahan.”

“Kalau dia tidak mengingat dan tidak peduli pada rakyat susah, bagaimana Ustad?”

“Insya Allah ia akan selalu ingat dan peduli.” Ia kemudian menjauhkan wajahnya dariku. Ia seruput lagi tehnya yang sudah dingin, kemudian berkata sambil memandangiku dengan amat serius, “Membantu rakyat susah sudah menjadi hobinya sejak dulu. Karena itulah ia terus mendapatkan kepercayaan dari rakyat dan ia menjadi Sang Pencetak Rekor Demokrasi yang tidak pernah dialami oleh siapa pun sepanjang perjalan sejarah demokrasi di dunia sampai saat ini.”

Kuraih gelasku untuk lari dari tatapan seriusnya. Kurogoh lagi sebatang rokok dari katong jaketku. Kunikmati hisapan demi hisapan yang berpadu dengan manisnya teh dan begitu berartinya celotehan wawasan dan ilmu pengetahuan dari Ustad Muksin.

Semoga Sang Pencetak Rekor Demokrasi itu mengingat dan selalu peduli pada orang-orang yang membantunya mencatatkan Rekor Demokrasi sepajang sejarah demokrasi di Indonesia secara khususnya dan demokrasi di seluruh dunia secara umumnya.[]

Cerpen: Ibnu Arsib

*Penulis adalah Instruktur HMI dan Penggiat Literasi di Kota Medan.