Gagal Nikah
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Beberapa tahun ke belakang, saya sering dihadapkan pada sebuah harapan yang tak pernah sampai, kisah yang sudah dibicarakan cuma sampai pada tahap rencana. Beberapa kali selalu gagal dalam perjalanan menuju pelaminan. Ya, saya yakin ini takdir, karena perihal jodoh memang sudah ditentukan, bahkan sebelum manusia dilahirkan. Namun, ada hal-hal yang saya mau ceritakan atau mungkin bisa diambil pelajaran. Atau ini hanya dianggap sebagai curhatan pun tak apa.

Sesuka apapun dan sesiap apapun kita menuju jalan pernikahan, beberapa memang harus menemui jalan buntu. Mendapatkan pedih perih karena kenyataan menampar dengan keras, membuat sadar. Jika harapan memiliki masih berupa mimpi. Membuat bertanya “kenapa harus seperti ini ceritanya? Kenapa harus seperih ini akhirnya?” padahal niat baik sudah ada, tapi kenapa berakhir luka.

Tak ada yang benar-benar kuat memang, selain kisahnya seorang Salman Al Farisi RA. Yang berniat meminang, namun sang perempuan justru lebih memilih Abu Darda sebagai suaminya. Ini memang lebih pedih, karena sudah 99% akan meminang. Tapi kenyataan memang tak sejalan dengan harapan.

Terkadang, butuh waktu lama untuk benar-benar bisa sembuh, tetap berdoa dan usaha. Mencoba sabar meski harus dipaksa lumpuh dan jatuh. Memang, melupakan nyatanya tak semudah itu bisa dilakukan. Hanya sampai pada memaafkan.

Ada saja hal-hal yang membuat memisahkan. Kadang, perasaan tiba-tiba hilang, entah karena apa. Tiba-tiba perasaan suka berubah menjadi benci, dilepas begitu saja padahal sebelumnya sudah berencana. Atau tiba-tiba mantannya datang ke rumah, meminta pada orang tuanya dan langsung diterima. Saya jarang mendapat kisah dipisahkan karena perselingkuhan.

Ada juga yang tiba-tiba saja dijodohkan oleh orang tuanya. Sang wanita tak bisa berbuat apa-apa, pasrah karena memang harus patuh pada orang tua. Malah sebulan lagi saya mau menikahi, namun tiba-tiba ada seorang lain yang tiba-tiba saja datang untuk meminang dan menawarkan seminggu akan langsung menikahi. Lagi-lagi, saya yang rela untuk terluka pada tahapan rencana.

Introspeksi sering kali terjadi, dan memang harus dilalukan. Namun, berkali-kali hal yang sama kerap terjadi. Saya kadang berpikir, apa tak ada jodoh untuk saya di dunia? Pikiran itu kadang hadir pada keadaan yang benar-benar merapuhkan.

Tapi paling tidak, usaha sudah ada, berdoa pun sudah. Sekeras apapun perasaan ingin dibuktikan dengan pernikahan. Tapi, jika memang belum saatnya. Lalu mau apa?

Untuk yang pernah atau sedang dalam keadaan pedih karena gagal menikah. Dimohon kesabaran dan keikhlasan yang lebih, memang pedih. Tapi, dunia tak berhenti hanya karena seorang yang kau cintai justru harus orang lain yang nikahi. Tetaplah tegap dan tatap siapa yang akan datang selanjutnya. Tuhan sudah menyiapkan seorang yang terbaik, yang akan menemanimu dalam suka maupun duka, sampai maut yang akan memisahkan selanjutnya.

Manusia memang memiliki jalan cerita yang berbeda, untuk sampai pada tujuan hidupnya.

2019

Penulis adalah Dede Humaedi