'Sekolah Jihad'
Penulis saat bersama Bang Zakhir.

MUDANEWS.COM – Saat berkesempatan duduk bareng sambil berbincang santai, beberapa malam lalu di Kalibata City Jakarta, penulis dan H Muzakhir Rida serta Ramadhan S Meliala, berdiskusi ringan seputar makna madrasah jihad di sekolah jihad.

Dan Bang Zakhir pun mengisahkan pengalamannya mendapatkan wejangan, dimana saat beberapa belas tahun silam, dalam obrolan singkatnya bersama Ustaz Jaffar Umar Thalib yang dikenal sebagai Panglima Laskar Jihad itu, memberikan tausyiah singkat kepada Bang Zakhir tentang “Madrasah Jihad” di “Sekolah Jihad”.

“Ada beberapa mutiara hikmah yang muncul dan nenurut Ustaz Ja’far Umar Thalib, bahwa, Madarasah Jihad itu ada 4 tingkatan,” ungkap Bang Zakhir.

*Tingkatan Pertama, Jihad melawan kebodohan.* Jihad ini harus membuat ummat Islam bebas buta huruf dan harus belajar matematika, fisika, kimia dan semua ilmu-ilmu.

“Sesuai dengan perintah Nabi Muhammad SAW, “Tuntutlah ilmu dari sejak masa di buaian hingga ke liang lahat”. Dari istimbat hukumnya, ummat Islam wajib hukumnya menuntut ilmu, dan pahala dari ilmu yang kita berikan kepada orang lain, akan mengalir terus, walaupun kita sudah wafat,” jelas Bang Zakhir.

Dan hal itu kata Bang Zakhir, akan menjadi pertimbangan di Hari Penghakiman, termasuk siswa, pelajar dan setiap orang yang mendirikan sekolah, madrasah, pesantren dan universitas.

*Selanjutnya pada tingkatan kedua. Jihad melawan kemalasan dan kebakhilan.* Jihad ini adalah melawan akhlak yang bakhil dan jahil. Disinilah ummat Islam harus merubah akhlaknya, dari malas menjadi rajin serta mampu menjadi seorang amanah dalam menjaga kepercayaan dengan berbicara benar, kreatif, memberikan solusi pemberani, berkerja keras, sabar, tidak tamak dan boros serta juga tidak pelit.

Baca juga: http://mudanews.com/politik/2018/10/22/h-muzakhir-rida-amanah-dan-kerja-nyata-untuk-rakyat/

“Disisi lain, harus ringan tangan dengan menunjukkan empathy berupa kepedulian menolong orang. Dan inilah Jihad yang paling besar, karena jihad ini adalah melawan nafsu. Dengan jihad memperbaiki akhlak, merupakan pelatihan khusus dengan berpuasa di bulan Ramadan, dan oleh Rasulullah SAW ini disebut juga Jihad Akbar,” terang Bang Zakhir.

*Sedangkan pada tingkatan ketiga, Jihad dengan nyawa dan harta,* sama halnya berjihad dengan fisik maupun harta, baik di medan peperangan fisik dan mental .

”Ummat Islam harus dipersiapkan secara utuh untuk berperang melawan penjajahan dan kezaliman terhadap bangsa dan negaranya. Sebab bagi muslimin dan muslimat, menjadi kewajiban untuk bela negara, bela agama, bela warga bela keluarga dari kezaliman dan kemusnahan,” ucap Bang Zakhir.

Baca juga: http://mudanews.com/politik/2018/10/24/h-muzakhir-rida-amanah-dan-kerja-nyata-untuk-rakyat-bagian-ii/

Bang Zakhir pun menyebutkan, dengan melakukan perbuatan membela yang benar dan tegaknya keadilan, bukanlah fardhu kifayah, namun menjadi fardhu ‘ain. Karena keharusan untuk terlibat langsung, walaupun hanya sekedar menyumbang satu sen, karena dengan melakukan jihad ini, adalah termasuk jihad bagi upaya boikot orang-orang yang mendanai perang terhadap Islam.

*Sementara tingkatan keempat, adalah berjihad melawan musuh kasat mata.* Disinilah ummat Islam harus belajar bagaimana membongkar sebuah konspirasi. Dengan mencari tahu musuh yang sebenarnya, bertarung melawan framing dan fitnah.

“Berjihad pada posisi ini, menuntut kita harus mampu mengetahui tentang seorang bodoh yang di dandani sedemikian rupa untuk menjadi pemimpin, tapi sebenarnya hanya menjadi boneka kepentingan penjajah,” ujar Bang Zakhir.

Dengan mengetahui orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai ulama, namun menjual aqidah, dan mengetahui orang yang berkhotbah di mimbar agama tapi ia adalah pengumpul harta dari penipuannya terhadap jelata.

“Apalagi mengetahui upaya-upaya adu domba di balik hujjah-hujjah yang patriotis. Maka jihad ini bukan sekedar mengasah nalar dan ketajaman feeling belaka, akan tetapi menjadi upaya jihad dengan membangun sistem informasi dan dakwah,” kata Bang Zakhir.

Setelah tausyiah itu, Bang Zakhir pun berpisah dengan Ustaz Ja’far Umar Thalib dan tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang.

“Semoga Ustaz Jaffar Umar Thalib selalu berada dalam lindungan dan limpahan rahmat Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal A’lamin, seraya berserah diri pada Allah Yang Maha Mengetahui untuk menyampaikan kisah ini,” pungkas Bang Zakhir.

Penulis adalah Maulana Maududi merupakan Wakil Sekretaris Jendral Jaringan Masyarakat Madani (Wasekjend JAMI)