Sekilas Tentang
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Apa sih arti dari honorer? Menurut kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI honorer diartikan sebagai: bersifat kehormatan atau bersifat menerima honorarium (bukan gaji tetap) : guru atau pegawai. Honor atau honorarium berati upah yang diterima setelah melakukan pertunjukan atau pekerjaan.

Menjadi honorer tidaklah mudah di zaman sekarang, karena banyaknya persaingan, minat menjadi honorer lebih dipandang sebagai suatu pekerjaan yang bisa menghasilkan. Iya, jika berlanjut menjadi PNS. Jika tidak? Upah honorer yang saya alami awal pertama kerja dikisiran 210.000 rupiah perbulan, jika dihitung-hitung (maaf) mending menjadi tukang kuli bangunan, atau tukang cangkul di sawah.

Bisa dibayangkan untuk membiayai diri sendiri saja tidak cukup. Untungnya, saya masih tinggal bersama orang tua. Dan memang ini kemauan mereka, jadi tidak begitu terasa kekurangan yang terasa memberatkan. Karena makan masih di rumah orang tua. Saya membayangkan mereka yang sudah menikah sedang upah perbulan dikisaran 300 ribuan. Apa itu cukup?

Kalo melihat nominal tentu saja tidak akan cukup untuk memenuhi resiko dapur. Tapi, kita kembalikan kepada pemilik semesta. Pasti ada saja rejekinya. Banyak orang bilang, lah kenapa khawatir, rejeki kan sudah diatur. Iya iya, saya tahu ko. Yang saya mau ceritakan di sini bukan itu.

Waktu kerja kita sama dengan PNS atau bisa jadi lebih banyak. Yang saya perhatikan sekarang para PNS Pendidikan masing-masing sudah memiliki mobil, gaji yang bisa dikatakan “wah”. Gaji utama PNS dikisaran 3 jutaan, belum lagi kalo sudah sertifikasi gajinya bisa mencapai kisaran 7 jutaan perbulan, tergantung golongan. Sedangkan honorer, mereka rela berjuang meski gaji yang diterima tak seberapa. Malah kadang, jadwal mengajar honorer lebih padat dibanding mereka yang sudah PNS. Malas sedikit ditegur pimpinan, ngeluh sedikit diancam dikeluarkan. Sakit malah kadang dicurigai sedang males-malesan.

Jadi saya mengeluh dan tidak bersyukur diberikan nasib menjadi honorer? Kadang iya, saya mengeluh. Ada saat saya merasakan keluhan. Tapi kadang saya juga bersyukur bisa mengamalkan ilmu meski seadanya. Apalagi jika ada murid yang telah sukses dalam hidupnya dan mengucapkan terima kasih.

Untuk honorer di daerah saya cukup padat, keluaran SMA pun berlomba-lomba untuk bisa bekerja di instansi pendidikan. Apalagi keluarga yang punya yayasan, atau salah satu keluarganya yang menjadi pimpinan. Kadang, mereka bekerja dulu sambil kuliah. Tak jarang ada yang sampai memebeli ijazah demi tuntutan syarat bekerja. Ada yang gaji dari mengajar dipakai buat biaya kuliah.

Tuntutan dan tanggung jawab honorer pun semakin ke sini semakin besar. Dari mulai sistem penilaian yang dibilang cukup rumit, juga menghadapi kualitas adab anak milenial yang semakin hari semakin menurun. Memang tidak semuanya, tapi kita sering melihat berita guru yang dilaporkan orang tua, atau malah guru yang dihajar oleh muridnya sendiri sampai meninggal dunia.

Saya merasakan sendiri bagaimana sikap dan akhlak anak-anak zaman sekarang, mereka dilindungi oleh komnas perlindungan anak. Dinasehati baik-baik kadang malah balik ngegass, dibiarkan malah makin ngelunjak, ditegasin malah kadang harus berurusan dengan orang tuanya. Ngamuk-ngamuk datang ke sekolah karena tak terima anaknya dijewer. Atau beberapa kasus yang pernah saya cermati anak-anak berani memaki gurunya di sosial media. Karena tak terima dinasehati.

Menjadi honorer gampang-gampang sulit memang, apalagi dibarengi dengan tuntutan kuliah. Seharusnya mungkin tidak boleh, tapi faktanya banyak yang mengajar sambil kuliah. Belum tuntutan tugas kuliah, belum lagi mengurus perkerjaan di sekolah. Belum rumah tangga, jika sudah menikah. Ribet? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung cara seorang menjalankan dan menikmati hidupnya.

Ikhlas memang berada di lever paling atas dalam menapaki liku-liku kehidupan.

Sekian.

Ditulis oleh Dede Humaedi seorang honorer muda yang belum nikah juga.